Berita Duka: Sang Penyelamat Orangutan Kalimantan, Biruté Galdikas Tutup Usia di Umur 79 Tahun
Jum'at, 27 Maret 2026 - 16:11 WIB
loading...
Potret kenangan Biruté Galdikas, primatolog legendaris yang menghabiskan lima dekade hidupnya di belantara Kalimantan demi meneliti dan menyelamatkan populasi orangutan dari ancaman kepunahan. Foto: ist
A
A
A
KALIMANTAN - Dunia konservasi global berduka kehilangan salah satu pahlawan terbesarnya. Biruté Mary Galdikas, ilmuwan asal Kanada yang mengabdikan seluruh napas dan hidupnya selama lima dekade di belantara Kalimantan demi meneliti dan menyelamatkan orangutan, telah mengembuskan napas terakhirnya di usia 79 tahun.
Sang legenda berpulang di Los Angeles pada Selasa dini hari akibat kanker paru-paru, dikelilingi oleh keluarga dan orang-orang tercintanya.
Kepergiannya menandai berakhirnya era "Trimates"—trio primatolog wanita perintis bentukan paleoantropolog Louis Leakey—menyusul kepergian Jane Goodall (peneliti simpanse) dan mendiang Diane Fossey (peneliti gorila yang tewas dibunuh pemburu liar di Rwanda pada 1985).
Galdikas bukan sekadar peneliti; ia adalah pahlawan bagi ekosistem rimba Indonesia. Saat ia pertama kali menginjakkan kaki di Tanjung Puting, Kalimantan Tengah pada tahun 1971 bersama mantan suaminya, fotografer Rod Brindamour, tak ada profesor yang percaya ia bisa meneliti
orangutan liar yang pemalu dan bersembunyi di kedalaman hutan rawa.
“Saya mendapat skeptisisme. Saya mendapat keraguan. Orang-orang bilang itu tidak bisa dilakukan,” kenang Galdikas dalam wawancaranya bersama Matt Galloway pada 2021.
Namun, dedikasi tanpa lelahnya mematahkan keraguan dunia. Ia sukses mendata 400 jenis makanan orangutan dan menemukan fakta biologis krusial: orangutan betina di Tanjung Puting hanya melahirkan satu bayi setiap 7,7 tahun.
Isabelle Laumer, primatolog di Institut Antropologi Max-Planck, menegaskan pentingnya temuan angka tersebut.
Galdikas adalah ilmuwan pertama yang membuktikan bahwa reproduksi yang sangat lambat ini membuat orangutan sangat rentan terhadap kehilangan habitat.
Data fundamental ini kemudian menjadi fondasi utama strategi konservasi dan program reintroduksi global.
Tindakan nyatanya tak berhenti pada publikasi penelitian di jurnal bergengsi Science pada 1978. Pada 1986, ia mendirikan Orangutan Foundation International. Melalui pusat rehabilitasi yang dibangunnya, sebanyak 450 orangutan tangkapan berhasil dikembalikan ke habitat aslinya di alam liar.
Berkat kerja kerasnya pula, kawasan Tanjung Puting resmi ditetapkan sebagai Taman Nasional pada tahun 1983, menyelamatkan populasi
orangutan liar terbesar yang tersisa di dunia saat ini.
"Semua yang dia lakukan adalah untuk mereka (orangutan). Dia memiliki jiwa yang sangat unik," ungkap Ruth Linsky, kandidat PhD di Simon Fraser
University yang mendampingi Galdikas di saat terakhirnya.
Kisah cintanya dengan Indonesia juga terukir dalam kehidupan pribadinya. Setelah bercerai dengan Brindamour (ayah dari putra pertamanya, Binti,
yang lahir pada 1975), Galdikas menikah dengan Bohap, seorang tetua adat Dayak sekaligus asisten penelitinya di Camp Leakey.
Bersama Bohap, ia dikaruniai dua anak, Frederick dan Jane, yang setia mendampinginya hingga akhir hayat.
Sebagai Profesor Luar Biasa di Universitas Nasional Jakarta sejak dekade 1970-an dan Simon Fraser University sejak 1981, Galdikas telah dianugerahi berbagai penghargaan bergengsi, termasuk Tyler Prize for Environmental Achievement, United Nations Global 500 Award, hingga penghargaan Satya Lencana dan Kalpataru yang diserahkan langsung oleh Presiden Indonesia.
