Bertahan Hidup, Perusahaan Asia Pasifik Prioritaskan Modernisasi Teknologi
Rabu, 15 Juli 2020 - 21:14 WIB
loading...
A
A
A
Responden survei menyatakan, budaya perusahaan sekarang termasuk faktor-faktor seperti kolaborasi (44%), inklusivitas (42%), kemampuan beradaptasi (41%), dan transparansi (40%).
Studi ini juga membeberkan perusahaan-perusahaan yang ingin berhasil melakukan transformasi digital perlu mendukung inisiatif perubahan budaya mereka. Di samping berupaya memodernisasi infrastruktur dan arsitektur aplikasi mereka.
Dengan menggabungkan dua inisiatif tersebut, perusahaan-perusahaan di APAC dapat mengadopsi metode integrasi/penyediaan berkelanjutan, yang dianggap vital oleh 75% responden. Perusahaan juga dengan cepat mengembangkan dan menghadirkan aplikasi baru (40%).
Mereka juga sanggup merespons permintaan pelanggan dengan cepat (39%), meng-update sistem dengan efisien (39%), dan mengontrol biaya pemeliharaan atau maintenance (39%).
Para eksekutif di APAC punya gagasan yang jelas tentang di mana mereka harus berinvestasi selama 12-18 bulan ke depan dalam rangka mempertahankan momentum transformasi digital. Mereka berencana untuk berinvestasi di bidang artificial intelligence (AI) dan machine learning (40%), serta meningkatkan pengeluaran mereka untuk berinvestasi aplikasi-aplikasi bisnis berbasis cloud sebesar 8% dan tool otomatisasi proses bisnis sebesar 6%.
Penelitian ini digagas oleh Red Hat dan merupakan bagian dari studi global berjudul "Rethinking Digital". Harvard Business Review Analytic Services mensurvei 690 pembaca HBR (pembaca majalah/newsletter, pelanggan, pengguna HBR.org), di mana 143 di antaranya berasal dari Asia-Pasifik. Para responden memegang berbagai fungsi pekerjaan di banyak industri termasuk manufaktur, jasa keuangan, teknologi, dan jasa konsultasi.
Studi ini juga membeberkan perusahaan-perusahaan yang ingin berhasil melakukan transformasi digital perlu mendukung inisiatif perubahan budaya mereka. Di samping berupaya memodernisasi infrastruktur dan arsitektur aplikasi mereka.
Dengan menggabungkan dua inisiatif tersebut, perusahaan-perusahaan di APAC dapat mengadopsi metode integrasi/penyediaan berkelanjutan, yang dianggap vital oleh 75% responden. Perusahaan juga dengan cepat mengembangkan dan menghadirkan aplikasi baru (40%).
Mereka juga sanggup merespons permintaan pelanggan dengan cepat (39%), meng-update sistem dengan efisien (39%), dan mengontrol biaya pemeliharaan atau maintenance (39%).
Para eksekutif di APAC punya gagasan yang jelas tentang di mana mereka harus berinvestasi selama 12-18 bulan ke depan dalam rangka mempertahankan momentum transformasi digital. Mereka berencana untuk berinvestasi di bidang artificial intelligence (AI) dan machine learning (40%), serta meningkatkan pengeluaran mereka untuk berinvestasi aplikasi-aplikasi bisnis berbasis cloud sebesar 8% dan tool otomatisasi proses bisnis sebesar 6%.
Penelitian ini digagas oleh Red Hat dan merupakan bagian dari studi global berjudul "Rethinking Digital". Harvard Business Review Analytic Services mensurvei 690 pembaca HBR (pembaca majalah/newsletter, pelanggan, pengguna HBR.org), di mana 143 di antaranya berasal dari Asia-Pasifik. Para responden memegang berbagai fungsi pekerjaan di banyak industri termasuk manufaktur, jasa keuangan, teknologi, dan jasa konsultasi.
Lihat Juga :