Jepang Luncurkan Video Dahsyatnya Letusan Gunung Fuji Meletus dengan AI
Kamis, 28 Agustus 2025 - 13:56 WIB
loading...
Video letusan gunung Fuji. FOTO/ Japan Times
A
A
A
TOKYO - Pemerintah Metropolitan Tokyo telah merilis video simulasi letusan Gunung Fuji yang dibuat menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI), yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan mempersiapkan warga menghadapi kemungkinan bencana besar yang dapat melanda ibu kota.
Tokyo merilis video AI berdurasi tiga menit yang menunjukkan Gunung Fuji meletus dan abu tebal menyelimuti kota, sebagai peringatan visual bagi warga.
Abu diperkirakan akan tiba dalam 1-2 jam setelah letusan, yang akan memengaruhi transportasi, listrik, dan kesehatan lebih dari 37 juta orang di wilayah metropolitan tersebut.
Warga diimbau untuk menyimpan persediaan dasar dan menghindari keluar rumah selama hujan abu; video tersebut telah dipuji sebagai media edukasi, tetapi beberapa orang khawatir hal itu dapat memicu kepanikan.
Video berdurasi tiga menit tersebut menggambarkan pemandangan dramatis; awan debu kelabu mengepul dari Gunung Fuji, diikuti oleh abu vulkanik, menyelimuti cakrawala Tokyo, menenggelamkan bangunan dan jalan dalam kabut tebal.
Narasi video tersebut memperingatkan bahwa "momen itu bisa datang tanpa peringatan," yang menekankan betapa cepatnya dampak letusan dapat dirasakan.
Menurut pihak berwenang, abu vulkanik diperkirakan akan mencapai Tokyo dalam satu hingga dua jam setelah letusan, dengan akumulasi antara 2 dan 10 sentimeter di wilayah perkotaan.
Hal ini dapat menyebabkan gangguan besar pada transportasi umum, pasokan listrik, dan sistem komunikasi, serta menimbulkan risiko kesehatan bagi lebih dari 37 juta penduduk wilayah metropolitan tersebut.
Rilis video tersebut bertepatan dengan Hari Pencegahan Bencana Gunung Berapi Jepang, dan disertai dengan pedoman baru yang mengimbau penduduk untuk menyimpan persediaan makanan dan air setidaknya selama tiga hari, mengenakan masker dan kacamata pelindung, serta menghindari keluar rumah selama hujan abu.
Para ahli dari Universitas Nagoya menjelaskan bahwa abu vulkanik terdiri dari partikel halus seperti serbuk kaca, yang dapat merusak paru-paru, mata, dan sistem kelistrikan jika tidak ditangani dengan benar.
Meskipun belum ada tanda-tanda letusan dalam waktu dekat, Gunung Fuji masih tergolong gunung berapi aktif, dengan letusan terakhir terjadi pada tahun 1707.
Studi pemerintah sebelumnya memperkirakan bahwa letusan besar dapat menghasilkan hingga 1,7 miliar meter kubik abu, dengan kerugian ekonomi mencapai ¥2,5 triliun.
Video tersebut mendapat beragam reaksi di media sosial, beberapa memuji pendekatan visual tersebut sebagai alat edukasi yang efektif, sementara yang lain menyatakan kekhawatiran bahwa video tersebut dapat menyebabkan kepanikan atau memengaruhi sektor pariwisata.
Namun, pihak berwenang bersikeras bahwa tujuan utamanya adalah untuk membantu masyarakat "membayangkan skenario nyata" sehingga mereka lebih siap secara mental dan fisik untuk menghadapi segala kemungkinan.
Tokyo merilis video AI berdurasi tiga menit yang menunjukkan Gunung Fuji meletus dan abu tebal menyelimuti kota, sebagai peringatan visual bagi warga.
Abu diperkirakan akan tiba dalam 1-2 jam setelah letusan, yang akan memengaruhi transportasi, listrik, dan kesehatan lebih dari 37 juta orang di wilayah metropolitan tersebut.
Warga diimbau untuk menyimpan persediaan dasar dan menghindari keluar rumah selama hujan abu; video tersebut telah dipuji sebagai media edukasi, tetapi beberapa orang khawatir hal itu dapat memicu kepanikan.
Video berdurasi tiga menit tersebut menggambarkan pemandangan dramatis; awan debu kelabu mengepul dari Gunung Fuji, diikuti oleh abu vulkanik, menyelimuti cakrawala Tokyo, menenggelamkan bangunan dan jalan dalam kabut tebal.
Narasi video tersebut memperingatkan bahwa "momen itu bisa datang tanpa peringatan," yang menekankan betapa cepatnya dampak letusan dapat dirasakan.
Menurut pihak berwenang, abu vulkanik diperkirakan akan mencapai Tokyo dalam satu hingga dua jam setelah letusan, dengan akumulasi antara 2 dan 10 sentimeter di wilayah perkotaan.
Hal ini dapat menyebabkan gangguan besar pada transportasi umum, pasokan listrik, dan sistem komunikasi, serta menimbulkan risiko kesehatan bagi lebih dari 37 juta penduduk wilayah metropolitan tersebut.
Rilis video tersebut bertepatan dengan Hari Pencegahan Bencana Gunung Berapi Jepang, dan disertai dengan pedoman baru yang mengimbau penduduk untuk menyimpan persediaan makanan dan air setidaknya selama tiga hari, mengenakan masker dan kacamata pelindung, serta menghindari keluar rumah selama hujan abu.
Para ahli dari Universitas Nagoya menjelaskan bahwa abu vulkanik terdiri dari partikel halus seperti serbuk kaca, yang dapat merusak paru-paru, mata, dan sistem kelistrikan jika tidak ditangani dengan benar.
Meskipun belum ada tanda-tanda letusan dalam waktu dekat, Gunung Fuji masih tergolong gunung berapi aktif, dengan letusan terakhir terjadi pada tahun 1707.
Studi pemerintah sebelumnya memperkirakan bahwa letusan besar dapat menghasilkan hingga 1,7 miliar meter kubik abu, dengan kerugian ekonomi mencapai ¥2,5 triliun.
Video tersebut mendapat beragam reaksi di media sosial, beberapa memuji pendekatan visual tersebut sebagai alat edukasi yang efektif, sementara yang lain menyatakan kekhawatiran bahwa video tersebut dapat menyebabkan kepanikan atau memengaruhi sektor pariwisata.
Namun, pihak berwenang bersikeras bahwa tujuan utamanya adalah untuk membantu masyarakat "membayangkan skenario nyata" sehingga mereka lebih siap secara mental dan fisik untuk menghadapi segala kemungkinan.
(wbs)
Lihat Juga :