Generasi Emas yang Terabaikan Akhirnya Bersuara: AI Jadi Alat Baru bagi Ratusan Siswa SLB
Senin, 15 Desember 2025 - 14:05 WIB
loading...
A
A
A
Generative AI: Pemanfaatan AWS PartyRock untuk aplikasi berbasis kecerdasan buatan dengan koding sederhana.
Sebagai jaminan keberlanjutan, 50 pendidik terpilih bahkan mendapatkan sertifikasi AWS Cloud Practitioner Essentials, lisensi kompetensi yang diakui secara global, ditambah akses AWS Skill Builder gratis selama 12 bulan bagi sekolah peserta.
Direktur Utama Telkomsel, Nugroho, menegaskan bahwa program ini adalah wujud empowering untapped talents. "Telkomsel tidak hanya hadir untuk berbisnis. Tidak ada kesuksesan tanpa kolaborasi," ujarnya. Senada, Yashinta Bahana dari AWS menyebut kolaborasi ini vital untuk digitalisasi inklusif.
Program "Terampil di Awan" memang sukses mencetak talenta (370 orang di Fase 1 Jabodetabek dan 380 orang di Fase 2 Bandung), tetapi pertanyaan besarnya adalah: Siapkah industri menyerap mereka?
Melatih 750 orang adalah langkah awal yang brilian, namun akan menjadi sia-sia jika perusahaan-perusahaan di Indonesia—selain Telkomsel dan AWS—masih menerapkan syarat rekrutmen yang kaku dan diskriminatif.
![Generasi Emas yang Terabaikan Akhirnya Bersuara: AI Jadi Alat Baru bagi Ratusan Siswa SLB]()
Keahlian Generative AI yang dimiliki Liliq dari SLBN Centra PK-PLK atau Luthfi dari SLBN Cicendo tidak akan berguna jika pintu HRD tertutup hanya karena mereka duduk di kursi roda atau berkomunikasi dengan bahasa isyarat.
Sebagai jaminan keberlanjutan, 50 pendidik terpilih bahkan mendapatkan sertifikasi AWS Cloud Practitioner Essentials, lisensi kompetensi yang diakui secara global, ditambah akses AWS Skill Builder gratis selama 12 bulan bagi sekolah peserta.
Direktur Utama Telkomsel, Nugroho, menegaskan bahwa program ini adalah wujud empowering untapped talents. "Telkomsel tidak hanya hadir untuk berbisnis. Tidak ada kesuksesan tanpa kolaborasi," ujarnya. Senada, Yashinta Bahana dari AWS menyebut kolaborasi ini vital untuk digitalisasi inklusif.
Program "Terampil di Awan" memang sukses mencetak talenta (370 orang di Fase 1 Jabodetabek dan 380 orang di Fase 2 Bandung), tetapi pertanyaan besarnya adalah: Siapkah industri menyerap mereka?
Melatih 750 orang adalah langkah awal yang brilian, namun akan menjadi sia-sia jika perusahaan-perusahaan di Indonesia—selain Telkomsel dan AWS—masih menerapkan syarat rekrutmen yang kaku dan diskriminatif.

Keahlian Generative AI yang dimiliki Liliq dari SLBN Centra PK-PLK atau Luthfi dari SLBN Cicendo tidak akan berguna jika pintu HRD tertutup hanya karena mereka duduk di kursi roda atau berkomunikasi dengan bahasa isyarat.
Lihat Juga :