Di Balik Isu Demo Ojol, Tangan Gaib Diduga Bungkam Instagram, KPI Kirim Surat Imbauan ke Media
Jum'at, 29 Agustus 2025 - 19:26 WIB
loading...
Penampilan story-story terkait demo mahasiswa dan ojol hari ini yang tidak bisa terunggah di Instagram. Foto: Sindonews
A
A
A
JAKARTA - Sebuah "pembungkaman digital" diduga tengah terjadi di tengah panasnya isu demonstrasi besar yang menuntut keadilan atas tewasnya pengemudi ojek online, Affan Kurniawan.
Pada Jumat malam (29/8), ribuan warganet di Instagram melaporkan sebuah anomali aneh: mereka tiba-tiba tidak bisa membagikan unggahan terkait aksi protes ke dalam Story mereka.
Insiden ini sontak memicu badai spekulasi dan kemarahan. Apakah ini sekadar glitch teknis biasa, atau ada "tangan gaib" yang secara sengaja mencoba meredam gelombang solidaritas digital yang sedang membesar?
Pertanyaan itu laksana memantik api di tumpukan jerami kering. Kolom komentar langsung dibanjiri oleh paduan suara keluhan dari warganet yang mengalami hal serupa.
“Dari jam 5 sore sudah tidak bisa share. Sepertinya sebentar lagi alarm darurat mulai diaktifkan,” tulis akun @rumahsangrai, menyiratkan adanya upaya pembatasan yang sistematis.
“Sedang diblokir, kondisi sedang darurat takut tidak terkendali,” timpal akun @johan_cang, secara langsung menuduh adanya pemblokiran.
SindoNews sendiri mencoba langsung untuk membagikan postingan-postingan yang terkahit demo hari ini ke Story Instagram. Ternyata, hasilnya sama: tidak semua postingan bisa dilakukan alias gagal. Bahkan, lebih banyak yang gagal daripada yang berhasil.
“Story not uploaded. Something went wrong with your upload. Please try again later (Story tidak terunggah. Ada yang salah dengan unggahan Anda. Silahkan coba lagi nanti,”.
Memang sulit untuk membuktikan secara teknis apakah Instagram sengaja melakukan ini atas permintaan pihak tertentu. Tapi di era sekarang, anomali teknis yang terjadi secara serempak pada isu spesifik seperti ini sangat sulit untuk dipercaya sebagai sebuah kebetulan semata.
Dalam surat bernomor 309/KPID-DKI/VIII/2025 yang ditujukan kepada para pimpinan lembaga penyiaran, KPID secara "preventif" mengimbau media untuk berhati-hati dalam meliput aksi unjuk rasa. Beberapa poin penting dalam imbauan tersebut antara lain:
Tidak menyiarkan siaran atau liputan yang bernuansa provokatif, eksploitatif, dan eskalasi kemarahan masyarakat.
Tidak menyajikan sadistis atau kekerasan.
Menjunjung tinggi prinsip jurnalistik seperti akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk.
Surat yang ditandatangani oleh Ketua KPID DKI Jakarta, Puji Hartoyo, SE.MM, ini sontak ditafsirkan oleh sebagian warganet sebagai sebuah upaya "pembungkaman halus" terhadap media arus utama, yang kini seolah beririsan dengan dugaan pembatasan dimediasosial.
Pada Jumat malam (29/8), ribuan warganet di Instagram melaporkan sebuah anomali aneh: mereka tiba-tiba tidak bisa membagikan unggahan terkait aksi protes ke dalam Story mereka.
Insiden ini sontak memicu badai spekulasi dan kemarahan. Apakah ini sekadar glitch teknis biasa, atau ada "tangan gaib" yang secara sengaja mencoba meredam gelombang solidaritas digital yang sedang membesar?
Paduan Suara Keluhan di Jagat Maya
Akun-akun berita alternatif dan aktivis seperti @opinirakjat, misalnya, secara terbuka bertanya, "Banyak yang tidak bisa share postingan kami di story-nya. Ada yang tahu mengapa?"Pertanyaan itu laksana memantik api di tumpukan jerami kering. Kolom komentar langsung dibanjiri oleh paduan suara keluhan dari warganet yang mengalami hal serupa.
“Dari jam 5 sore sudah tidak bisa share. Sepertinya sebentar lagi alarm darurat mulai diaktifkan,” tulis akun @rumahsangrai, menyiratkan adanya upaya pembatasan yang sistematis.
“Sedang diblokir, kondisi sedang darurat takut tidak terkendali,” timpal akun @johan_cang, secara langsung menuduh adanya pemblokiran.
SindoNews sendiri mencoba langsung untuk membagikan postingan-postingan yang terkahit demo hari ini ke Story Instagram. Ternyata, hasilnya sama: tidak semua postingan bisa dilakukan alias gagal. Bahkan, lebih banyak yang gagal daripada yang berhasil.
“Story not uploaded. Something went wrong with your upload. Please try again later (Story tidak terunggah. Ada yang salah dengan unggahan Anda. Silahkan coba lagi nanti,”.
Memang sulit untuk membuktikan secara teknis apakah Instagram sengaja melakukan ini atas permintaan pihak tertentu. Tapi di era sekarang, anomali teknis yang terjadi secara serempak pada isu spesifik seperti ini sangat sulit untuk dipercaya sebagai sebuah kebetulan semata.
Surat 'Peringatan' dari Komisi Penyiaran
Di tengah rumor pembungkaman digital ini, muncul sebuah dokumen yang semakin menambah panas situasi. Sebuah surat resmi berkop Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Provinsi DKI Jakarta tertanggal 28 Agustus 2025 beredar luas.Dalam surat bernomor 309/KPID-DKI/VIII/2025 yang ditujukan kepada para pimpinan lembaga penyiaran, KPID secara "preventif" mengimbau media untuk berhati-hati dalam meliput aksi unjuk rasa. Beberapa poin penting dalam imbauan tersebut antara lain:
Tidak menyiarkan siaran atau liputan yang bernuansa provokatif, eksploitatif, dan eskalasi kemarahan masyarakat.
Tidak menyajikan sadistis atau kekerasan.
Menjunjung tinggi prinsip jurnalistik seperti akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk.
Surat yang ditandatangani oleh Ketua KPID DKI Jakarta, Puji Hartoyo, SE.MM, ini sontak ditafsirkan oleh sebagian warganet sebagai sebuah upaya "pembungkaman halus" terhadap media arus utama, yang kini seolah beririsan dengan dugaan pembatasan dimediasosial.
(dan)