Kolaborasi Meta dan Prada: Strategi Elegan Menutupi Kualitas Kacamata Plastik yang Ringkih
Jum'at, 27 Februari 2026 - 13:27 WIB
loading...
Kehadiran Mark Zuckerberg di barisan terdepan peragaan busana Prada memicu spekulasi kuat lahirnya kacamata pintar kelas atas, strategi kemewahan yang kontras dengan keluhan konsumen akan material kacamata yang mahal namun sangat mudah rusak. Foto: Meta
A
A
A
ITALIA - Ambisi Mark Zuckerberg untuk menguasai wajah miliaran umat manusia kini tak lagi menggunakan pendekatan perangkat keras yang kaku. Tapi, berbalut kemewahan industri mode dunia.
Spekulasi ini menguat setelah CEO Meta beserta istrinya, Priscilla, tertangkap kamera duduk di barisan terdepan pada acara peragaan busana Musim Gugur/Musim Dingin 2026 (Fall/Winter 2026) Prada di Milan pada hari Kamis lalu.
![Kolaborasi Meta dan Prada: Strategi Elegan Menutupi Kualitas Kacamata Plastik yang Ringkih]()
Eksekutif media sosial tersebut terlihat asyik berbincang dengan teman sebangkunya, Lorenzo Bertelli, yang menjabat sebagai kepala pemasaran (chief merchandising officer) Prada sekaligus putra dari desainer utama Miuccia Prada.
Meski Zuckerberg akhir-akhir ini memang sedang memperbaiki citranya dengan gaya busana yang lebih trendi, kehadirannya di acara tersebut diyakini bukan sekadar untuk menikmati fesyen, melainkan untuk memuluskan kolaborasi terbaru dengan merek mewah tersebut.
Meta belum mengumumkan kesepakatan tersebut secara publik dan belum memberikan tanggapan atas kehadiran Zuckerberg di Milan.
Langkah menggandeng merek fesyen ini sejatinya sudah dibuktikan Meta melalui kemitraannya dengan EssilorLuxottica, pabrikan kacamata asal Prancis-Italia yang memproduksi merek Ray-Ban.
Kolaborasi perangkat berteknologi tinggi ini awalnya meluncur di bawah merek Ray-Ban Stories. Di 2026, menggabungkan inovasi AI dengan desain kacamata bergaya hidup adalah kunci sukses untuk mendorong adopsi masyarakat.
Hal ini terbukti dari angka penjualan fantastis. Bulan ini, perusahaan mengumumkan rekor penjualan lebih dari 7 juta kacamata AI sepanjang 2025.
Angka ini melesat tajam dibanding penjualan tahun sebelumnya yang hanya menyentuh angka 2 juta unit. Total penjualan luar biasa ini disumbang oleh kacamata tipe Ray-Ban Meta serta Oakley Meta, di mana merek Oakley dirancang secara khusus untuk konsumen dengan tipe yang atletis.
Sinyal masuknya Prada ke dalam ekosistem Meta semakin kuat setelah Prada dan EssilorLuxottica memperbarui kesepakatan lisensi kacamata mereka di bawah bendera Prada dan Miu Miu untuk sepuluh tahun ke depan. Kesepakatan yang ada sebelumnya diketahui telah berakhir pada tanggal 31 Desember 2025, namun kemudian diperpanjang hingga 31 Desember 2030, dengan menyertakan klausul ketentuan perpanjangan hingga 31 Desember 2035.
Bagi Meta, kacamata AI versi Prada akan memberikan mereka pijakan yang sangat kuat di pasar mode kelas atas (high-fashion), segmen mewah yang saat ini belum bisa dipenuhi oleh jajaran produk Oakley maupun Ray-Ban mereka.
Menjadikan kacamata cerdas sebagai simbol kemewahan juga diyakini akan memberi keuntungan besar bagi citra merek Meta secara keseluruhan.
