Virus Corona Makin Berbahaya, Potong Serat Otot Jantung Jadi Potongan Kecil

Senin, 14 September 2020 - 18:46 WIB
loading...
Virus Corona Makin Berbahaya,...
Ketika para ilmuwan mencampurkan virus Corona baru dengan sel jantung di laboratorium, virus itu tampak mengukir atau memotong serat otot jantung menjadi fragmen kecil-kecil. Di sebelah kiri, gambar sel otot jantung yang sehat, yang memiliki serat panjang
A A A
JAKARTA - Studi terbaru menemukan fakta bahwa virus Corona baru telah memiliki kemampuan mengiris atau memotong serat otot jantung menjadi fragmen kecil -setidaknya ketika menginfeksi sel jantung di laboratorium. Temuan ini memperlihat kian ganasnya virus tersebut. (Baca juga: Bus Sekolah Tak Terpakai Disulap Jadi Hotel Berjalan )

Pemotongan serat otot ini, yang dapat merusak sel-sel jantung secara permanen, cukup menakutkan. Tetapi para peneliti menemukan bukti bahwa proses serupa juga dapat terjadi di hati pasien COVID-19.

Namun, temuan baru, yang dipublikasikan ke database pracetak bioRXiv pada 25 Agustus itu belum dipublikasikan dalam jurnal peer-review, atau terbukti terjadi pada manusia.

Penemuan ini tidak seperti apa pun yang pernah dilihat para peneliti sebelumnya -tidak ada penyakit lain yang diketahui memengaruhi sel jantung terpotong dengan cara ini. "Apa yang kami lihat benar-benar tidak normal," kata rekan penulis studi Todd McDevitt, peneliti senior di Gladstone Institutes, sebuah organisasi penelitian nirlaba di San Francisco, seperti dikutip Live Science.

Penemuan baru ini dapat menjelaskan bagaimana COVID-19 menyebabkan kerusakan pada jantung. Penelitian sebelumnya menemukan tanda-tanda kelainan jantung pada pasien COVID-19, termasuk radang otot jantung, bahkan pada kasus yang tergolong ringan.

Untuk studi baru, para peneliti menggunakan sel punca khusus untuk membuat tiga jenis sel jantung, yang dikenal sebagai kardiomiosit, fibroblas jantung, dan sel endotel. Di laboratorium, sel-sel ini kemudian terpapar SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan COVID-19.

Dari ketiga jenis sel tersebut, SARS-CoV-2 dapat menginfeksi dan membuat salinan dirinya hanya di dalam kardiomiosit, atau sel otot jantung.

Kardiomiosit mengandung serat otot yang terdiri dari unit-unit yang disebut sarkomer, yang penting untuk kontraksi otot yang menghasilkan detak jantung. Sarkomer ini biasanya berbaris ke arah yang sama untuk membentuk filamen panjang. Tetapi studi laboratorium mengungkapkan sesuatu yang aneh -filamen sarkomer dipotong menjadi fragmen kecil.

"Gangguan sarkomer yang kami temukan (di laboratorium) akan membuat sel otot jantung tidak mungkin berdetak dengan benar," kata rekan penulis studi Bruce Conklin, juga seorang peneliti senior di Gladstone Institutes, dalam pernyataan itu.

Tetapi temuan di laboratorium tidak selalu diterjemahkan ke dalam kehidupan nyata. Jadi para peneliti menganalisis sampel otopsi jaringan jantung dari tiga pasien COVID-19. Mereka melihat filamen sarkomer tidak teratur dan diatur ulang -sebuah pola yang mirip dengan, tetapi tidak persis sama dengan, apa yang terlihat dalam percobaan piring laboratorium.

Diperlukan lebih banyak penelitian untuk melihat apakah perubahan sarkomer yang terlihat pada sel jantung bersifat permanen. Para penulis mencatat, para ilmuwan perlu melakukan proses khusus untuk melihat sarkomer, yang biasanya tidak dilakukan, menjelaskan mengapa temuan dalam otopsi ini mungkin telah diabaikan hingga sekarang.

