Bitcoin Menggila! Harga Tembus Rp 2 Miliar, Dolar AS Justru Terkapar
Senin, 06 Oktober 2025 - 07:50 WIB
loading...
Jika dirupiahkan dengan kurs saat ini, nilai satu Bitcoin telah melampaui Rp2 miliar. Foto: ist
A
A
A
JAKARTA - Dunia keuangan digital diguncang hebat pada Minggu, 5 Oktober 2025. Bitcoin, sang raja aset kripto, secara sensasional meroket menembus rekor tertinggi sepanjang masa. Di saat yang sama, Dolar AS yang perkasa justru lunglai di hadapan mata uang utama lainnya.
Pada Minggu, siang harga satu keping Bitcoin secara resmi menyentuh angka fantastis USD125.245,57, mencatatkan kenaikan hampir 2,7% dalam waktu singkat.
Angka ini berhasil memecahkan rekor sebelumnya yang dicetak pada pertengahan Agustus lalu di level USD124.480. Jika dirupiahkan dengan kurs saat ini, nilai satu Bitcoin telah melampaui Rp2 miliar, angka psikologis yang dulu hanya ada dalam angan-angan para investor.
Kenaikan dramatis ini bukanlah kebetulan. Menurut laporan Reuters, reli gila-gilaan ini telah berlangsung selama delapan hari berturut-turut hingga Jumat lalu. Ada badai sempurna yang mendorong badak kripto ini mengamuk.
Penyebab utamanya adalah kombinasi antara kebijakan yang lebih "bersahabat" dari pemerintahan Presiden AS Donald Trump terhadap aset digital dan, yang lebih penting, serbuan masif dari para investor institusional.
Para "pemain kakap" di dunia keuangan kini tak lagi memandang Bitcoin sebelah mata, melainkan sebagai aset investasi yang serius.
Hal ini diperkuat oleh derasnya aliran dana yang masuk ke produk exchange-traded funds (ETF) Bitcoin.
Biang keladinya adalah awan kelabu ketidakpastian yang menyelimuti Washington. Ancaman government shutdown (penutupan layanan pemerintahan) di AS telah menunda rilis data-data ekonomi krusial, seperti data penggajian (payrolls), yang menjadi kompas untuk mengukur kesehatan ekonomi negara adidaya tersebut.
Namun, di balik euforia ini, tersimpan risiko yang tak boleh diabaikan. Kenaikan tajam dan cepat selalu mengundang potensi koreksi yang sama tajamnya. Reli delapan hari tanpa henti ini, meskipun didukung oleh fundamental yang kuat seperti adopsi institusional, tetap menjadi pengingat akan sifat Bitcoin yangsangatvolatil.
Pada Minggu, siang harga satu keping Bitcoin secara resmi menyentuh angka fantastis USD125.245,57, mencatatkan kenaikan hampir 2,7% dalam waktu singkat.
Angka ini berhasil memecahkan rekor sebelumnya yang dicetak pada pertengahan Agustus lalu di level USD124.480. Jika dirupiahkan dengan kurs saat ini, nilai satu Bitcoin telah melampaui Rp2 miliar, angka psikologis yang dulu hanya ada dalam angan-angan para investor.
Kenaikan dramatis ini bukanlah kebetulan. Menurut laporan Reuters, reli gila-gilaan ini telah berlangsung selama delapan hari berturut-turut hingga Jumat lalu. Ada badai sempurna yang mendorong badak kripto ini mengamuk.
Penyebab utamanya adalah kombinasi antara kebijakan yang lebih "bersahabat" dari pemerintahan Presiden AS Donald Trump terhadap aset digital dan, yang lebih penting, serbuan masif dari para investor institusional.
Para "pemain kakap" di dunia keuangan kini tak lagi memandang Bitcoin sebelah mata, melainkan sebagai aset investasi yang serius.
Hal ini diperkuat oleh derasnya aliran dana yang masuk ke produk exchange-traded funds (ETF) Bitcoin.
Pedang Bermata Dua: Saat Satu Pihak Pesta, Pihak Lain Merana
Ironisnya, saat Bitcoin berpesta pora, mata uang fiat paling dominan di dunia, Dolar AS, justru berada dalam tekanan. Laporan yang sama menyebutkan bahwa Dolar AS tergelincir dan mencatatkan kerugian selama beberapa minggu terhadap mata uang utama lainnya.Biang keladinya adalah awan kelabu ketidakpastian yang menyelimuti Washington. Ancaman government shutdown (penutupan layanan pemerintahan) di AS telah menunda rilis data-data ekonomi krusial, seperti data penggajian (payrolls), yang menjadi kompas untuk mengukur kesehatan ekonomi negara adidaya tersebut.
Namun, di balik euforia ini, tersimpan risiko yang tak boleh diabaikan. Kenaikan tajam dan cepat selalu mengundang potensi koreksi yang sama tajamnya. Reli delapan hari tanpa henti ini, meskipun didukung oleh fundamental yang kuat seperti adopsi institusional, tetap menjadi pengingat akan sifat Bitcoin yangsangatvolatil.
(dan)
Lihat Juga :