Sinyal Bahaya dari Pemerintah: Panggilan Video WhatsApp & Zoom Terancam Diblokir, Dalihnya Selamatkan Operator Seluler
Jum'at, 18 Juli 2025 - 15:41 WIB
loading...
Wacana pemblokiran voice dan video call WhatsApp akan berdampak buruk bagi Indonesia. Foto: Sindonews/ChatGPT
A
A
A
JAKARTA - Panggilan video WhatsApp dengan keluarga di kampung atau rapat daring via Zoom telah menjadi jantung komunikasi sehari-hari. Tapi, pemerintah melempar wacana yang mengkhawatirkan. Sebuah sinyal bahaya bahwa kemudahan yang kita nikmati ini terancam akan dibatasi atau bahkan diblokir.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) tengah mengkaji kemungkinan untuk membuat aturan yang membatasi layanan panggilan suara dan video melalui internet (VoIP), yang mencakup aplikasi vital seperti WhatsApp, Zoom, dan Google Meet.
Dalihnya? Menyelamatkan operator seluler yang dianggap "berdarah-darah" membangun infrastruktur jaringan, sementara para raksasa teknologi asing (OTT) seperti WhatsApp hanya menumpang gratis tanpa memberikan kontribusi.
"Tujuannya agar sama-sama menguntungkan. Sekarang kan nggak ada kontribusi dari teman-teman OTT itu, berdarah-darah yang bangun investasi itu operator seluler," ujar Denny Setiawan, Direktur Strategi dan Kebijakan Infrastruktur Digital Komdigi, Jumat (18/7/2025).
Denny bahkan mencontohkan negara seperti Uni Emirat Arab (UEA) di mana layanan teks WhatsApp diizinkan, namun panggilan suara dan videonya diblokir. "Jadi, yang basic service (layanan dasar) itu tetap, tapi yang call dan video yang dibatasi," jelasnya.
Meski ia buru-buru menambahkan bahwa ini masih "wacana awal" yang akan dikaji panjang, gagasan ini sendiri telah membuka Kotak Pandora yang berbahaya bagi masa depan digital Indonesia.
Memblokir layanan ini sama dengan membebankan biaya operasional yang lebih tinggi dan menghambat laju inovasi.
Pengalaman di Maroko, yang sempat memblokir VoIP namun akhirnya mencabutnya kembali setelah gelombang protes publik yang masif, seharusnya menjadi pelajaran berharga.
Pada akhirnya, wacana ini adalah sebuah pertaruhan yang sangat berbahaya. Apakah "menyelamatkan" operator seluler dari persaingan sepadan dengan risiko melumpuhkan ekonomi digital, memisahkan jutaan keluarga, dan membuka pintu bagi pembatasan kebebasan di masa depan? Publik kini hanya bisa berharap, wacana ini akan tetap menjadi wacana, dan tidak pernah menjadi kenyataan paham di layarponselmereka.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) tengah mengkaji kemungkinan untuk membuat aturan yang membatasi layanan panggilan suara dan video melalui internet (VoIP), yang mencakup aplikasi vital seperti WhatsApp, Zoom, dan Google Meet.
Dalihnya? Menyelamatkan operator seluler yang dianggap "berdarah-darah" membangun infrastruktur jaringan, sementara para raksasa teknologi asing (OTT) seperti WhatsApp hanya menumpang gratis tanpa memberikan kontribusi.
"Tujuannya agar sama-sama menguntungkan. Sekarang kan nggak ada kontribusi dari teman-teman OTT itu, berdarah-darah yang bangun investasi itu operator seluler," ujar Denny Setiawan, Direktur Strategi dan Kebijakan Infrastruktur Digital Komdigi, Jumat (18/7/2025).
Denny bahkan mencontohkan negara seperti Uni Emirat Arab (UEA) di mana layanan teks WhatsApp diizinkan, namun panggilan suara dan videonya diblokir. "Jadi, yang basic service (layanan dasar) itu tetap, tapi yang call dan video yang dibatasi," jelasnya.
