Intip Foto Langka Komet 3I/ATLAS: Punya Ekor 56.000 Km, Ternyata Berasal dari Bintang Lain
Sabtu, 03 Januari 2026 - 12:46 WIB
loading...
A
A
A
Sejatinya, kamera ini didesain untuk memetakan permukaan Mars yang statis, bukan melacak target kecil yang redup dan bergerak cepat di kegelapan angkasa.
Tim insinyur CNSA di Beijing harus melakukan simulasi ekstensif untuk mengatasi tantangan ini. Strategi yang diambil adalah penggunaan waktu eksposur super-singkat (extremely short exposure times) untuk mengoptimalkan penangkapan cahaya sekaligus mencegah gambar menjadi kabur (blurry). Data mentah kemudian dikirim ke pusat kendali di Bumi untuk diproses menjadi sekuens gambar yang tajam.
Aktivitas komet ini tergolong sangat intens, dengan diameter coma mencapai ribuan kilometer.
Lebih menakjubkan lagi, terlihat ekor komet yang terbentuk dari partikel yang terhempas oleh tekanan radiasi surya. Ekor ini memanjang hingga 56.000 kilometer, membelakangi arah Matahari.
Analisis spektral awal mendeteksi adanya es air (water ice) dan karbon dioksida, serta sinyal lemah karbon monoksida.
Komposisi ini mengindikasikan bahwa 3I/ATLAS terbentuk di wilayah yang sangat dingin di sistem bintang asalnya.
Kilau kemerahan yang teramati pada intinya dikaitkan dengan debu yang kaya akan senyawa organik. Selain itu, para ilmuwan mencatat adanya percepatan non-gravitasi—penyimpangan kecil pada lintasan yang tidak bisa dijelaskan oleh gravitasi semata—yang kemungkinan besar disebabkan oleh dorongan jet gas yang menyembur dari permukaannya.
Momen langka ini menyatukan komunitas sains global. China tidak bekerja sendirian. Badan Antariksa Eropa (ESA) mengerahkan wahana Mars Express dan ExoMars Trace Gas Orbiter untuk menganalisis emisi gas komet.
Tim insinyur CNSA di Beijing harus melakukan simulasi ekstensif untuk mengatasi tantangan ini. Strategi yang diambil adalah penggunaan waktu eksposur super-singkat (extremely short exposure times) untuk mengoptimalkan penangkapan cahaya sekaligus mencegah gambar menjadi kabur (blurry). Data mentah kemudian dikirim ke pusat kendali di Bumi untuk diproses menjadi sekuens gambar yang tajam.
Apa yang Terungkap?
Hasilnya tidak mengecewakan. Foto-foto yang dirilis CNSA memperlihatkan inti komet yang berbatu dan beku, dikelilingi oleh coma—awan gas dan debu—yang terbentuk saat panas Matahari menyublimasi es di permukaannya.Aktivitas komet ini tergolong sangat intens, dengan diameter coma mencapai ribuan kilometer.
Lebih menakjubkan lagi, terlihat ekor komet yang terbentuk dari partikel yang terhempas oleh tekanan radiasi surya. Ekor ini memanjang hingga 56.000 kilometer, membelakangi arah Matahari.
Analisis spektral awal mendeteksi adanya es air (water ice) dan karbon dioksida, serta sinyal lemah karbon monoksida.
Komposisi ini mengindikasikan bahwa 3I/ATLAS terbentuk di wilayah yang sangat dingin di sistem bintang asalnya.
Kilau kemerahan yang teramati pada intinya dikaitkan dengan debu yang kaya akan senyawa organik. Selain itu, para ilmuwan mencatat adanya percepatan non-gravitasi—penyimpangan kecil pada lintasan yang tidak bisa dijelaskan oleh gravitasi semata—yang kemungkinan besar disebabkan oleh dorongan jet gas yang menyembur dari permukaannya.
Momen langka ini menyatukan komunitas sains global. China tidak bekerja sendirian. Badan Antariksa Eropa (ESA) mengerahkan wahana Mars Express dan ExoMars Trace Gas Orbiter untuk menganalisis emisi gas komet.
Lihat Juga :