Melawan Algoritma Kebodohan: Jhonatan, Leni, dan Sir Pedot Buktikan TikTok Tak Sekadar Joget
Senin, 15 Desember 2025 - 10:07 WIB
loading...
A
A
A
Leni dan Sir Pedot: Melawan Kepunahan dan Kebodohan
Di posisi kedua, Leni hadir dengan kegelisahan mendalam: kepunahan bahasa ibu. Berangkat dari fakta UNESCO tentang menurunnya penutur bahasa daerah, Leni menjadikan TikTok sebagai laboratorium bahasa.Strateginya brilian; menggunakan fitur Multi-Guest untuk menciptakan ruang dialektika interaktif.
Bahasa Belitong yang nyaris senyap, kembali riuh dalam percakapan digital. Leni sadar, tanpa adaptasi ke pop-culture, bahasa daerah hanya akan menjadi catatan kaki sejarah.
Sementara itu, Sir Pedot (Firdaus) dari Malaysia, pemenang ketiga, mengisi kekosongan yang ditinggalkan institusi pendidikan formal. Ia membahas beasiswa, literasi digital, hingga public speaking. "Membawakan sesi LIVE butuh keberanian," akunya. Testimoni siswa yang akhirnya paham materi sekolah lewat TikTok adalah tamparan keras bagi sistem pendidikan konvensional yang seringkali kaku dan membosankan.
Executive Director ASEAN Foundation, Dr. Piti Srisangnam, berharap kolaborasi ini mendorong inklusivitas. Secara bisnis, mendorong kreator edukatif adalah investasi jangka panjang. Konten edukasi dan budaya memiliki retensi audiens yang lebih loyal dan "brand safety" yang tinggi, sesuatu yang sangat dicari oleh brand-brand premium yang enggan beriklan di konten joget vulgar.
(dan)
Lihat Juga :