Meski ia buru-buru menambahkan bahwa ini masih "wacana awal" yang akan dikaji panjang, gagasan ini sendiri telah membuka Kotak Pandora yang berbahaya bagi masa depan digital Indonesia.
Analisis Dampak: Mundur ke Zaman Kegelapan Digital?
Jika wacana ini benar-benar menjadi kebijakan, dampaknya akan jauh lebih luas dan merusak daripada sekadar "menyelamatkan" keuntungan operator seluler. Indonesia berisiko mundur ke zaman kegelapan digital.Pukulan Telak bagi Ekonomi Rakyat dan UMKM
Di era ekonomi digital, Zoom, Google Meet, dan panggilan WhatsApp adalah urat nadi bisnis. Para pekerja lepas (freelancer), pelaku UMKM, hingga perusahaan rintisan (startup) sangat bergantung pada layanan ini untuk berkomunikasi dengan klien secara efisien dan murah.Memblokir layanan ini sama dengan membebankan biaya operasional yang lebih tinggi dan menghambat laju inovasi.
Memutus Tali Silaturahmi Jutaan Keluarga
Bagi jutaan rakyat Indonesia, terutama para Pekerja Migran Indonesia (PMI) di luar negeri dan mereka yang merantau, panggilan video WhatsApp adalah satu-satunya cara terjangkau untuk melihat wajah orang tua, pasangan, dan anak-anak di kampung halaman. Memblokir fitur ini bukan hanya soal ekonomi, tapi soal memutus tali emosional yang vital bagi kohesi sosial. Biaya panggilan telepon internasional konvensional bisa puluhan kali lipat lebih mahal.Ancaman bagi Kebebasan Berekspresi dan Informasi
Secara global, pemblokiran layanan VoIP seringkali diasosiasikan dengan rezim-rezim yang membatasi kebebasan berekspresi, seperti di China, Iran, dan Korea Utara. Meskipun dalih pemerintah saat ini adalah ekonomi, kebijakan ini menciptakan preseden berbahaya yang di kemudian hari bisa disalahgunakan untuk tujuan pengawasan dan pembungkaman suara kritis.Kesenjangan Digital Semakin Menganga
Alih-alih mempercepat inklusi digital, kebijakan ini justru akan memperlebar kesenjangan. Hanya mereka yang mampu membayar mahal untuk pulsa telepon internasional yang bisa berkomunikasi, sementara masyarakat berpenghasilan rendah akan semakin terisolasi. Ini adalah sebuah langkah mundur yang ironis di saat pemerintah menggembar-gemborkan visi Indonesia Digital 2045.Realitas Global: Blokir Tak Efektif, Oposisi Publik Kuat
Negara-negara yang memberlakukan blokir VoIP seringkali menghadapi perlawanan dari warganya sendiri. Pengguna yang cerdas akan dengan mudah mengakali blokir tersebut dengan menggunakan VPN (Virtual Private Network), yang pada akhirnya justru bisa memperlambat koneksi internet secara keseluruhan dan menciptakan permainan kucing-kucingan yang tidak produktif antara pemerintah dan rakyatnya.Pengalaman di Maroko, yang sempat memblokir VoIP namun akhirnya mencabutnya kembali setelah gelombang protes publik yang masif, seharusnya menjadi pelajaran berharga.
Pada akhirnya, wacana ini adalah sebuah pertaruhan yang sangat berbahaya. Apakah "menyelamatkan" operator seluler dari persaingan sepadan dengan risiko melumpuhkan ekonomi digital, memisahkan jutaan keluarga, dan membuka pintu bagi pembatasan kebebasan di masa depan? Publik kini hanya bisa berharap, wacana ini akan tetap menjadi wacana, dan tidak pernah menjadi kenyataan paham di layarponselmereka.
(dan)
Lihat Juga :