Rekor 100%! Seluruh Perusahaan Indonesia Kompak Pakai AI demi Keamanan Siber
Rabu, 04 Februari 2026 - 09:23 WIB
loading...
A
A
A
Perusahaan di Asia Pasifik mengharapkan AI mampu melakukan analisis data otomatis untuk mengidentifikasi anomali (60 persen) serta memfasilitasi otomatisasi respons terhadap insiden (55 persen).
Managing Director Asia Pasifik Kaspersky, Adrian Hia, menilai pendekatan perusahaan di kawasan ini sangat pragmatis.
"Prioritas ini mencerminkan fokus wilayah ini pada peningkatan efektivitas deteksi, pengurangan kelelahan peringatan (alert fatigue), dan membebaskan tim keamanan dari tugas rutin," ungkapnya.
Efisiensi ini krusial karena motivasi utama 47 persen perusahaan adalah untuk mengotomatiskan tugas rutin, sementara 45 persen lainnya mengejar akurasi demi menekan angka positif palsu.
Sebanyak 44 persen organisasi di Asia Pasifik mengaku kekurangan data pelatihan berkualitas tinggi yang menjadi "bahan bakar" akurasi model AI. Tanpa data yang bersih, sistem AI justru berisiko memberikan analisis yang bias atau tidak relevan.
Selain itu, kendala sumber daya manusia menjadi isu kronis. Sebanyak 37 persen perusahaan melaporkan kekurangan ahli AI internal yang kompeten.
Hambatan lainnya mencakup munculnya kerentanan baru akibat penggunaan AI itu sendiri (34 persen), kesulitan integrasi alat (34 persen), hingga biaya pengembangan dan pemeliharaan yang membengkak (33 persen).
Managing Director Asia Pasifik Kaspersky, Adrian Hia, menilai pendekatan perusahaan di kawasan ini sangat pragmatis.
"Prioritas ini mencerminkan fokus wilayah ini pada peningkatan efektivitas deteksi, pengurangan kelelahan peringatan (alert fatigue), dan membebaskan tim keamanan dari tugas rutin," ungkapnya.
Efisiensi ini krusial karena motivasi utama 47 persen perusahaan adalah untuk mengotomatiskan tugas rutin, sementara 45 persen lainnya mengejar akurasi demi menekan angka positif palsu.
Hambatan Eksekusi: Kesenjangan Data dan Talenta
Namun, di balik ambisi besar tersebut, terdapat jurang implementasi yang tajam. Tantangan mendasar yang dihadapi adalah kualitas data pelatihan.Sebanyak 44 persen organisasi di Asia Pasifik mengaku kekurangan data pelatihan berkualitas tinggi yang menjadi "bahan bakar" akurasi model AI. Tanpa data yang bersih, sistem AI justru berisiko memberikan analisis yang bias atau tidak relevan.
Selain itu, kendala sumber daya manusia menjadi isu kronis. Sebanyak 37 persen perusahaan melaporkan kekurangan ahli AI internal yang kompeten.
Hambatan lainnya mencakup munculnya kerentanan baru akibat penggunaan AI itu sendiri (34 persen), kesulitan integrasi alat (34 persen), hingga biaya pengembangan dan pemeliharaan yang membengkak (33 persen).
Lihat Juga :