Saat ini, Meta dan mitranya sedang dalam tahap diskusi serius untuk melipatgandakan target produksi kacamata pintar Ray-Ban Meta menjadi lebih dari 20 juta unit per tahun pada akhir 2026.
Kapasitas ambisius ini bahkan memiliki potensi untuk ditingkatkan kembali hingga mencapai 30 juta unit apabila lonjakan permintaan pasar terus terjadi.
Sebelumnya, tingginya permintaan pasar ini sempat memicu kendala pasokan, yang akhirnya memaksa perusahaan untuk menghentikan sementara (jeda) peluncuran di pasar Eropa demi memprioritaskan pasokan ke pasar Amerika Serikat.
Di masa mendatang, kacamata pintar ini diproyeksikan akan dijejali dengan fitur kecerdasan buatan lebih mutakhir, termasuk potensi penyematan teknologi "pita neural" (neural band) untuk memberi kemampuan kendali berbasis gestur yang lebih baik tanpa menggunakan tangan (hands-free).
Ilusi Mewah di Balik Privasi dan Kualitas Buruk
Namun, keberhasilan komersial ini tidak luput dari catatan kritis. Mengawinkan teknologi pengawasan dengan kacamata fesyen memicu gejolak privasi serius. Muncul gelombang penolakan konsumen yang semakin meningkat terhadap perangkat-perangkat pengawasan (surveillance devices).
Pergeseran tren ini bisa jadi akan memaksa Meta untuk meninjau kembali apakah mereka akan tetap menyematkan fitur pengenalan wajah (facial-recognition) pada kacamata mereka, seperti yang baru-baru ini dilaporkan oleh harian The New York Times.
Kontroversi ini memancing kritik keras terhadap produk teknologi yang sebenarnya terbilang sukses ini, dan bahkan telah memotivasi seorang pengembang perangkat lunak untuk menciptakan aplikasi peringatan yang akan memberi tahu Anda apabila ada seseorang di sekitar Anda yang sedang memakai kacamata AI tersebut.
Catatan paling fatal justru terletak pada kontrol kualitas fisik barangnya sendiri. Di balik label harganya yang mahal, banyak pengguna kacamata pintar Ray-Ban Meta yang melaporkan bahwa perangkat ini memiliki desain engsel yang sangat rapuh. Berbagai laporan pengguna menunjukkan bahwa kacamata ini sangat mudah patah, khususnya di area sekitar mekanisme lipatan dan bagian gagang pelipisnya (temples).
Banyak konsumen menemukan bahwa material plastiknya sangat rentan mengalami keretakan. Titik kelemahan ini sangat lazim ditemukan putus atau patah dalam waktu singkat setelah pembelian, bahkan dalam kondisi penggunaan yang normal. Keretakan rangka plastik ini sangat sering terjadi di bagian dekat engsel atau tepat di bagian belakang lambang logamnya.
Keluhan tidak berhenti pada engsel dan plastik. Pengguna juga melaporkan perangkat ini sangat rentan mengalami kerusakan pada komponen lainnya, seperti gagang kacamata yang terlepas hingga kerusakan total yang menyebabkan fitur kameranya gagal berfungsi.
Ironi ini semakin parah dengan layanan pelanggan yang mencekik. Konsumen melaporkan betapa sulitnya proses klaim garansi.
Perbaikan kacamata ini sangat sulit dilakukan, atau bahkan fasilitas perbaikannya sama sekali tidak ada.
Sering kali, solusi akhir dari perusahaan hanyalah mengharuskan konsumen untuk membeli satu pasang kacamata yang baru sebagai pengganti secara penuh.
Saking banyaknya perangkat yang rusak, sebuah video panduan singkat berdurasi 01:00 yang diunggah oleh akun YouTube "The Lambo Lady" pada 15 Desember 2025, secara khusus menyajikan tip untuk memperbaiki masalah-masalah umum yang menimpa kacamata Ray-Ban Meta ini.
Melihat realitas ini, ekspansi gila-gilaan Meta di pasar mewah melahirkan pertanyaan logis bagi konsumen di 2026: apakah masuk akal memuja perangkat berlabel luks sekelas Prada, jika pada akhirnya barang tersebut terbuat dari plastik ringkih yang tidak bisa diperbaiki saat rusak?
Spekulasi ini menguat setelah CEO Meta beserta istrinya, Priscilla, tertangkap kamera duduk di barisan terdepan pada acara peragaan busana Musim Gugur/Musim Dingin 2026 (Fall/Winter 2026) Prada di Milan pada hari Kamis lalu.

Eksekutif media sosial tersebut terlihat asyik berbincang dengan teman sebangkunya, Lorenzo Bertelli, yang menjabat sebagai kepala pemasaran (chief merchandising officer) Prada sekaligus putra dari desainer utama Miuccia Prada.
Meski Zuckerberg akhir-akhir ini memang sedang memperbaiki citranya dengan gaya busana yang lebih trendi, kehadirannya di acara tersebut diyakini bukan sekadar untuk menikmati fesyen, melainkan untuk memuluskan kolaborasi terbaru dengan merek mewah tersebut.
Meta belum mengumumkan kesepakatan tersebut secara publik dan belum memberikan tanggapan atas kehadiran Zuckerberg di Milan.
Langkah menggandeng merek fesyen ini sejatinya sudah dibuktikan Meta melalui kemitraannya dengan EssilorLuxottica, pabrikan kacamata asal Prancis-Italia yang memproduksi merek Ray-Ban.
Kolaborasi perangkat berteknologi tinggi ini awalnya meluncur di bawah merek Ray-Ban Stories. Di 2026, menggabungkan inovasi AI dengan desain kacamata bergaya hidup adalah kunci sukses untuk mendorong adopsi masyarakat.
Hal ini terbukti dari angka penjualan fantastis. Bulan ini, perusahaan mengumumkan rekor penjualan lebih dari 7 juta kacamata AI sepanjang 2025.
Angka ini melesat tajam dibanding penjualan tahun sebelumnya yang hanya menyentuh angka 2 juta unit. Total penjualan luar biasa ini disumbang oleh kacamata tipe Ray-Ban Meta serta Oakley Meta, di mana merek Oakley dirancang secara khusus untuk konsumen dengan tipe yang atletis.
Sinyal masuknya Prada ke dalam ekosistem Meta semakin kuat setelah Prada dan EssilorLuxottica memperbarui kesepakatan lisensi kacamata mereka di bawah bendera Prada dan Miu Miu untuk sepuluh tahun ke depan. Kesepakatan yang ada sebelumnya diketahui telah berakhir pada tanggal 31 Desember 2025, namun kemudian diperpanjang hingga 31 Desember 2030, dengan menyertakan klausul ketentuan perpanjangan hingga 31 Desember 2035.
Bagi Meta, kacamata AI versi Prada akan memberikan mereka pijakan yang sangat kuat di pasar mode kelas atas (high-fashion), segmen mewah yang saat ini belum bisa dipenuhi oleh jajaran produk Oakley maupun Ray-Ban mereka.
Menjadikan kacamata cerdas sebagai simbol kemewahan juga diyakini akan memberi keuntungan besar bagi citra merek Meta secara keseluruhan.
Saat ini, Meta dan mitranya sedang dalam tahap diskusi serius untuk melipatgandakan target produksi kacamata pintar Ray-Ban Meta menjadi lebih dari 20 juta unit per tahun pada akhir 2026.
Kapasitas ambisius ini bahkan memiliki potensi untuk ditingkatkan kembali hingga mencapai 30 juta unit apabila lonjakan permintaan pasar terus terjadi.
Sebelumnya, tingginya permintaan pasar ini sempat memicu kendala pasokan, yang akhirnya memaksa perusahaan untuk menghentikan sementara (jeda) peluncuran di pasar Eropa demi memprioritaskan pasokan ke pasar Amerika Serikat.
Di masa mendatang, kacamata pintar ini diproyeksikan akan dijejali dengan fitur kecerdasan buatan lebih mutakhir, termasuk potensi penyematan teknologi "pita neural" (neural band) untuk memberi kemampuan kendali berbasis gestur yang lebih baik tanpa menggunakan tangan (hands-free).
Ilusi Mewah di Balik Privasi dan Kualitas Buruk
![Kolaborasi Meta dan Prada: Strategi Elegan Menutupi Kualitas Kacamata Plastik yang Ringkih]()
Namun, keberhasilan komersial ini tidak luput dari catatan kritis. Mengawinkan teknologi pengawasan dengan kacamata fesyen memicu gejolak privasi serius. Muncul gelombang penolakan konsumen yang semakin meningkat terhadap perangkat-perangkat pengawasan (surveillance devices).
Pergeseran tren ini bisa jadi akan memaksa Meta untuk meninjau kembali apakah mereka akan tetap menyematkan fitur pengenalan wajah (facial-recognition) pada kacamata mereka, seperti yang baru-baru ini dilaporkan oleh harian The New York Times.
Kontroversi ini memancing kritik keras terhadap produk teknologi yang sebenarnya terbilang sukses ini, dan bahkan telah memotivasi seorang pengembang perangkat lunak untuk menciptakan aplikasi peringatan yang akan memberi tahu Anda apabila ada seseorang di sekitar Anda yang sedang memakai kacamata AI tersebut.
Catatan paling fatal justru terletak pada kontrol kualitas fisik barangnya sendiri. Di balik label harganya yang mahal, banyak pengguna kacamata pintar Ray-Ban Meta yang melaporkan bahwa perangkat ini memiliki desain engsel yang sangat rapuh. Berbagai laporan pengguna menunjukkan bahwa kacamata ini sangat mudah patah, khususnya di area sekitar mekanisme lipatan dan bagian gagang pelipisnya (temples).
Banyak konsumen menemukan bahwa material plastiknya sangat rentan mengalami keretakan. Titik kelemahan ini sangat lazim ditemukan putus atau patah dalam waktu singkat setelah pembelian, bahkan dalam kondisi penggunaan yang normal. Keretakan rangka plastik ini sangat sering terjadi di bagian dekat engsel atau tepat di bagian belakang lambang logamnya.
Keluhan tidak berhenti pada engsel dan plastik. Pengguna juga melaporkan perangkat ini sangat rentan mengalami kerusakan pada komponen lainnya, seperti gagang kacamata yang terlepas hingga kerusakan total yang menyebabkan fitur kameranya gagal berfungsi.
Ironi ini semakin parah dengan layanan pelanggan yang mencekik. Konsumen melaporkan betapa sulitnya proses klaim garansi.
Perbaikan kacamata ini sangat sulit dilakukan, atau bahkan fasilitas perbaikannya sama sekali tidak ada.
Sering kali, solusi akhir dari perusahaan hanyalah mengharuskan konsumen untuk membeli satu pasang kacamata yang baru sebagai pengganti secara penuh.
Saking banyaknya perangkat yang rusak, sebuah video panduan singkat berdurasi 01:00 yang diunggah oleh akun YouTube "The Lambo Lady" pada 15 Desember 2025, secara khusus menyajikan tip untuk memperbaiki masalah-masalah umum yang menimpa kacamata Ray-Ban Meta ini.
Melihat realitas ini, ekspansi gila-gilaan Meta di pasar mewah melahirkan pertanyaan logis bagi konsumen di 2026: apakah masuk akal memuja perangkat berlabel luks sekelas Prada, jika pada akhirnya barang tersebut terbuat dari plastik ringkih yang tidak bisa diperbaiki saat rusak?
(dan)
Lihat Juga :