Selamat dari Vonis Mati, tapi TikTok Resmi Dikendalikan Raksasa Yahudi Oracle dan Miliarder AS
Jum'at, 19 Desember 2025 - 20:40 WIB
loading...
Drama geopolitik TikTok akhirnya mereda setelah ByteDance sepakat melepas mayoritas kendali operasional Amerika Serikat kepada konsorsium Oracle demi menghindari pemblokiran total. Foto: ist
A
A
A
JAKARTA - Sengkarut nasib TikTok di Amerika Serikat akhirnya menemui titik terang yang dramatis. ByteDance, induk perusahaan raksasa asal China, resmi menandatangani kesepakatan mengikat untuk menyerahkan kendali operasional aplikasi video pendek tersebut kepada sekelompok investor elite Barat.
Langkah ini diambil demi menghindari pemblokiran total di Negeri Paman Sam, sekaligus mengakhiri tahun-tahun penuh ketidakpastian yang membayangi nasib 170 juta pengguna aktif di sana.
Kesepakatan ini bukan sekadar transaksi bisnis biasa, melainkan kompromi geopolitik tingkat tinggi.
Sebuah entitas baru bernama TikTok USDS Joint Venture LLC resmi dibentuk. Di bawah struktur anyar ini, konsorsium investor yang dipimpin oleh raksasa komputasi awan Oracle, grup ekuitas swasta Silver Lake, dan perusahaan investasi berbasis di Abu Dhabi, MGX, akan menguasai porsi saham mayoritas sebesar 80,1 persen.
Sementara itu, ByteDance harus puas mundur ke posisi minoritas dengan mempertahankan kepemilikan hanya sebesar 19,9 persen.
Nilai ini berada di bawah estimasi awal para analis, menyiratkan betapa mendesaknya posisi ByteDance untuk menyelamatkan asetnya.
Dalam memo internal yang dilihat oleh Reuters, CEO TikTok Shou Zi Chew menegaskan kepada karyawan bahwa usaha patungan (joint venture) ini akan beroperasi sebagai entitas independen.
Mandat utamanya adalah memegang otoritas penuh atas perlindungan data AS, keamanan algoritma, moderasi konten, dan jaminan perangkat lunak.
Oracle, yang sahamnya melonjak hampir 6 persen pada perdagangan pra-pasar Jumat, didapuk sebagai "mitra keamanan tepercaya" yang bertanggung jawab mengaudit kepatuhan dan menyimpan data sensitif pengguna di lingkungan cloud yang aman.
Namun, ada lapisan strategi bisnis yang menarik—dan kritis—di balik kesepakatan ini. ByteDance tidak sepenuhnya "melepas" mesin uangnya.
Sumber yang mengetahui masalah ini mengungkapkan bahwa entitas TikTok yang dikendalikan ByteDance akan tetap mengelola interoperabilitas produk global serta aktivitas komersial utama, termasuk e-commerce, periklanan, dan pemasaran.
Artinya, "jantung" pendapatan TikTok AS tetap berada di tangan ByteDance, sementara usaha patungan baru (JV) tersebut akan menerima sebagian pendapatan sebagai biaya atas layanan teknologi dan datanya.
Ini adalah pembagian peran yang cerdik: JV mengurus "backend" dan keamanan data yang menjadi kekhawatiran Washington, sementara ByteDance tetap memegang kendali atas mesin pencetak uang.
Rush Doshi, mantan pejabat Dewan Keamanan Nasional di era Joe Biden, mempertanyakan kejelasan status algoritma TikTok.
Masih belum terang benderang apakah algoritma tersebut benar-benar ditransfer, dilisensikan, atau sejatinya masih dikendalikan dari Beijing dengan Oracle hanya sekadar "mengawasi".
Suara sumbang juga datang dari Senator Demokrat, Elizabeth Warren. Ia menyebut kesepakatan ini sebagai "pengambilalihan oleh miliarder" yang penuh tanda tanya.
"Trump ingin menyerahkan lebih banyak kendali atas apa yang Anda tonton kepada teman-teman miliardernya. Rakyat Amerika berhak tahu apakah presiden membuat kesepakatan pintu belakang lainnya untuk pengambilalihan TikTok ini," kritik Warren di platform X.
Kritik ini merujuk pada kedekatan Trump dengan Larry Ellison, pendiri Oracle.
Kini, ironisnya, Trump jugalah yang merestui kesepakatan ini, mengklaim bahwa struktur baru tersebut telah memenuhi persyaratan divestasi di bawah undang-undang tahun 2024.
Dengan susunan dewan direksi baru di mana ByteDance hanya menunjuk satu dari tujuh kursi—sisanya dipegang mayoritas warga Amerika—kesepakatan ini diharapkan menjadi penutup dari drama ketegangan digital AS-China.
Bagi ByteDance, menjadi minoritas di atas kertas mungkin adalah harga yang pantas dibayar untuk tetap hidup di pasar terbesarnya, meskipun pertanyaan tentang siapa yang sebenarnya memegang kendali algoritma di balik layar mungkin tidak akan pernah benar-benar terjawab tuntas.
