Polandia Siap Kirim Senjata Paling Berbahaya di Eropa ke Ukraina

Senin, 23 Januari 2023 - 18:58 WIB
loading...
Polandia Siap Kirim...
Tank Leopar2 senjata paling berbahaya di Eropa. FOTO/ IST
A A A
KIEV - Menteri Luar Negeri Jerman, Annalena Baerbock menegaskan bahwa pemerintahnya tidak akan pernah menghentikan Polandia jika negaranya ingin mengirim tank Leopard 2 ke Ukraina.

Pengiriman kendaraan tempur tersebut dipandang sebagai keberhasilan besar bagi Ukraina, yang menginginkan senjata berat untuk melawan agresi Rusia di negara tersebut.

BACA JUGA - Rotax Mesin 4 Tak Inovasi Iran yang Mematikan di Perang Rusia - Ukraina

“Saat ini pertanyaan seperti itu belum muncul, tapi jika ditanyakan maka kami tidak akan mencegahnya,” katanya kepada saluran LCI TV.

Tank Leopard 2 sendiri berjuluk senjata paling berbahaya di Eropa, tank ini memiliki Panjangnya hampir 11 meter, tinggi 3 meter, dan lebar 3,75 meter. Memakai mesin 12 silinder bertenaga 1.500 daya kuda.

Leopard 2, salah satu tank Jerman paling terkenal. Tank Leopard 2 gagal dibuat dalam proyek persenjataan pada era 1960-an di mana Amerika Serikat (AS) dan Republik Federal Jerman terlibat.

Sempat ada tujuh prototipe dibuat dengan nama Kampfpanzer 70. Menghabiskan biaya sebesar 830 juta mark. Bayangkan, kala itu saja sudah keluar uang setara Rp7,2 triliun.

Proyek Leopard 2 pun akhirnya dihentikan pada 1969. Lalu, AS membuat sendiri tank M1 Abrams yang dibuat berdasarakan pengalaman yang diperoleh di proyek Leopard 2.

Pada akhirnya, Jerman tetap bisa memproduksi tank Leopard 2 ini. Sejak 1979, Leopard 2 mulai menggantikan Leopard 1 di angkatan bersenjata Jerman, Bundeswehr.

Gambaran unik dari Perang Dingin ditunjukkan oleh data berikut. Pada 1990, Bundeswehr memiliki 2.125 Leopard 2.

Pada 2008 hanya 350 unit. Di masa mendatang, jumlahnya diperkirakan akan turun menjadi 225 unit saja.

Kendati di masa depan konflik akan lebih banyak dilakukan dengan serangan drone dan peretas, Leopard 2 tidak direncanakan akan dinonaktifkan hingga 2030.

Penggantinya, Main Ground Combat System (MGCS), sudah dikembangkan bersama dengan Prancis.
40 Jahre Leopard 2

Mari kita lihat lebih dekat teknologi tank Leopard 2. Tank bongsor ini memakai mesin multi-bahan bakar V12 empat langkah tipe MTU MB 873-Ka501 berpendingin air.

Kabinnya dilengkapi dengan pendingin udara dan dua tabung untuk memasok oksigen ke perangkat turbocharge.

Memiliki tenaga 1.500 dk pada putaran 2600 rpm. Kecepatan tertingginya 68 km/jam. Namun, ini disesuaikan dengan medan yang ditempuh.

Rata-rata di permukaan datar, 30 km/jam sedangkan untuk kecepatan mundur bisa mencapai 31 km/jam.

Tank Leopard 2 yang siap beraksi memiliki berat sekitar 64 ton. Tangkinya menampung 1.160 liter bahan bakar, tetapi dibatasi hanya 900 liter di masa damai.

Konsumsi bahan bakarnya 410 liter per 100 kilometer. Seperti tank tempur utama lainnya, Leopard 2 dapat melintasi perairan tanpa bantuan teknologi perintis.

Dapat melintas medan air hingga kedalaman 1,2 meter tanpa bantuan apa pun. Dengan bantuan poros bawah air, meski berada di kedalaman empat meter pun masih bisa digerakkan.

Awaknya terdiri dari empat orang. Komandan, penembak, loader (pemuat), dan pengemudi. Bundeswehr menetapkan laras meriam berukuran 120 milimeter ditambah dua senapan mesin MG3 sebagai senjata tambahan.

Ada pula sistem pembuangan asap untuk kamuflase tapi dengan alasan kerahasiaan, informasi ini sulit sekali didapatkan.

Leopard mengalami peningkatan nilai tempur beberapa kali di sektor otomotif. Dalam versi A5, lapis baja tambahan dipasang pada bagian depan menara.

Perangkat pencitraan termal terpisah untuk komandan membuatnya terpisah dari penembak.

Dengan penguat cahaya untuk pengemudi, tank ini sepenuhnya mampu melakukan pertempuran di malam hari di segala kondisi cuaca.

Untuk melindungi empat awak, Leopard 2 memiliki sistem perlindungan dari perang biologi dan kimia.
(wbs)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Ilmuwan Mengembangkan...
Ilmuwan Mengembangkan Jaket Penghasil Air dari Udara Sekitar
Perang Rusia-Ukraina...
Perang Rusia-Ukraina Memicu Perlombaan Senjata AI
NASA Temukan Sesuatu...
NASA Temukan Sesuatu yang Misterius saat Perubahan Waktu Siang ke Malam
Israel Temukan Batu...
Israel Temukan Batu Suci Berusia 2.700 Tahun yang Tertulis dalam Alkitab
Facebook Luncurkan Mode...
Facebook Luncurkan Mode Pencarian AI, Begini Cara Pakainya
NASA Temukan Planet...
NASA Temukan Planet Raksasa dengan Suhu seperti di Bumi dan Dipenuhi Gas Metana
Tiru Strategi Iran,...
Tiru Strategi Iran, Ukraina Tembakkan 323 Drone ke Wilayah Rusia pada Malam Hari
Putin: Negara-negara...
Putin: Negara-negara Barat Secara Terbuka Mengatakan Mereka Bersiap Perangi Rusia
Tegang dengan NATO,...
Tegang dengan NATO, Pesawat Pengebom Nuklir Rusia Berkeliaran di Arktik
Rekomendasi
Gilberto Mora Ukir Sejarah,...
Gilberto Mora Ukir Sejarah, Jadi Starter Termuda di Piala Dunia 2026
Eks Ketua Ombudsman...
Eks Ketua Ombudsman Hery Susanto Jalani Sidang Pembacaan Dakwaan Hari Ini
Haru, Alfatih Putra...
Haru, Alfatih Putra Mendiang Mpok Alpa Bawa Rapor ke Makam Sang Bunda Setelah Naik Kelas
Berita Terkini
Meta Menemukan Tambang...
Meta Menemukan Tambang Emas Baru
Google dan A24 Berkolaborasi...
Google dan A24 Berkolaborasi Kembangkan Teknologi AI di Industri Film
Tanda-tanda Ponsel Anda...
Tanda-tanda Ponsel Anda sedang Diawasi yang Perlu Diketahui
Ilmuwan Mengembangkan...
Ilmuwan Mengembangkan Jaket Penghasil Air dari Udara Sekitar
Gandeng PT Samafitro,...
Gandeng PT Samafitro, Hytera Perkuat Jaringan Komunikasi Profesional di Indonesia
Pergeseran domino dari...
Pergeseran domino dari Game HP Jadi Turnamen Pro Berhadiah Ratusan Juta
Infografis
10 Negara dengan Pria...
10 Negara dengan Pria Tertampan di Dunia, Siap Bikin Jatuh Hati!
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved