Rollercoaster Kripto: Bitcoin Justru Bangkit di Tengah Bayang-Bayang Kebijakan Trump
Rabu, 09 April 2025 - 09:03 WIB
loading...
Aset kripto seperti Bitcoin justru menunjukkan kenaikan ketika saham memerah. Foto: ist
A
A
A
JAKARTA - Pasar kripto kembali menampilkan drama menegangkan. Setelah sempat terjun bebas ke level USD74.000, Bitcoin, sang raja kripto, menunjukkan taringnya dengan melesat kembali ke area USD80.000, Selasa (8/4).
Tidak hanya Bitcoin, sejumlah altcoin utama seperti HYPE, TAO, HBAR, MKR, KAS, SUI, dan RENDER juga mengalami lonjakan harga signifikan, bahkan mencapai lebih dari 10% dalam 24 jam terakhir. Ini jadi pemandangan “hijau” yang menenangkan di tengah gejolak pasar.
Namun, di tengah tren penurunan, ada secercah harapan. Data Coingecko menunjukkan volume perdagangan mengalami peningkatan signifikan, dari USD108 miliar pada 1 April menjadi USD239 miliar pada hari ini. Sebuah indikasi bahwa minat investor terhadap kripto masih tinggi.
“Data CPI AS yang akan dirilis pada 10 April ini berpotensi memberikan angin segar bagi pasar jika kenaikan yang ada sejalan dengan proyeksi para ekonom di angka 2,5% secara tahunan. Apabila kenaikan CPI berada pada angka tersebut, hal itu akan menjadi tingkat inflasi tahunan terendah sejak September lalu. Berdasarkan survei ekonom yang dilakukan oleh Dow Jones Newswires dan The Wall Street Journal, CPI diperkirakan hanya naik 2,5% secara tahunan, turun dari 2,8% pada bulan Februari," jelas Fahmi.
Namun, Fahmi memperingatkan bahwa dampak sentimen positif ini mungkin terbatas, mengingat kekhawatiran investor terhadap potensi kenaikan inflasi di bulan April akibat kebijakan tarif impor baru yang diusulkan oleh Presiden AS, Donald Trump.
Tidak hanya Bitcoin, sejumlah altcoin utama seperti HYPE, TAO, HBAR, MKR, KAS, SUI, dan RENDER juga mengalami lonjakan harga signifikan, bahkan mencapai lebih dari 10% dalam 24 jam terakhir. Ini jadi pemandangan “hijau” yang menenangkan di tengah gejolak pasar.
Recovery Moderat di Tengah Tren Penurunan Mingguan
Meskipun terjadi pemulihan moderat, pasar kripto secara mingguan masih menunjukkan tren penurunan. Total kapitalisasi pasar saat ini berada di angka USD2,591 triliun, masih lebih rendah dibandingkan kondisi pada 1 April lalu yang mencapai USD2,766 triliun, berdasarkan data Coingecko. Ini juga jadi pengingat bahwa pasar kripto masih rentan terhadap volatilitas.Namun, di tengah tren penurunan, ada secercah harapan. Data Coingecko menunjukkan volume perdagangan mengalami peningkatan signifikan, dari USD108 miliar pada 1 April menjadi USD239 miliar pada hari ini. Sebuah indikasi bahwa minat investor terhadap kripto masih tinggi.
Optimisme Inflasi CPI: Angin Segar atau Ilusi Sesaat?
Menanggapi kondisi pasar yang bergejolak, Analis Reku, Fahmi Almuttaqin, mengungkapkan bahwa kenaikan harga kripto kemungkinan dipicu oleh meningkatnya optimisme investor terhadap rilis data inflasi CPI (Consumer Price Index) Amerika Serikat bulan Maret.“Data CPI AS yang akan dirilis pada 10 April ini berpotensi memberikan angin segar bagi pasar jika kenaikan yang ada sejalan dengan proyeksi para ekonom di angka 2,5% secara tahunan. Apabila kenaikan CPI berada pada angka tersebut, hal itu akan menjadi tingkat inflasi tahunan terendah sejak September lalu. Berdasarkan survei ekonom yang dilakukan oleh Dow Jones Newswires dan The Wall Street Journal, CPI diperkirakan hanya naik 2,5% secara tahunan, turun dari 2,8% pada bulan Februari," jelas Fahmi.
Namun, Fahmi memperingatkan bahwa dampak sentimen positif ini mungkin terbatas, mengingat kekhawatiran investor terhadap potensi kenaikan inflasi di bulan April akibat kebijakan tarif impor baru yang diusulkan oleh Presiden AS, Donald Trump.
Bayang-Bayang Kebijakan Trump: Ancaman Inflasi dan Resesi?
“Indikator Tariff Fear gauge UBS, yang mengukur seberapa besar pasar telah memperhitungkan dampak tarif impor AS, turun dari 30% pada bulan Maret menjadi hanya 11% pada bulan April. Penurunan tersebut mengindikasikan bahwa investor mungkin belum sepenuhnya memahami seberapa serius dampak kebijakan tarif baru yang ada. Ahli strategi UBS, Bhanu Baweja, memperingatkan bahwa jika kebijakan ini tetap berlaku, tarif rata-rata untuk impor AS dapat naik dari 2,5% menjadi 24%, yang dapat menyusutkan ekonomi AS sebesar 1,5% hingga 2% pada tahun ini dan mendorong inflasi tahunan hingga ke level 5%," kata Fahmi.Lihat Juga :