Bangun Rumah Rp1,76 Triliun Selama 8 Tahun, Zuckerberg Bagikan Headphone dan Donat ke Tetangga yang Protes
Jum'at, 26 Desember 2025 - 14:10 WIB
loading...
Demi meredam amarah tetangga akibat kebisingan proyek renovasi 11 rumah senilai Rp1,76 triliun yang tak berkesudahan, Mark Zuckerberg mengirimkan upeti berupa headphone peredam bising dan donat. Foto: ist
A
A
A
PALO ALTO - Di Crescent Park, kawasan elit di Palo Alto yang lazimnya dihuni oleh keheningan para pengacara, eksekutif bisnis, dan profesor Universitas Stanford, ketenangan kini menjadi komoditas langka yang terenggut paksa.
Selama bertahun-tahun, lingkungan yang dulunya idilis ini telah berubah wajah menjadi zona bising akibat deru mesin konstruksi yang tak kunjung henti dari ambisi properti Mark Zuckerberg.
Sebagai ganti atas gangguan pendengaran dan kenyamanan yang terampas, sang pendiri Meta menawarkan solusi yang terasa seperti lelucon getir: sepasang headphone peredam bising (noise-canceling headphones) sebagai "upeti" perdamaian bagi para tetangganya.
Laporan terbaru dari The New York Times menyingkap tabir ketegangan sosial yang terjadi di balik pagar-pagar tinggi properti milik salah satu orang terkaya di dunia tersebut.
Zuckerberg dilaporkan telah menghabiskan lebih dari USD110 juta atau Rp1,76 triliun selama 14 tahun terakhir untuk mengakuisisi setidaknya 11 rumah di sepanjang Edgewood Drive dan Hamilton Avenue.
Namun, alih-alih menjadi hunian yang menyatu dengan komunitas, klaster pribadi ini justru menjadi sumber frustrasi kolektif.
Di bawah permukaan tanah Palo Alto, Zuckerberg menambahkan ruang bawah tanah seluas 7.000 kaki persegi (sekitar 650 meter persegi).
Bagi warga sekitar, struktur masif ini lebih menyerupai sebuah "bunker" atau "Bat Cave" milik miliarder ketimbang ruang utilitas biasa.
Luas ini bahkan melampaui struktur bawah tanah seluas 5.000 kaki persegi (sekitar 464 meter persegi) yang ia bangun di perkebunan seluas 2.300 hektar miliknya di Kauai, Hawaii, yang juga sempat memicu kontroversi lokal.
Dalam upaya meredam gejolak sosial ini, staf Zuckerberg tidak hanya membagikan headphone. Ia juga mengirimkan botol-botol sparkling wine dan kotak-kotak donat Krispy Kreme saat periode konstruksi sedang berada di puncak kebisingannya.
Namun, gestur manis ini dinilai tidak efektif menutupi transformasi negatif lingkungan mereka.
Warga mengeluhkan ketidakhadiran pemilik (absentee ownership), barikade privasi yang kaku, serta kehadiran keamanan yang berlebihan, termasuk kamera pengintai yang mengarah ke properti tetangga dan patroli rutin penjaga keamanan swasta.
Kritik tajam juga mengarah pada aspek etis pemanfaatan lahan. Di tengah krisis perumahan akut yang melanda California, beberapa properti yang dibeli Zuckerberg justru dibiarkan kosong tak berpenghuni.
Bahkan, sempat ada upaya pemanfaatan properti untuk sekolah privat bagi anak-anak Zuckerberg dan segelintir lainnya, penggunaan yang tampaknya menabrak peraturan zonasi setempat.
Juru bicara Mark Zuckerberg membela diri dengan menyatakan kepada Fortune bahwa keluarga tersebut telah menjadikan Palo Alto rumah mereka selama lebih dari satu dekade dan menghargai keanggotaan mereka dalam komunitas, serta telah mengambil langkah-langkah "di atas dan melampaui persyaratan lokal" untuk menghindari gangguan.
Namun, rekam jejak menunjukkan pola yang berbeda. Pada 2016, pejabat Palo Alto pernah menolak proposal Zuckerberg untuk merobohkan empat rumah dan menggantinya dengan struktur yang lebih kecil demi basemen raksasa.
Meski ditolak, Zuckerberg menyiasatinya dengan melakukan renovasi secara bertahap, strategi yang oleh Dewan Kota Palo Alto dan warga dinilai sebagai eksploitasi celah zonasi.
