Google Bard vs ChatGPT: Perang Kecerdasan Buatan di 2023!
Jum'at, 10 Februari 2023 - 07:52 WIB
loading...
A
A
A
200 Juta User dalam 2 Bulan
Yang jelas, keberadaan ChatGPT mencuri perhatian warganet. Hanya dalam 2 bulan sejak diluncurkan, pengguna ChatGPT tembus 100 juta.
Bahkan TikTok pun butuh waktu 9 bulan dan Instagram 2 tahun untuk mendapat pengguna yang sama. Sampai-sampai OpenAI merilis layanan berbayar ChatGPT Plus seharga USD20 (Rp300 ribu) per bulan untuk pelanggan di AS. Bahkan ChatGPT sudah berani menargetkan pendapatan USD200 juta (Rp3 triliun) di 2023.
Tiba-tiba Microsoft mengungkap rencana untuk menyuntik OpenAI senilai USD10 miliar (Rp151 triliun). Dan ternyata itu bukan yang pertama. Karena selama 2019-2021 Microsoft ternyata pernah beberapa kali berinvestasi di OpenAI.
Misalnya, pada 2021, Microsoft menyuntuk USD1 miliar ke OpenAI agar mereka memakai layanan cloud Microsoft Azure untuk menjalankan ChatGPT. Usut punya usut, OpenAI ternyata dijadikan Microsoft sebagai senjata untuk melawan Google. Mereka akan segera mengintegrasikan layanan ChatGPT ke mesin pencari mereka, Bing.
CEO Microsoft Satya Nadella awal pekan ini mengatakan bahwa pencarian yang ditenagai oleh kecerdasan buatan sebagai sesuatu yang revolusioner. Bahkan ini adalah perubahan teknologi terbesar yang terjadi di Microsoft selama ia menjabat sebagai CEO. "Saya tidak melihat perubahan sebesar ini sejak 2007-2008, ketika cloud/komputasi awan pertama keluar," beber Nadella kepada Media.
Google Jadi Gerah
![Google Bard vs ChatGPT: Perang Kecerdasan Buatan di 2023!]()
Tampilan jawaban dari Google Bard yang berada diatas hasil pencarian. Foto: dok Google
Hiruk pikuk soal ChatGPT ini bikin Google gerah. Banyak yang mempertanyakan langkah Google selanjutnya. Padahal, sebenarnya mereka juga sudah punya AI chatbot sendiri. Tapi, diam-diam saja.
Yang jelas, keberadaan ChatGPT mencuri perhatian warganet. Hanya dalam 2 bulan sejak diluncurkan, pengguna ChatGPT tembus 100 juta.
Bahkan TikTok pun butuh waktu 9 bulan dan Instagram 2 tahun untuk mendapat pengguna yang sama. Sampai-sampai OpenAI merilis layanan berbayar ChatGPT Plus seharga USD20 (Rp300 ribu) per bulan untuk pelanggan di AS. Bahkan ChatGPT sudah berani menargetkan pendapatan USD200 juta (Rp3 triliun) di 2023.
Tiba-tiba Microsoft mengungkap rencana untuk menyuntik OpenAI senilai USD10 miliar (Rp151 triliun). Dan ternyata itu bukan yang pertama. Karena selama 2019-2021 Microsoft ternyata pernah beberapa kali berinvestasi di OpenAI.
Misalnya, pada 2021, Microsoft menyuntuk USD1 miliar ke OpenAI agar mereka memakai layanan cloud Microsoft Azure untuk menjalankan ChatGPT. Usut punya usut, OpenAI ternyata dijadikan Microsoft sebagai senjata untuk melawan Google. Mereka akan segera mengintegrasikan layanan ChatGPT ke mesin pencari mereka, Bing.
CEO Microsoft Satya Nadella awal pekan ini mengatakan bahwa pencarian yang ditenagai oleh kecerdasan buatan sebagai sesuatu yang revolusioner. Bahkan ini adalah perubahan teknologi terbesar yang terjadi di Microsoft selama ia menjabat sebagai CEO. "Saya tidak melihat perubahan sebesar ini sejak 2007-2008, ketika cloud/komputasi awan pertama keluar," beber Nadella kepada Media.
Google Jadi Gerah

Tampilan jawaban dari Google Bard yang berada diatas hasil pencarian. Foto: dok Google
Hiruk pikuk soal ChatGPT ini bikin Google gerah. Banyak yang mempertanyakan langkah Google selanjutnya. Padahal, sebenarnya mereka juga sudah punya AI chatbot sendiri. Tapi, diam-diam saja.
Lihat Juga :