Melawan Algoritma Kebodohan: Jhonatan, Leni, dan Sir Pedot Buktikan TikTok Tak Sekadar Joget

Senin, 15 Desember 2025 - 10:07 WIB
Di tengah gempuran konten nirfaedah, tiga pemuda ASEAN membuktikan bahwa algoritma TikTok bisa ditekuk untuk menyelamatkan budaya dan pendidikan. Foto: ist
JAKARTA - Di tengah belantara digital yang disesaki konten nirfaedah, joget pargoy seragam, dan flexing kekayaan semu, anomali menyegarkan muncul dari rahim kolaborasi ASEAN Foundation dan TikTok LIVE.

Ketika publik mulai jenuh dengan banalitas media sosial, program ASEAN LIVE Creators for Change 2025 hadir seolah ingin membuktikan tesis baru: bahwa platform yang dituding sebagai "pembunuh durasi atensi" ini, sejatinya bisa menjadi ruang kelas raksasa dan museum hidup bagi jutaan mata di Asia Tenggara.



Director of Public Policy for Southeast Asia TikTok, Chanida Klyphun, dalam keterangannya menyebut inisiatif ini sebagai misi menghadirkan "kegembiraan dan kreativitas".

Namun, jika dibedah lebih dalam, ini adalah langkah strategis platform video pendek tersebut untuk mendiversifikasi pasar dan menciptakan ekosistem konten yang lebih "aman" bagi pengiklan dan regulator.

Seleksi Alam Digital: 20 Petarung, 3 Pemenang

Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!