"Warisan beliau sangat besar, meletakkan fondasi bagi pemahaman ilmiah kita tentang perilaku orangutan dan perlindungan habitat utama mereka," tulis Ian Redmond, Ketua Ape Alliance.
Sang legenda berpulang di Los Angeles pada Selasa dini hari akibat kanker paru-paru, dikelilingi oleh keluarga dan orang-orang tercintanya.
Kepergiannya menandai berakhirnya era "Trimates"—trio primatolog wanita perintis bentukan paleoantropolog Louis Leakey—menyusul kepergian Jane Goodall (peneliti simpanse) dan mendiang Diane Fossey (peneliti gorila yang tewas dibunuh pemburu liar di Rwanda pada 1985).
Galdikas bukan sekadar peneliti; ia adalah pahlawan bagi ekosistem rimba Indonesia. Saat ia pertama kali menginjakkan kaki di Tanjung Puting, Kalimantan Tengah pada tahun 1971 bersama mantan suaminya, fotografer Rod Brindamour, tak ada profesor yang percaya ia bisa meneliti
orangutan liar yang pemalu dan bersembunyi di kedalaman hutan rawa.
“Saya mendapat skeptisisme. Saya mendapat keraguan. Orang-orang bilang itu tidak bisa dilakukan,” kenang Galdikas dalam wawancaranya bersama Matt Galloway pada 2021.
Namun, dedikasi tanpa lelahnya mematahkan keraguan dunia. Ia sukses mendata 400 jenis makanan orangutan dan menemukan fakta biologis krusial: orangutan betina di Tanjung Puting hanya melahirkan satu bayi setiap 7,7 tahun.
Isabelle Laumer, primatolog di Institut Antropologi Max-Planck, menegaskan pentingnya temuan angka tersebut.
Galdikas adalah ilmuwan pertama yang membuktikan bahwa reproduksi yang sangat lambat ini membuat orangutan sangat rentan terhadap kehilangan habitat.
Data fundamental ini kemudian menjadi fondasi utama strategi konservasi dan program reintroduksi global.
Tindakan nyatanya tak berhenti pada publikasi penelitian di jurnal bergengsi Science pada 1978. Pada 1986, ia mendirikan Orangutan Foundation International. Melalui pusat rehabilitasi yang dibangunnya, sebanyak 450 orangutan tangkapan berhasil dikembalikan ke habitat aslinya di alam liar.
Berkat kerja kerasnya pula, kawasan Tanjung Puting resmi ditetapkan sebagai Taman Nasional pada tahun 1983, menyelamatkan populasi
orangutan liar terbesar yang tersisa di dunia saat ini.
"Semua yang dia lakukan adalah untuk mereka (orangutan). Dia memiliki jiwa yang sangat unik," ungkap Ruth Linsky, kandidat PhD di Simon Fraser
University yang mendampingi Galdikas di saat terakhirnya.
Kisah cintanya dengan Indonesia juga terukir dalam kehidupan pribadinya. Setelah bercerai dengan Brindamour (ayah dari putra pertamanya, Binti,
yang lahir pada 1975), Galdikas menikah dengan Bohap, seorang tetua adat Dayak sekaligus asisten penelitinya di Camp Leakey.
Bersama Bohap, ia dikaruniai dua anak, Frederick dan Jane, yang setia mendampinginya hingga akhir hayat.
Sebagai Profesor Luar Biasa di Universitas Nasional Jakarta sejak dekade 1970-an dan Simon Fraser University sejak 1981, Galdikas telah dianugerahi berbagai penghargaan bergengsi, termasuk Tyler Prize for Environmental Achievement, United Nations Global 500 Award, hingga penghargaan Satya Lencana dan Kalpataru yang diserahkan langsung oleh Presiden Indonesia.
"Warisan beliau sangat besar, meletakkan fondasi bagi pemahaman ilmiah kita tentang perilaku orangutan dan perlindungan habitat utama mereka," tulis Ian Redmond, Ketua Ape Alliance.
(dan)
Lihat Juga :