Lebih Kecil dari Butiran Nasi, Robot Otonom Ini Mampu Berenang dalam Tubuh Manusia
Rabu, 31 Desember 2025 - 16:00 WIB
loading...
A
A
A
Tantangan utamanya bukan sekadar mengecilkan komponen, melainkan melawan hukum fisika fluida pada skala mikroskopis. Saat robot sekecil ini melintasi tubuh manusia, ia harus berhadapan dengan hambatan gesekan (drag) yang signifikan. Dalam lingkungan cairan tubuh, pergerakan benda sekecil ini diibaratkan seperti manusia yang mencoba "berenang di aspal cair".
Perangkat mungil ini menciptakan medan listrik yang menggerakkan ion-ion dalam cairan di sekitarnya. Pergerakan ion ini kemudian menabrak molekul air di dekatnya, menciptakan dorongan yang memungkinkan robot untuk berenang.
Dengan memanipulasi medan listrik tersebut, operator dapat mengatur gerakan robot secara presisi, bahkan mengoordinasikan mereka dalam kelompok (swarm). Hebatnya, robot ini ditenagai oleh denyut cahaya LED dan memiliki daya tahan untuk berenang selama berbulan-bulan tanpa henti.
Namun, kemampuan gerak saja tidak cukup. Agar dapat disebut robot otonom, ia harus memiliki "otak". Di sinilah peran David Blaauw, insinyur elektro dari University of Michigan, menjadi krusial.
Blaauw, yang sebelumnya membantu menciptakan komputer terkecil di dunia, menerapkan keahliannya untuk menjejalkan sistem komputasi lengkap—termasuk memori, prosesor, dan sensor—ke dalam ruang yang kurang dari satu milimeter.
Mekanisme Gerak dan Otak Komputer
Logika konvensional menggunakan kaki atau lengan mekanis tidak berlaku di skala ini karena hambatan viskositas tersebut. Sebagai solusi jenius, para ilmuwan tidak mencoba menggerakkan robotnya secara fisik, melainkan "menggerakkan" lingkungan di sekitarnya.Perangkat mungil ini menciptakan medan listrik yang menggerakkan ion-ion dalam cairan di sekitarnya. Pergerakan ion ini kemudian menabrak molekul air di dekatnya, menciptakan dorongan yang memungkinkan robot untuk berenang.
Dengan memanipulasi medan listrik tersebut, operator dapat mengatur gerakan robot secara presisi, bahkan mengoordinasikan mereka dalam kelompok (swarm). Hebatnya, robot ini ditenagai oleh denyut cahaya LED dan memiliki daya tahan untuk berenang selama berbulan-bulan tanpa henti.
Namun, kemampuan gerak saja tidak cukup. Agar dapat disebut robot otonom, ia harus memiliki "otak". Di sinilah peran David Blaauw, insinyur elektro dari University of Michigan, menjadi krusial.
Blaauw, yang sebelumnya membantu menciptakan komputer terkecil di dunia, menerapkan keahliannya untuk menjejalkan sistem komputasi lengkap—termasuk memori, prosesor, dan sensor—ke dalam ruang yang kurang dari satu milimeter.
Lihat Juga :