Defend IT360, Solusi Jitu Bagi Ancaman Keamanan Siber
Jum'at, 06 Desember 2024 - 15:49 WIB
loading...
A
A
A
“Peluang industri keamanan siber di Indonesia diperkirakan sekitar Rp23 triliun pada 2023 dan pada 2028, angkanya bisa mencapai Rp70 triliun. Kami berharap industri ini bisa digarap pelaku usaha lokal. Pemerintah terus mendorong pengembangan ekonomi digital guna meningkatkan produktivitas pelaku usaha di tanah air,” ujarnya.
Aji menjelaskan, keamanan siber menjadi salah satu pilar utama dalam upaya pengembangan ekonomi digital Indonesia. Agar pengembangan ekonomi digital bisa berhasil, maka perlu mencermati empat paradigma keamanan siber, yakni keamanan siber sebagai investasi, keamanan siber by design, paradigma keamanan siber sebagai kolaborasi semua pihak, paradigma keamanan siber berdasarkan kebijakan top down.
Pada kesempatan yang sama Wakil Ketua Bidang IIX dan Data Center Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Michael Takeuchi menambahkan, keamanan siber telah menjadi salah satu isu yang paling penting.
“Keamanan siber tidak hanya melibatkan perlindungan data pribadi, tetapi juga menjaga integritas sistem dan jaringan yang digunakan oleh perusahaan dan organisasi. Tanpa adanya keamanan yang memadai, seluruh ekosistem digital dapat runtuh, membawa dampak negatif yang luas terhadap individu, perusahaan, dan negara,” ujarnya.
Keamanan siber menjadi sangat penting karena berbagai alasan. Pertama, ancaman siber dapat merugikan bisnis secara finansial. Kedua, serangan siber dapat merusak reputasi perusahaan, terutama jika data pelanggan terekspos. Menurutnya, berbagai jenis serangan keamanan siber yang dapat mengancam keamanan informasi digital, seperti Phishing, Malware, Ransomware.
“Pengamanan terhadap data in-transfer menjadi salah satu fokus penting. Sebab data yang sedang dipindahkan rentan terhadap ancaman kejahatan siber, dan bisa mengganggu kelancaran sistem,” katanya.
Michael menambahkan, walaupun proses keamanan siber sudah digunakan, kendala yang masih sering muncul justru dari faktor SDM. “Problem seringkali muncul dari SDM-nya. Meski kita sudah pakai teknologi canggih, investasi besar perangkat firewall, antivirus, masalah sering muncul dari faktor manusia yang tidak menjalankan SOP-nya. Karena itu, pastikan bahwa implementasi SOP berjalan dengan benar, agar mendeteksi ancaman siber lebih awal,” ujarnya.
Aji menjelaskan, keamanan siber menjadi salah satu pilar utama dalam upaya pengembangan ekonomi digital Indonesia. Agar pengembangan ekonomi digital bisa berhasil, maka perlu mencermati empat paradigma keamanan siber, yakni keamanan siber sebagai investasi, keamanan siber by design, paradigma keamanan siber sebagai kolaborasi semua pihak, paradigma keamanan siber berdasarkan kebijakan top down.
Pada kesempatan yang sama Wakil Ketua Bidang IIX dan Data Center Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Michael Takeuchi menambahkan, keamanan siber telah menjadi salah satu isu yang paling penting.
“Keamanan siber tidak hanya melibatkan perlindungan data pribadi, tetapi juga menjaga integritas sistem dan jaringan yang digunakan oleh perusahaan dan organisasi. Tanpa adanya keamanan yang memadai, seluruh ekosistem digital dapat runtuh, membawa dampak negatif yang luas terhadap individu, perusahaan, dan negara,” ujarnya.
Keamanan siber menjadi sangat penting karena berbagai alasan. Pertama, ancaman siber dapat merugikan bisnis secara finansial. Kedua, serangan siber dapat merusak reputasi perusahaan, terutama jika data pelanggan terekspos. Menurutnya, berbagai jenis serangan keamanan siber yang dapat mengancam keamanan informasi digital, seperti Phishing, Malware, Ransomware.
“Pengamanan terhadap data in-transfer menjadi salah satu fokus penting. Sebab data yang sedang dipindahkan rentan terhadap ancaman kejahatan siber, dan bisa mengganggu kelancaran sistem,” katanya.
Michael menambahkan, walaupun proses keamanan siber sudah digunakan, kendala yang masih sering muncul justru dari faktor SDM. “Problem seringkali muncul dari SDM-nya. Meski kita sudah pakai teknologi canggih, investasi besar perangkat firewall, antivirus, masalah sering muncul dari faktor manusia yang tidak menjalankan SOP-nya. Karena itu, pastikan bahwa implementasi SOP berjalan dengan benar, agar mendeteksi ancaman siber lebih awal,” ujarnya.
(skr)
Lihat Juga :