Langkah ini diambil demi menghindari pemblokiran total di Negeri Paman Sam, sekaligus mengakhiri tahun-tahun penuh ketidakpastian yang membayangi nasib 170 juta pengguna aktif di sana.
Kesepakatan ini bukan sekadar transaksi bisnis biasa, melainkan kompromi geopolitik tingkat tinggi.
Sebuah entitas baru bernama TikTok USDS Joint Venture LLC resmi dibentuk. Di bawah struktur anyar ini, konsorsium investor yang dipimpin oleh raksasa komputasi awan Oracle, grup ekuitas swasta Silver Lake, dan perusahaan investasi berbasis di Abu Dhabi, MGX, akan menguasai porsi saham mayoritas sebesar 80,1 persen.
Sementara itu, ByteDance harus puas mundur ke posisi minoritas dengan mempertahankan kepemilikan hanya sebesar 19,9 persen.
Valuasi dan Struktur yang Kompleks
Meski angka final tidak diungkap ke publik pada Kamis lalu, Wakil Presiden AS JD Vance pada September sempat menyebut bahwa valuasi perusahaan baru ini berada di kisaran USD14 miliar (Rp222 triliun).Nilai ini berada di bawah estimasi awal para analis, menyiratkan betapa mendesaknya posisi ByteDance untuk menyelamatkan asetnya.
Dalam memo internal yang dilihat oleh Reuters, CEO TikTok Shou Zi Chew menegaskan kepada karyawan bahwa usaha patungan (joint venture) ini akan beroperasi sebagai entitas independen.
Mandat utamanya adalah memegang otoritas penuh atas perlindungan data AS, keamanan algoritma, moderasi konten, dan jaminan perangkat lunak.
Oracle, yang sahamnya melonjak hampir 6 persen pada perdagangan pra-pasar Jumat, didapuk sebagai "mitra keamanan tepercaya" yang bertanggung jawab mengaudit kepatuhan dan menyimpan data sensitif pengguna di lingkungan cloud yang aman.
Namun, ada lapisan strategi bisnis yang menarik—dan kritis—di balik kesepakatan ini. ByteDance tidak sepenuhnya "melepas" mesin uangnya.
Sumber yang mengetahui masalah ini mengungkapkan bahwa entitas TikTok yang dikendalikan ByteDance akan tetap mengelola interoperabilitas produk global serta aktivitas komersial utama, termasuk e-commerce, periklanan, dan pemasaran.
Artinya, "jantung" pendapatan TikTok AS tetap berada di tangan ByteDance, sementara usaha patungan baru (JV) tersebut akan menerima sebagian pendapatan sebagai biaya atas layanan teknologi dan datanya.
Ini adalah pembagian peran yang cerdik: JV mengurus "backend" dan keamanan data yang menjadi kekhawatiran Washington, sementara ByteDance tetap memegang kendali atas mesin pencetak uang.
Skeptisisme dan Kritik Politik
Kesepakatan yang dijadwalkan rampung pada 22 Januari 2026 ini—hanya dua hari setelah tenggat waktu penundaan yang diberikan Presiden Donald Trump—tak lepas dari sorotan tajam.Rush Doshi, mantan pejabat Dewan Keamanan Nasional di era Joe Biden, mempertanyakan kejelasan status algoritma TikTok.
Masih belum terang benderang apakah algoritma tersebut benar-benar ditransfer, dilisensikan, atau sejatinya masih dikendalikan dari Beijing dengan Oracle hanya sekadar "mengawasi".
Suara sumbang juga datang dari Senator Demokrat, Elizabeth Warren. Ia menyebut kesepakatan ini sebagai "pengambilalihan oleh miliarder" yang penuh tanda tanya.
"Trump ingin menyerahkan lebih banyak kendali atas apa yang Anda tonton kepada teman-teman miliardernya. Rakyat Amerika berhak tahu apakah presiden membuat kesepakatan pintu belakang lainnya untuk pengambilalihan TikTok ini," kritik Warren di platform X.
Kritik ini merujuk pada kedekatan Trump dengan Larry Ellison, pendiri Oracle.
Akhir dari Perang Dingin Digital?
Perjalanan TikTok di AS adalah saga panjang yang bermula sejak Agustus 2020, ketika Trump pertama kali mencoba memblokir aplikasi ini atas alasan keamanan nasional.Kini, ironisnya, Trump jugalah yang merestui kesepakatan ini, mengklaim bahwa struktur baru tersebut telah memenuhi persyaratan divestasi di bawah undang-undang tahun 2024.
Dengan susunan dewan direksi baru di mana ByteDance hanya menunjuk satu dari tujuh kursi—sisanya dipegang mayoritas warga Amerika—kesepakatan ini diharapkan menjadi penutup dari drama ketegangan digital AS-China.
Bagi ByteDance, menjadi minoritas di atas kertas mungkin adalah harga yang pantas dibayar untuk tetap hidup di pasar terbesarnya, meskipun pertanyaan tentang siapa yang sebenarnya memegang kendali algoritma di balik layar mungkin tidak akan pernah benar-benar terjawab tuntas.
(dan)
Lihat Juga :