Ini Alasan Hanya Orang Kaya dan Pejabat Tinggi Mesir Kuno yang Bisa Dimumifikasi
Senin, 23 Oktober 2023 - 20:53 WIB
loading...
A
A
A
Memang orang Mesir kuno tidak tahu bahwa mikroba itu ada, namun melalui banyak percobaan, mereka menemukan campuran dan prosedur yang tepat yang dapat mengawetkan ribuan mumi. Bahkan mumi tersebut bertahan hingga saat ini.
Sayangnya, bagaimana proses mumifikasi dilakukan sebagian besar masih menjadi misteri karena hanya sedikit yang diketahui dari sejumlah teks kuno atau papirus. Sebagian besar dari sumber non-Mesir, seperti The Histories karya Herodotus, yang menjelaskan tiga tingkat mumifikasi.
Baca juga; Penemuan Ruang Pembalseman Bawah Tanah, Ungkap Proses Rumit Membuat Mumi
Namun, para peneliti menemukan banyak sisa bejana yang digunakan para ahli pembuat mumi era Mesir kuno di Saqqara. Bejana ini masih berisi sisa bahan-bahan yang digunakan dalam proses pembalseman.
Bahkan wadah-wadah ini juga diberi label isinya bahkan ada petunjuk penggunaannya, seperti "bahan untuk kepala" atau "untuk mempercantik kulit". Para peneliti menganalisis residu kimia di dalam wadah dan kemudian membandingkan sisa molekuler dengan bahan sebenarnya yang tercantum di dalamnya.
![Ini Alasan Hanya Orang Kaya dan Pejabat Tinggi Mesir Kuno yang Bisa Dimumifikasi]()
Dari sinilah mereka mengetahui bahwa zat yang diberi label antiu, yang sebelumnya diterjemahkan sebagai mur atau kemenyan, sebenarnya adalah campuran dari banyak bahan berbeda. Campuran yang oleh perajin di Saqqara disebut antiu mengandung minyak cedar, juniper, minyak cemara, dan lemak hewani.
Sayangnya, bagaimana proses mumifikasi dilakukan sebagian besar masih menjadi misteri karena hanya sedikit yang diketahui dari sejumlah teks kuno atau papirus. Sebagian besar dari sumber non-Mesir, seperti The Histories karya Herodotus, yang menjelaskan tiga tingkat mumifikasi.
Baca juga; Penemuan Ruang Pembalseman Bawah Tanah, Ungkap Proses Rumit Membuat Mumi
Namun, para peneliti menemukan banyak sisa bejana yang digunakan para ahli pembuat mumi era Mesir kuno di Saqqara. Bejana ini masih berisi sisa bahan-bahan yang digunakan dalam proses pembalseman.
Bahkan wadah-wadah ini juga diberi label isinya bahkan ada petunjuk penggunaannya, seperti "bahan untuk kepala" atau "untuk mempercantik kulit". Para peneliti menganalisis residu kimia di dalam wadah dan kemudian membandingkan sisa molekuler dengan bahan sebenarnya yang tercantum di dalamnya.

Dari sinilah mereka mengetahui bahwa zat yang diberi label antiu, yang sebelumnya diterjemahkan sebagai mur atau kemenyan, sebenarnya adalah campuran dari banyak bahan berbeda. Campuran yang oleh perajin di Saqqara disebut antiu mengandung minyak cedar, juniper, minyak cemara, dan lemak hewani.
Lihat Juga :