Pemanasan Global, Ilmuwan Ciptakan Padi Tahan Panas dan Butuh Sedikit Air
Kamis, 21 Desember 2023 - 17:18 WIB
loading...
Para ilmuwan tengah melakukan rekayasa genetik untuk menciptakan padi tahan panas. (Foto: TCD)
A
A
A
JAKARTA - Para ilmuwan tengah melakukan rekayasa genetik untuk menciptakan padi tahan panas dan membutuhkan sedikit air. Padi jenis ini di masa mendatang akan sangat penting lantaran pemanasan global terus terjadi.
Salah satu dampak dari peningkatan suhu global adalah intrusi air laut ke daratan. Studi terbaru oleh Institute for Sustainable Food, University of Sheffield, menemukan bahwa mengurangi jumlah stomata pada padi membuatnya lebih tahan garam.
Dilansir dari TCD, Kamis (21/12/2023), stomata mengatur penyerapan karbon dioksida dan kehilangan air untuk tanaman paling penting di Bumi. Padi menyumbang 20 persen dari kalori manusia dan memerlukan 40 persen irigasi di seluruh dunia.
Para peneliti bekerja sama dengan High Agricultural Technology Research Institute di Vietnam untuk merekayasa gen EPF1 pada 72 varietas padi yang dibudidayakan secara tradisional dan padi tersebut tidak mengandung gen dari organisme lain.
Baca Juga: Tingkatkan Produksi Padi di Indonesia, UGM Kembangkan Padi ‘Amphibi’ Gamagora
"Kami akan beralih ke teknologi pengeditan gen di masa depan yang akan memungkinkan peneliti untuk mengubah tanaman tanpa meninggalkan DNA asing di tanaman pada saat proses selesai," kata penulis utama Robert Caine kepada Food Navigator.
Ide serupa semakin populer. Ilmuwan dari University of Maryland telah mengembangkan apel tahan panas dan tahan penyakit. Kemudian sebuah peternakan di Israel sedang meleburkan buah-buahan produk mereka termasuk plumeganat, aromakot, blackot, dan plum semangka, untuk bertahan dari cuaca ekstrem.
Salah satu dampak dari peningkatan suhu global adalah intrusi air laut ke daratan. Studi terbaru oleh Institute for Sustainable Food, University of Sheffield, menemukan bahwa mengurangi jumlah stomata pada padi membuatnya lebih tahan garam.
Dilansir dari TCD, Kamis (21/12/2023), stomata mengatur penyerapan karbon dioksida dan kehilangan air untuk tanaman paling penting di Bumi. Padi menyumbang 20 persen dari kalori manusia dan memerlukan 40 persen irigasi di seluruh dunia.
Para peneliti bekerja sama dengan High Agricultural Technology Research Institute di Vietnam untuk merekayasa gen EPF1 pada 72 varietas padi yang dibudidayakan secara tradisional dan padi tersebut tidak mengandung gen dari organisme lain.
Baca Juga: Tingkatkan Produksi Padi di Indonesia, UGM Kembangkan Padi ‘Amphibi’ Gamagora
"Kami akan beralih ke teknologi pengeditan gen di masa depan yang akan memungkinkan peneliti untuk mengubah tanaman tanpa meninggalkan DNA asing di tanaman pada saat proses selesai," kata penulis utama Robert Caine kepada Food Navigator.
Ide serupa semakin populer. Ilmuwan dari University of Maryland telah mengembangkan apel tahan panas dan tahan penyakit. Kemudian sebuah peternakan di Israel sedang meleburkan buah-buahan produk mereka termasuk plumeganat, aromakot, blackot, dan plum semangka, untuk bertahan dari cuaca ekstrem.
Lihat Juga :