"Saya berharap pekerjaan kami memotivasi para dokter untuk meninjau sampel pasien mereka untuk mulai mencari fitur-fitur ini," kata McDevitt.

Para peneliti juga mengamati temuan aneh lainnya di percobaan laboratorium dan jaringan jantung dari pasien COVID-19. Mereka melihat bahwa untuk beberapa sel jantung, DNA di dalam inti sel tampaknya hilang. "Ini akan membuat sel-sel ini pada dasarnya 'mati otak' dan tidak dapat melakukan fungsi normal," kata para penulis.

Begitu para ilmuwan memahami bagaimana SARS-CoV-2 merusak sel jantung, mereka dapat menyaring obat untuk mengurangi efek ini. Misalnya, jika virus menggunakan enzim untuk memotong sarkomer, ada kemungkinan untuk menemukan obat yang memblokir enzim ini.

Namun, penulis mencatat bahwa masih belum jelas apakah virus secara langsung memotong sarkomer, atau apakah virus memicu sel untuk memotong serat melalui mekanisme lain.

"Penting untuk mengidentifikasi terapi pelindung, yang melindungi jantung dari kerusakan yang kami lihat pada model kami," kata McDevitt. "Bahkan jika Anda tidak dapat mencegah virus menginfeksi sel, Anda dapat memberikan obat kepada pasien untuk mencegah konsekuensi negatif ini terjadi saat penyakit itu ada." (Baca juga: Bima Arya Sebut Kota Bogor Zona Merah Lagi, Ini Faktanya )
(iqb)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Ilmuwan Mengembangkan...
Ilmuwan Mengembangkan Jaket Penghasil Air dari Udara Sekitar
Perang Rusia-Ukraina...
Perang Rusia-Ukraina Memicu Perlombaan Senjata AI
NASA Temukan Sesuatu...
NASA Temukan Sesuatu yang Misterius saat Perubahan Waktu Siang ke Malam
Israel Temukan Batu...
Israel Temukan Batu Suci Berusia 2.700 Tahun yang Tertulis dalam Alkitab
Facebook Luncurkan Mode...
Facebook Luncurkan Mode Pencarian AI, Begini Cara Pakainya
NASA Temukan Planet...
NASA Temukan Planet Raksasa dengan Suhu seperti di Bumi dan Dipenuhi Gas Metana
Jangan Sepelekan Saluran...
Jangan Sepelekan Saluran Cerna, Deteksi Dini demi Cegah Penyakit Serius
Program Binawan Eropa...
Program Binawan Eropa Antarkan 36 Perawat Indonesia Berkarier di Eropa
World Allergy Week 2026,...
World Allergy Week 2026, Dorong Anak Aktif dan Cerdas Sejak Dini
Rekomendasi
3 Pengamen di Bekasi...
3 Pengamen di Bekasi Coba Bakar Rumah Warga, Sempat Ditangkap dan Diselesaikan Melalui RJ
Gubernur Kaltim Resmikan...
Gubernur Kaltim Resmikan Pusat Layanan Jantung Modern di RSKD Balikpapan
Arus Peti Kemas Bandar...
Arus Peti Kemas Bandar Lampung Sepanjang 2026 Alami Peningkatan Signifikan
Berita Terkini
Gandeng SAP, Strategi...
Gandeng SAP, Strategi Digital Geo Dipa Mengelola Potensi Panas Bumi Lebih dari 800 MW
Meta Menemukan Tambang...
Meta Menemukan Tambang Emas Baru
Google dan A24 Berkolaborasi...
Google dan A24 Berkolaborasi Kembangkan Teknologi AI di Industri Film
Tanda-tanda Ponsel Anda...
Tanda-tanda Ponsel Anda sedang Diawasi yang Perlu Diketahui
Ilmuwan Mengembangkan...
Ilmuwan Mengembangkan Jaket Penghasil Air dari Udara Sekitar
Gandeng PT Samafitro,...
Gandeng PT Samafitro, Hytera Perkuat Jaringan Komunikasi Profesional di Indonesia
Infografis
6 Fakta Unik Vatikan,...
6 Fakta Unik Vatikan, Negara Kecil yang Jadi Sorotan Saat Natal
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved