Chip Langka, Harga Melonjak: Pasar Smartphone Diprediksi Turun di 2026
Kamis, 26 Februari 2026 - 15:16 WIB
loading...
A
A
A
Produsen memori lebih memprioritaskan komponen server AI ber-margin tinggi dibandingkan pasokan untuk smartphone, PC, dan elektronik konsumen lainnya. Akibatnya, harga memori melonjak drastis.
Menurut riset CSS Insight, harga memori di segmen smartphone telah berlipat ganda dalam dua kuartal terakhir. Counterpoint Research memperkirakan harga memori bisa naik lagi hingga 40 persen sampai kuartal II 2026.
Dampaknya langsung terasa pada biaya produksi atau bill of materials (BoM). Untuk smartphone kelas bawah, BoM naik 20–30 persen. Segmen menengah naik sekitar 15 persen, dan segmen premium naik 10 persen. Bahkan tambahan tekanan biaya 10–15 persen masih mungkin terjadi hingga pertengahan 2026.
Counterpoint merevisi naik proyeksi kenaikan average selling price (ASP) global menjadi 6,9 persen secara tahunan, dari sebelumnya 3,6 persen.
Dengan kata lain, konsumenlah yang menanggung beban boom AI.
“Kami memperkirakan kelangkaan global chip memori akan berlanjut hingga 2027, terutama didorong ekspansi infrastruktur AI yang mengalihkan pasokan dari smartphone dan elektronik konsumen,” ujarnya.
Paolo Pescatore, analis TMT PP Foresight, menambahkan bahwa krisis memori bukan lagi isu rantai pasok biasa, melainkan “strategic constraint on the AI roadmap”.
Artinya, strategi AI kini dibatasi oleh ketersediaan memori.
Counterpoint memperkirakan pengiriman smartphone global akan turun 2,1 persen pada 2026, dengan revisi turun 2,6 poin persentase dibanding proyeksi sebelumnya. OEM China seperti Honor, Oppo, dan Vivo mengalami revisi paling besar.
Segmen harga di bawah USD200 atau sekitar Rp3,2 juta menjadi yang paling terdampak. Di segmen ini, kenaikan harga sulit diterima konsumen. Jika tidak bisa diteruskan ke harga jual, produsen terpaksa memangkas spesifikasi atau mengurangi lini produk.
Menurut riset CSS Insight, harga memori di segmen smartphone telah berlipat ganda dalam dua kuartal terakhir. Counterpoint Research memperkirakan harga memori bisa naik lagi hingga 40 persen sampai kuartal II 2026.
Dampaknya langsung terasa pada biaya produksi atau bill of materials (BoM). Untuk smartphone kelas bawah, BoM naik 20–30 persen. Segmen menengah naik sekitar 15 persen, dan segmen premium naik 10 persen. Bahkan tambahan tekanan biaya 10–15 persen masih mungkin terjadi hingga pertengahan 2026.
Counterpoint merevisi naik proyeksi kenaikan average selling price (ASP) global menjadi 6,9 persen secara tahunan, dari sebelumnya 3,6 persen.
Dengan kata lain, konsumenlah yang menanggung beban boom AI.
Supercycle Memori dan Dampaknya ke Smartphone
Industri memori saat ini mengalami “supercycle”, di mana permintaan jauh melampaui pasokan. Ben Wood, Chief Analyst CSS Insight, menyebut krisis ini bukan masalah jangka pendek.“Kami memperkirakan kelangkaan global chip memori akan berlanjut hingga 2027, terutama didorong ekspansi infrastruktur AI yang mengalihkan pasokan dari smartphone dan elektronik konsumen,” ujarnya.
Paolo Pescatore, analis TMT PP Foresight, menambahkan bahwa krisis memori bukan lagi isu rantai pasok biasa, melainkan “strategic constraint on the AI roadmap”.
Artinya, strategi AI kini dibatasi oleh ketersediaan memori.
Counterpoint memperkirakan pengiriman smartphone global akan turun 2,1 persen pada 2026, dengan revisi turun 2,6 poin persentase dibanding proyeksi sebelumnya. OEM China seperti Honor, Oppo, dan Vivo mengalami revisi paling besar.
Segmen harga di bawah USD200 atau sekitar Rp3,2 juta menjadi yang paling terdampak. Di segmen ini, kenaikan harga sulit diterima konsumen. Jika tidak bisa diteruskan ke harga jual, produsen terpaksa memangkas spesifikasi atau mengurangi lini produk.
Lihat Juga :