Laptop Rp9 Triliun: Membedah Spesifikasi Chromebook di Tengah Skandal Korupsi Pendidikan
Rabu, 10 September 2025 - 15:13 WIB
loading...
Banyak yang penasaran dengan spesifikasi laptop Zyrex Kemendikbud yang melibatkan anggaran Rp9 triliun. Foto: Zyrex Indonesia
A
A
A
JAKARTA - Benda ini seharusnya menjadi kunci akses menuju masa depan bagi jutaan siswa di Indonesia. Sebuah laptop ramping, ringan, dan sederhana bernama Chromebook, didatangkan melalui proyek digitalisasi pendidikan yang ambisius.
Namun, program yang digadang-gadang sebagai jembatan pemerataan teknologi itu kini justru menjadi pusat skandal, berada di tengah pusaran dugaan korupsi senilai Rp9 triliun yang menyeret nama mantan Menteri Pendidikan, Nadiem Makarim.
Di luar hiruk pikuk proses hukum, muncul pertanyaan yang lebih mendasar dan menyentuh langsung ruang-ruang kelas: perangkat seperti apakah yang sebenarnya diterima oleh para siswa?
Dengan anggaran sebesar itu, publik berhak mengetahui spesifikasi mesin yang menjadi inti dari proyek ini. Apakah ia benar-benar alat pemberdaya, atau sekadar perangkat terbatas yang nilainya tak sepadan?
Analogi sederhananya, jika laptop biasa adalah bengkel lengkap dengan segala peralatannya, maka Chromebook lebih mirip sebuah kunci gerbang yang efisien.
Fungsi utamanya bukan untuk menyimpan banyak data atau menjalankan aplikasi berat secara lokal, melainkan untuk membuka akses secepat mungkin ke dunia internet dan layanan berbasis cloud. Aktivitas seperti mengetik di Google Docs, menjelajah web, atau mengakses platform belajar online adalah habitat aslinya.
Spesifikasi ini dirancang untuk menekan biaya dan memaksimalkan fungsi dasarnya. Mari kita bedah komponennya satu per satu:
Otak Pemroses: Tenaganya berasal dari prosesor hemat daya seperti Intel Celeron atau MediaTek. Chipset ini dirancang bukan untuk kecepatan, melainkan untuk efisiensi agar baterai tahan lama.
Memori (RAM): Didukung RAM 4 GB, kapasitas yang cukup untuk menjalankan beberapa tab browser atau aplikasi ringan secara bersamaan. Namun, kapasitas ini akan terasa kurang optimal jika siswa mencoba melakukan multitasking berat.
Penyimpanan Lokal: Ruang simpannya sangat terbatas, berkisar antara 32 hingga 64 GB dengan teknologi eMMC, bukan SSD yang lebih cepat. Keterbatasan ini disengaja, karena pengguna didorong untuk menyimpan semua file di layanan cloud Google.
Layar dan Bobot: Tampilannya menggunakan layar berukuran 11,6 inci dengan resolusi HD. Ukurannya yang mungil membuat bobotnya sangat ringan, hanya sekitar 1,1 hingga 1,3 kilogram, sehingga mudah dibawa oleh siswa.
Daya Tahan: Salah satu keunggulan utamanya adalah baterai yang mampu bertahan 8 hingga 12 jam, cukup untuk menemani kegiatan belajar seharian penuh tanpa perlu mengisi daya.
Konektivitas: Perangkat ini dilengkapi port esensial seperti USB-C, USB 3.0, jack audio, dan pembaca kartu memori.
Meskipun ada model Chromebook dengan spesifikasi lebih tinggi (seperti RAM 8 GB atau penyimpanan SSD), versi itulah yang jarang digunakan dalam proyek pengadaan massal karena harganya yang lebih mahal.
Namun, di sinilah letak dilemanya. Keunggulan tersebut bersandar pada satu asumsi vital: ketersediaan koneksi internet yang stabil dan merata.
Di banyak daerah di Indonesia, asumsi ini masih menjadi kemewahan. Tanpa internet yang memadai, Chromebook dengan penyimpanan lokal yang minim berisiko menjadi perangkat yang lumpuh fungsinya.
Pada akhirnya, di luar persoalan hukum yang membelitnya, proyek Chromebook ini menyisakan sebuah refleksi kritis. Perangkat yang kini berada di tangan para siswa adalah sebuah alat dengan dua wajah: efisien dan aman dalam kondisi ideal, namun rentan dan terbatas di tengah realitas infrastruktur digital yang belum merata.
Pertanyaan besarnya tetap menggantung: apakah ini pilihan terbaik dari sebuah investasi senilai Rp 9 triliun untuk masa depan pendidikan Indonesia?
M/GShofwatuzzahro
Namun, program yang digadang-gadang sebagai jembatan pemerataan teknologi itu kini justru menjadi pusat skandal, berada di tengah pusaran dugaan korupsi senilai Rp9 triliun yang menyeret nama mantan Menteri Pendidikan, Nadiem Makarim.
Di luar hiruk pikuk proses hukum, muncul pertanyaan yang lebih mendasar dan menyentuh langsung ruang-ruang kelas: perangkat seperti apakah yang sebenarnya diterima oleh para siswa?
Dengan anggaran sebesar itu, publik berhak mengetahui spesifikasi mesin yang menjadi inti dari proyek ini. Apakah ia benar-benar alat pemberdaya, atau sekadar perangkat terbatas yang nilainya tak sepadan?
Mengenal Chromebook: Jendela Menuju Internet, Bukan Gudang Data
Sebelum menilai lebih jauh, penting untuk memahami filosofi di balik Chromebook. Ini bukanlah laptop konvensional seperti yang dikenal banyak orang. Alih-alih menjalankan sistem operasi Windows atau macOS yang kompleks, perangkat ini menggunakan Chrome OS, sebuah sistem operasi ringan besutan Google.Analogi sederhananya, jika laptop biasa adalah bengkel lengkap dengan segala peralatannya, maka Chromebook lebih mirip sebuah kunci gerbang yang efisien.
Fungsi utamanya bukan untuk menyimpan banyak data atau menjalankan aplikasi berat secara lokal, melainkan untuk membuka akses secepat mungkin ke dunia internet dan layanan berbasis cloud. Aktivitas seperti mengetik di Google Docs, menjelajah web, atau mengakses platform belajar online adalah habitat aslinya.
Melihat ke Dalam Mesin: Spesifikasi di Atas Kertas
Laptop Chromebook yang dibagikan dalam proyek pengadaan pemerintah umumnya berada di kelas entry-level.Spesifikasi ini dirancang untuk menekan biaya dan memaksimalkan fungsi dasarnya. Mari kita bedah komponennya satu per satu:
Otak Pemroses: Tenaganya berasal dari prosesor hemat daya seperti Intel Celeron atau MediaTek. Chipset ini dirancang bukan untuk kecepatan, melainkan untuk efisiensi agar baterai tahan lama.
Memori (RAM): Didukung RAM 4 GB, kapasitas yang cukup untuk menjalankan beberapa tab browser atau aplikasi ringan secara bersamaan. Namun, kapasitas ini akan terasa kurang optimal jika siswa mencoba melakukan multitasking berat.
Penyimpanan Lokal: Ruang simpannya sangat terbatas, berkisar antara 32 hingga 64 GB dengan teknologi eMMC, bukan SSD yang lebih cepat. Keterbatasan ini disengaja, karena pengguna didorong untuk menyimpan semua file di layanan cloud Google.
Layar dan Bobot: Tampilannya menggunakan layar berukuran 11,6 inci dengan resolusi HD. Ukurannya yang mungil membuat bobotnya sangat ringan, hanya sekitar 1,1 hingga 1,3 kilogram, sehingga mudah dibawa oleh siswa.
Daya Tahan: Salah satu keunggulan utamanya adalah baterai yang mampu bertahan 8 hingga 12 jam, cukup untuk menemani kegiatan belajar seharian penuh tanpa perlu mengisi daya.
Konektivitas: Perangkat ini dilengkapi port esensial seperti USB-C, USB 3.0, jack audio, dan pembaca kartu memori.
Meskipun ada model Chromebook dengan spesifikasi lebih tinggi (seperti RAM 8 GB atau penyimpanan SSD), versi itulah yang jarang digunakan dalam proyek pengadaan massal karena harganya yang lebih mahal.
Sebuah Pilihan Rasional yang Sarat Dilema
Di atas kertas, pilihan Chromebook untuk pendidikan massal tampak rasional. Harganya terjangkau, sistem keamanannya kuat karena dikontrol langsung oleh Google, baterainya awet, dan integrasinya dengan ekosistem Google Workspace sangat mendukung pembelajaran kolaboratif.Namun, di sinilah letak dilemanya. Keunggulan tersebut bersandar pada satu asumsi vital: ketersediaan koneksi internet yang stabil dan merata.
Di banyak daerah di Indonesia, asumsi ini masih menjadi kemewahan. Tanpa internet yang memadai, Chromebook dengan penyimpanan lokal yang minim berisiko menjadi perangkat yang lumpuh fungsinya.
Pada akhirnya, di luar persoalan hukum yang membelitnya, proyek Chromebook ini menyisakan sebuah refleksi kritis. Perangkat yang kini berada di tangan para siswa adalah sebuah alat dengan dua wajah: efisien dan aman dalam kondisi ideal, namun rentan dan terbatas di tengah realitas infrastruktur digital yang belum merata.
Pertanyaan besarnya tetap menggantung: apakah ini pilihan terbaik dari sebuah investasi senilai Rp 9 triliun untuk masa depan pendidikan Indonesia?
M/GShofwatuzzahro
(dan)
Lihat Juga :