Otomatisasi dan Keahlian Lokal Perlu Diperkuat untuk Ketahanan Siber Nasional
Jum'at, 13 Februari 2026 - 15:18 WIB
loading...
Hal i Co-Founder dan CEO Zentara Regal Rauniyar Star kepada awak media di kantor barunya di Baic Tower, Tangerang Selatan, Kamis (12/2/2026)..
A
A
A
JAKARTA - Skala ancaman digital di Indonesia dinilai kian besar dan kompleks. Serangan siber yang tercatat secara nasional dapat mencapai sekitar 16 juta dalam periode tertentu, bahkan berpotensi terjadi dalam satu hari operasi.
Hal ini diungkapkan Co-Founder dan CEO Zentara Regal Rauniyar Star kepada awak media di kantor barunya di Baic Tower, Tangerang Selatan, Kamis (12/2/2026). Menurut Regal, banyaknya serangan siber dalam periode tertentu membutuhkan penanganan yang cepat dan tepat.
"Bayangkan jika seorang analis harus memproses 16 juta notifikasi atau potensi serangan. Itu pekerjaan yang sangat besar," ujar Regal.
Regal mengatakan, besarnya volume ancaman tersebut menuntut pendekatan yang lebih efisien melalui otomatisasi. Jika sebagian proses, misalnya 20%, dapat diotomatisasi, efisiensi yang dihasilkan akan signifikan dalam membantu analis memilah serangan nyata dari peringatan palsu.
Zentara bekerja sama dengan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) dalam pengembangan dan pengujian teknologi keamanan. Regal mengatakan, kolaborasi tersebut penting untuk memastikan solusi yang dibangun relevan dengan kebutuhan dan karakteristik ancaman di Indonesia.
"Untuk mengembangkan solusi yang tepat bagi Indonesia, kami memang harus bekerja sama dengan BSSN," katanya.
Regal menjelaskan, motif pelaku serangan siber beragam. Ada yang sekadar mencoba kemampuan teknis, ada pula yang menargetkan sektor perbankan dan institusi keuangan untuk mencuri dana atau memperoleh keuntungan tertentu.
"Hacker pada dasarnya mencari ‘pintu yang terbuka’. Jika sistem memiliki celah, mereka akan mencoba masuk," ujarnya.
Karena itu, menurut Regal, pendekatan keamanan harus mencakup aspek ofensif dan defensif secara bersamaan. Zentara menerapkan konsep red team dan blue team untuk menguji ketahanan sistem klien. Tim ofensif berupaya menemukan celah, sementara tim defensif memperkuat perlindungan agar kerentanan dapat ditutup sebelum dimanfaatkan pihak luar.
Di kantor barunya, Zentara juga menampilkan fasilitas Security Operations Center (SOC) yang beroperasi 24 jam sehari, tujuh hari seminggu. Sistem tersebut memantau lalu lintas dan potensi serangan secara real time, termasuk visualisasi serangan global.
Menurut Regal, tidak semua notifikasi yang muncul merupakan serangan nyata. Tim analis bertugas menyaring alarm palsu dan memverifikasi tingkat risiko sebelum melakukan mitigasi. Pendekatan ini dinilai penting mengingat banyak infrastruktur vital yang bergantung pada sistem keamanan digital.
Ia menambahkan, investasi besar dalam infrastruktur dilakukan untuk membuktikan bahwa teknologi buatan Indonesia mampu bersaing di tingkat global. Meski mengusung semangat nasional, Zentara juga membangun entitas di Singapura guna memperkuat kepercayaan pasar internasional.
"Tujuan kami menjaga klien dengan standar global, tetapi tetap berbasis teknologi Indonesia," ujarnya.
Regal menilai perkembangan ekosistem digital nasional berlangsung cepat. Ia optimistis, dengan kolaborasi antara pelaku industri dan pemerintah serta penguatan implementasi regulasi, Indonesia dapat membangun ketahanan siber yang lebih kokoh di tengah meningkatnya ancaman digital
Hal ini diungkapkan Co-Founder dan CEO Zentara Regal Rauniyar Star kepada awak media di kantor barunya di Baic Tower, Tangerang Selatan, Kamis (12/2/2026). Menurut Regal, banyaknya serangan siber dalam periode tertentu membutuhkan penanganan yang cepat dan tepat.
"Bayangkan jika seorang analis harus memproses 16 juta notifikasi atau potensi serangan. Itu pekerjaan yang sangat besar," ujar Regal.
Regal mengatakan, besarnya volume ancaman tersebut menuntut pendekatan yang lebih efisien melalui otomatisasi. Jika sebagian proses, misalnya 20%, dapat diotomatisasi, efisiensi yang dihasilkan akan signifikan dalam membantu analis memilah serangan nyata dari peringatan palsu.
Zentara bekerja sama dengan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) dalam pengembangan dan pengujian teknologi keamanan. Regal mengatakan, kolaborasi tersebut penting untuk memastikan solusi yang dibangun relevan dengan kebutuhan dan karakteristik ancaman di Indonesia.
"Untuk mengembangkan solusi yang tepat bagi Indonesia, kami memang harus bekerja sama dengan BSSN," katanya.
Regal menjelaskan, motif pelaku serangan siber beragam. Ada yang sekadar mencoba kemampuan teknis, ada pula yang menargetkan sektor perbankan dan institusi keuangan untuk mencuri dana atau memperoleh keuntungan tertentu.
"Hacker pada dasarnya mencari ‘pintu yang terbuka’. Jika sistem memiliki celah, mereka akan mencoba masuk," ujarnya.
Karena itu, menurut Regal, pendekatan keamanan harus mencakup aspek ofensif dan defensif secara bersamaan. Zentara menerapkan konsep red team dan blue team untuk menguji ketahanan sistem klien. Tim ofensif berupaya menemukan celah, sementara tim defensif memperkuat perlindungan agar kerentanan dapat ditutup sebelum dimanfaatkan pihak luar.
Di kantor barunya, Zentara juga menampilkan fasilitas Security Operations Center (SOC) yang beroperasi 24 jam sehari, tujuh hari seminggu. Sistem tersebut memantau lalu lintas dan potensi serangan secara real time, termasuk visualisasi serangan global.
Menurut Regal, tidak semua notifikasi yang muncul merupakan serangan nyata. Tim analis bertugas menyaring alarm palsu dan memverifikasi tingkat risiko sebelum melakukan mitigasi. Pendekatan ini dinilai penting mengingat banyak infrastruktur vital yang bergantung pada sistem keamanan digital.
Ia menambahkan, investasi besar dalam infrastruktur dilakukan untuk membuktikan bahwa teknologi buatan Indonesia mampu bersaing di tingkat global. Meski mengusung semangat nasional, Zentara juga membangun entitas di Singapura guna memperkuat kepercayaan pasar internasional.
"Tujuan kami menjaga klien dengan standar global, tetapi tetap berbasis teknologi Indonesia," ujarnya.
Regal menilai perkembangan ekosistem digital nasional berlangsung cepat. Ia optimistis, dengan kolaborasi antara pelaku industri dan pemerintah serta penguatan implementasi regulasi, Indonesia dapat membangun ketahanan siber yang lebih kokoh di tengah meningkatnya ancaman digital
(wbs)
Lihat Juga :