Wabah Digital di Saku: Serangan Malware di Ponsel Meledak, 12 Juta Pengguna Jadi Korban
Sabtu, 07 Juni 2025 - 07:06 WIB
loading...
Serangan malware di HP terus menunjukkan peningkatan yang membuat pengguna harus waspada. Foto: Gemini
A
A
A
JAKARTA - Lupakan sejenak tentang keamanan komputer Anda. Medan perang baru bagi para penjahat siber kini ada di dalam genggaman tangan. Laporan terbaru dari Kaspersky melukiskan gambaran suram: terjadi ledakan serangan terhadap ponsel pintar di awal 2025, dengan lebih dari 12 juta pengguna di seluruh dunia menjadi target hanya dalam tiga bulan pertama.
Angka ini bukan sekadar statistik. Ini adalah lonjakan serangan sebesar 36% dibandingkan kuartal sebelumnya, sebuah sinyal bahaya bahwa ponsel yang kita anggap aman kini telah menjadi sarang para penipu digital. Kaspersky mendeteksi lebih dari 180.000 sampel malware baru, meningkat 27%, yang menunjukkan betapa agresif dan cepatnya para penjahat ini berinovasi.
Namun, yang lebih mengerikan adalah aktivitas backdoor Triada. Ini adalah "hantu" yang bahkan mungkin sudah menghuni ponsel Anda sejak pertama kali Anda membukanya dari kotak.
Laporan menyebutkan, malware ini kemungkinan dipasang oleh penyerang di suatu titik setelah ponsel meninggalkan pabrik dan sebelum sampai ke tangan konsumen.
Triada mampu mengubah alamat dompet kripto saat Anda melakukan transfer, mengganti tautan di browser, hingga mencuri kredensial login aplikasi perpesanan dan media sosial Anda.
"Pengguna mungkin menganggap ponsel pintar mereka secara inheren lebih aman daripada PC, tetapi kenyataannya adalah malware seluler semakin aktif," komentar Kivva. "Dengan mayoritas transaksi keuangan sekarang terjadi melalui aplikasi perbankan seluler, ponsel pintar menjadi target utama bagi penjahat dunia maya."
Ia secara brutal meruntuhkan mitos keamanan toko aplikasi resmi seperti Google Play atau Apple App Store.
"Kesalahpahaman tentang perlindungan default berasal dari toko aplikasi yang diduga dikurasi... tetapi taktik rekayasa sosial dan malware modern telah mengeksploitasi keamanan palsu ini," tegasnya.
Buktinya? Kaspersky baru-baru ini menemukan SparkCat, malware pencuri tangkapan layar pertama yang berhasil lolos dari keamanan App Store Apple dan juga ditemukan di Google Play. Ini adalah bukti telak bahwa benteng pertahanan yang kita andalkan ternyata memiliki lubang menganga yang siap dieksploitasi.
Di berbagai belahan dunia, serangan ini mengambil bentuk yang berbeda. Di Turki, sebuah Trojan perbankan menyamar sebagai aplikasi nonton film gratis. Di India, Trojan RewardSteal menjebak pengguna dengan iming-iming uang.
Pesan dari laporan ini sangat jelas: di era digital, kantong celana kita adalah garis depan pertempuran. Menganggap ponsel kita aman hanya karena membelinya dari toko resmi adalah sebuah kelalaian yang bisa membuat kita kehilangansegalanya.
Angka ini bukan sekadar statistik. Ini adalah lonjakan serangan sebesar 36% dibandingkan kuartal sebelumnya, sebuah sinyal bahaya bahwa ponsel yang kita anggap aman kini telah menjadi sarang para penipu digital. Kaspersky mendeteksi lebih dari 180.000 sampel malware baru, meningkat 27%, yang menunjukkan betapa agresif dan cepatnya para penjahat ini berinovasi.
Musuh Tak Terlihat: Dari Trojan Perbankan hingga 'Hantu' di Ponsel Baru
Di balik lonjakan serangan ini, ada beberapa "aktor utama" yang beroperasi dengan sangat licik. Salah satunya adalah Trojan perbankan Mamont, sebuah malware bunglon yang menyamar sebagai aplikasi legal untuk mencuri kredensial perbankan, pesan teks, dan data pribadi Anda.Namun, yang lebih mengerikan adalah aktivitas backdoor Triada. Ini adalah "hantu" yang bahkan mungkin sudah menghuni ponsel Anda sejak pertama kali Anda membukanya dari kotak.
Laporan menyebutkan, malware ini kemungkinan dipasang oleh penyerang di suatu titik setelah ponsel meninggalkan pabrik dan sebelum sampai ke tangan konsumen.
Triada mampu mengubah alamat dompet kripto saat Anda melakukan transfer, mengganti tautan di browser, hingga mencuri kredensial login aplikasi perpesanan dan media sosial Anda.
Benteng Pertahanan yang Rapuh
Anton Kivva, Team Lead Analis Malware di Kaspersky, memberikan peringatan keras terhadap rasa aman palsu yang dimiliki banyak pengguna."Pengguna mungkin menganggap ponsel pintar mereka secara inheren lebih aman daripada PC, tetapi kenyataannya adalah malware seluler semakin aktif," komentar Kivva. "Dengan mayoritas transaksi keuangan sekarang terjadi melalui aplikasi perbankan seluler, ponsel pintar menjadi target utama bagi penjahat dunia maya."
Ia secara brutal meruntuhkan mitos keamanan toko aplikasi resmi seperti Google Play atau Apple App Store.
"Kesalahpahaman tentang perlindungan default berasal dari toko aplikasi yang diduga dikurasi... tetapi taktik rekayasa sosial dan malware modern telah mengeksploitasi keamanan palsu ini," tegasnya.
Buktinya? Kaspersky baru-baru ini menemukan SparkCat, malware pencuri tangkapan layar pertama yang berhasil lolos dari keamanan App Store Apple dan juga ditemukan di Google Play. Ini adalah bukti telak bahwa benteng pertahanan yang kita andalkan ternyata memiliki lubang menganga yang siap dieksploitasi.
Di berbagai belahan dunia, serangan ini mengambil bentuk yang berbeda. Di Turki, sebuah Trojan perbankan menyamar sebagai aplikasi nonton film gratis. Di India, Trojan RewardSteal menjebak pengguna dengan iming-iming uang.
Pesan dari laporan ini sangat jelas: di era digital, kantong celana kita adalah garis depan pertempuran. Menganggap ponsel kita aman hanya karena membelinya dari toko resmi adalah sebuah kelalaian yang bisa membuat kita kehilangansegalanya.
(dan)
Lihat Juga :