Siapa Adam Presser, Alumni Harvard Pro-China yang Jadi Bos TikTok Amerika?
Senin, 26 Januari 2026 - 09:24 WIB
loading...
A
A
A
Administrasi Trump memang memegang kendali besar dalam proses negosiasi selama setahun terakhir, terus menunda potensi larangan demi mencari solusi yang memungkinkan aplikasi tetap hidup di bawah bendera AS.
Algoritma ini nantinya akan dilatih ulang menggunakan data TikTokers Amerika. Selain itu, ia juga ditugaskan memacu pertumbuhan bisnis untuk aplikasi milik ByteDance lainnya di AS, termasuk platform pengeditan bertenaga AI, CapCut, dan platform gaya hidup sosial, Lemon8.
Namun, secara bisnis, ByteDance tetap memegang "kue" terbesar.
Perusahaan induk tetap mengontrol bagian paling menguntungkan dari kerajaan bisnis AS-nya, yakni lengan periklanan dan belanja online (TikTok Shop).
Shou Chew pun tetap menjabat sebagai CEO bisnis global TikTok di luar usaha patungan AS ini.
Ironisnya, Presser dulunya adalah suara vokal yang menentang pemisahan ini. Dalam dokumen hukum tahun 2024, Presser pernah berargumen bahwa "pemisahan platform TikTok AS dari sisa platform dan bisnis TikTok yang terintegrasi secara global tidaklah layak."
Kala itu, ia memperingatkan bahwa TikTok AS akan menjadi sebuah "pulau" di mana orang Amerika akan memiliki pengalaman yang terisolasi.
Menurut logika pasarnya saat itu, aplikasi yang terisolasi akan menjadi kurang menarik bagi pengiklan dan kreator global, serta tidak akan menghasilkan pendapatan yang cukup untuk membuat TikTok khusus AS berkelanjutan secara finansial. Kini, Presser harus memimpin entitas yang dulu ia sebut tidak layak tersebut, membuktikan apakah "pulau" ini bisa bertahan di tengah samudra kompetisi digital.
Misi Berat dan Paradoks Bisnis
Tugas Presser kini sangat monumental namun penuh paradoks. Ia bertanggung jawab melindungi data pengguna AS, memoderasi konten, dan mengamankan algoritma rekomendasi konten yang akan disewa dari ByteDance.Algoritma ini nantinya akan dilatih ulang menggunakan data TikTokers Amerika. Selain itu, ia juga ditugaskan memacu pertumbuhan bisnis untuk aplikasi milik ByteDance lainnya di AS, termasuk platform pengeditan bertenaga AI, CapCut, dan platform gaya hidup sosial, Lemon8.
Namun, secara bisnis, ByteDance tetap memegang "kue" terbesar.
Perusahaan induk tetap mengontrol bagian paling menguntungkan dari kerajaan bisnis AS-nya, yakni lengan periklanan dan belanja online (TikTok Shop).
Shou Chew pun tetap menjabat sebagai CEO bisnis global TikTok di luar usaha patungan AS ini.
Ironisnya, Presser dulunya adalah suara vokal yang menentang pemisahan ini. Dalam dokumen hukum tahun 2024, Presser pernah berargumen bahwa "pemisahan platform TikTok AS dari sisa platform dan bisnis TikTok yang terintegrasi secara global tidaklah layak."
Kala itu, ia memperingatkan bahwa TikTok AS akan menjadi sebuah "pulau" di mana orang Amerika akan memiliki pengalaman yang terisolasi.
Menurut logika pasarnya saat itu, aplikasi yang terisolasi akan menjadi kurang menarik bagi pengiklan dan kreator global, serta tidak akan menghasilkan pendapatan yang cukup untuk membuat TikTok khusus AS berkelanjutan secara finansial. Kini, Presser harus memimpin entitas yang dulu ia sebut tidak layak tersebut, membuktikan apakah "pulau" ini bisa bertahan di tengah samudra kompetisi digital.
(dan)
Lihat Juga :