Selama bertahun-tahun, lingkungan yang dulunya idilis ini telah berubah wajah menjadi zona bising akibat deru mesin konstruksi yang tak kunjung henti dari ambisi properti Mark Zuckerberg.
Sebagai ganti atas gangguan pendengaran dan kenyamanan yang terampas, sang pendiri Meta menawarkan solusi yang terasa seperti lelucon getir: sepasang headphone peredam bising (noise-canceling headphones) sebagai "upeti" perdamaian bagi para tetangganya.
Laporan terbaru dari The New York Times menyingkap tabir ketegangan sosial yang terjadi di balik pagar-pagar tinggi properti milik salah satu orang terkaya di dunia tersebut.
Zuckerberg dilaporkan telah menghabiskan lebih dari USD110 juta atau Rp1,76 triliun selama 14 tahun terakhir untuk mengakuisisi setidaknya 11 rumah di sepanjang Edgewood Drive dan Hamilton Avenue.
Namun, alih-alih menjadi hunian yang menyatu dengan komunitas, klaster pribadi ini justru menjadi sumber frustrasi kolektif.
Transformasi Menjadi "Bat Cave" Sang Miliarder
Proyek ini bukan sekadar renovasi ganti cat. Zuckerberg tengah merombak total lanskap lingkungan tersebut menjadi sebuah kompleks raksasa (compound) yang memadukan hunian tamu, taman-taman rimbun, lapangan pickleball, hingga kolam renang dengan teknologi hydrofloor.Di bawah permukaan tanah Palo Alto, Zuckerberg menambahkan ruang bawah tanah seluas 7.000 kaki persegi (sekitar 650 meter persegi).
Bagi warga sekitar, struktur masif ini lebih menyerupai sebuah "bunker" atau "Bat Cave" milik miliarder ketimbang ruang utilitas biasa.
Luas ini bahkan melampaui struktur bawah tanah seluas 5.000 kaki persegi (sekitar 464 meter persegi) yang ia bangun di perkebunan seluas 2.300 hektar miliknya di Kauai, Hawaii, yang juga sempat memicu kontroversi lokal.
Delapan Tahun Kebisingan
Ketidakpuasan warga memuncak akibat durasi pengerjaan yang seolah tanpa akhir. Selama hampir delapan tahun, tetangga dipaksa hidup berdampingan dengan blokade jalan, puing-puing debu, dan kebisingan yang tiada henti.Dalam upaya meredam gejolak sosial ini, staf Zuckerberg tidak hanya membagikan headphone. Ia juga mengirimkan botol-botol sparkling wine dan kotak-kotak donat Krispy Kreme saat periode konstruksi sedang berada di puncak kebisingannya.
Namun, gestur manis ini dinilai tidak efektif menutupi transformasi negatif lingkungan mereka.
Warga mengeluhkan ketidakhadiran pemilik (absentee ownership), barikade privasi yang kaku, serta kehadiran keamanan yang berlebihan, termasuk kamera pengintai yang mengarah ke properti tetangga dan patroli rutin penjaga keamanan swasta.
Kritik tajam juga mengarah pada aspek etis pemanfaatan lahan. Di tengah krisis perumahan akut yang melanda California, beberapa properti yang dibeli Zuckerberg justru dibiarkan kosong tak berpenghuni.
Bahkan, sempat ada upaya pemanfaatan properti untuk sekolah privat bagi anak-anak Zuckerberg dan segelintir lainnya, penggunaan yang tampaknya menabrak peraturan zonasi setempat.
Juru bicara Mark Zuckerberg membela diri dengan menyatakan kepada Fortune bahwa keluarga tersebut telah menjadikan Palo Alto rumah mereka selama lebih dari satu dekade dan menghargai keanggotaan mereka dalam komunitas, serta telah mengambil langkah-langkah "di atas dan melampaui persyaratan lokal" untuk menghindari gangguan.
Namun, rekam jejak menunjukkan pola yang berbeda. Pada 2016, pejabat Palo Alto pernah menolak proposal Zuckerberg untuk merobohkan empat rumah dan menggantinya dengan struktur yang lebih kecil demi basemen raksasa.
Meski ditolak, Zuckerberg menyiasatinya dengan melakukan renovasi secara bertahap, strategi yang oleh Dewan Kota Palo Alto dan warga dinilai sebagai eksploitasi celah zonasi.
(dan)
Lihat Juga :