Selama Hampir 40 Tahun, Pemahaman Kita tentang Uranus Ternyata Salah!

Sabtu, 16 November 2024 - 16:47 WIB
loading...
Selama Hampir 40 Tahun,...
Planet Uranus ternyata berbeda dari yang dikira sebelumnya. Foto: ist
A A A
JAKARTA - Studi baru mengungkapkan bahwa pemahaman ilmuwan tentang Uranus mungkin keliru selama hampir empat dekade atau 40 tahun.

Data dari wahana antariksa Voyager 2 yang melintasi Uranus pada 1986, yang menjadi sumber utama pengetahuan kita tentang planet es ini, kemungkinan besar dipengaruhi oleh ledakan plasma aneh dari matahari.

Medan Magnet Uranus yang Aneh

Observasi Voyager 2 menunjukkan bahwa Uranus memiliki medan magnet yang sangat tidak simetris dan tidak selaras dengan rotasi planet. Selain itu, medan magnet Uranus dipenuhi dengan elektron yang sangat energik.

Penyebabnya: Ledakan Angin Matahari

Analisis baru terhadap data Voyager 2 mengungkapkan bahwa ledakan angin matahari yang menghantam medan magnet Uranus sesaat sebelum wahana tersebut melintas kemungkinan besar menjadi penyebab pembacaan yang aneh. Dengan kata lain, pemahaman kita tentang Uranus selama ini mungkin didasarkan pada snapshot anomali, bukan sifat alami planet tersebut.

"Jika Voyager 2 tiba beberapa hari sebelumnya, ia akan mengamati magnetosfer yang sama sekali berbeda di Uranus," kata Jamie Jasinski, penulis utama studi tersebut dan fisikawan plasma ruang angkasa di Jet Propulsion Laboratory (JPL) NASA. "Wahana antariksa melihat Uranus dalam kondisi yang hanya terjadi sekitar 4% dari waktu."

Medan Magnet dan Sabuk Radiasi

Medan magnet terbentuk di sekitar planet karena pergerakan material di dalam inti cairnya, dan berfungsi sebagai perisai dari semburan plasma yang dikenal sebagai angin matahari yang diluncurkan dari matahari. Ketika radiasi partikel matahari menghantam magnetosfer planet, ia terperangkap oleh garis medan magnet dan disalurkan ke dalam kantong yang disebut sabuk radiasi.

Sabuk radiasi Uranus, bersama dengan medan magnetnya yang tidak simetris, membingungkan para ilmuwan ketika pembacaan pertama dari Voyager 2 muncul. Magnetosfer planet ini dipenuhi dengan sabuk radiasi elektron yang intensitasnya hanya kalah dari Jupiter. Namun, bagian lain dari medan tersebut kosong dari plasma, menunjukkan tidak adanya sumber yang jelas yang memasok sabuk radiasi.

Kesimpulan yang Salah tentang Bulan-bulan Uranus

Kurangnya plasma di tempat lain juga membuat para ilmuwan menyimpulkan bahwa ion air tidak diproduksi oleh lima bulan utama Uranus, empat di antaranya terbungkus es.

Analisis Ulang dan Temuan Baru

Dengan menganalisis ulang data Voyager 2 dengan mempertimbangkan ledakan angin matahari yang tercatat, para peneliti menemukan bahwa, tepat sebelum Voyager 2 melintas, angin matahari mendorong plasma keluar dari magnetosfer Uranus, membuatnya sementara berubah bentuk dan menyuntikkan elektron ke dalam sabuk radiasinya.

Hal ini mirip dengan bagaimana medan magnet Bumi menjadi bermuatan dan melengkung ketika dihantam oleh badai matahari yang intens.

"Penerbangan itu penuh dengan kejutan, dan kami mencari penjelasan atas perilaku yang tidak biasa ini," kata Linda Spilker, seorang ilmuwan penelitian senior di JPL yang terlibat dalam misi Voyager 2. "Magnetosfer yang diukur Voyager 2 hanyalah sebuah snapshot dalam waktu. Pekerjaan baru ini menjelaskan beberapa kontradiksi yang tampak, dan itu akan mengubah pandangan kita tentang Uranus sekali lagi."

Baca Juga: Ini Syarat Planet Mars Bisa Ditempati oleh Manusia

Implikasi Penting

Studi ini memiliki implikasi penting bagi pemahaman kita tentang Uranus dan bulan-bulan esnya. Kemungkinan adanya lautan tersembunyi di bawah permukaan bulan-bulan ini membuka kemungkinan adanya kehidupan di luar Bumi. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengkonfirmasi temuan ini dan mempelajari lebih lanjut tentang planet es yang misteriusini.
(dan)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Apakah Kehidupan di...
Apakah Kehidupan di Planet Mirip Bumi K2-18b Memang Ada?
Jawaban Mengapa Planet...
Jawaban Mengapa Planet Saudara Bumi Kehilangan Semua Airnya Terkuak!
Fenomena Alam Juli 2025:...
Fenomena Alam Juli 2025: Matahari Lambat Terbenam hingga Jarak Bumi Semakin Menjauh
lmuwan China Temukan...
lmuwan China Temukan Planet Bumi Super
Sesuatu yang Tersembunyi...
Sesuatu yang Tersembunyi di Pluto Akhirnya Terpecahkan
Objek Baru Berbentuk...
Objek Baru Berbentuk seperti Bola Ditemukan di Luar Angkasa
Teka-teki Cincin Bumi...
Teka-teki Cincin Bumi Berusia 1.400 di Australia Terpecahkan
6 Planet Akan Berbaris...
6 Planet Akan Berbaris Sejajar pada 25 Januari 2025
Kenapa Manusia di Bumi...
Kenapa Manusia di Bumi Bukan Planet Lain, Ilmuwan Temukan Jawabannya
Rekomendasi
Militerisasi Jepang...
Militerisasi Jepang dan Bahaya Radiasi Radio Aktif
Berlatih di Tijuana,...
Berlatih di Tijuana, Timnas Iran Dikawal 300 Pasukan Elite Meksiko
10 Ruas Jalan di Jakarta...
10 Ruas Jalan di Jakarta Ditutup saat Presiden Jerman Melintas Besok Pagi
Berita Terkini
Huawei, Oppo, vivo,...
Huawei, Oppo, vivo, Xiaomi, dan Honor Dituduh Contek Teknologi iPhone
Untuk Pertama Kalinya...
Untuk Pertama Kalinya dalam Sejarah, Vaksin Buatan AI Diuji pada Manusia
Superkomputer Prediksi...
Superkomputer Prediksi 4 Pesepak Bola yang Bersinar di Piala Dunia 2026
Fenomena Titik Dingin...
Fenomena Titik Dingin Atlantik Utara Terdeteksi, Tanda-tanda Bumi Sekarat Kian Nyata
Eropa Wajibkan Pelabelan...
Eropa Wajibkan Pelabelan Konten yang Dihasilkan AI
Adu Otak Bukan Otot:...
Adu Otak Bukan Otot: Lus Figo dan Ambisi Baru Game Mobile di Indonesia
Infografis
Berhenti selama 50 Tahun,...
Berhenti selama 50 Tahun, AS Bakal Lanjutkan Misi ke Bulan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved