Telkom siapkan Rp10 M bangun 2.000 AP di Sulsel
Rabu, 23 April 2014 - 16:44 WIB
Telkom siapkan Rp10 M bangun 2.000 AP di Sulsel
A
A
A
Sindonews.com - Tahun ini, Telkom area Sulsel akan membangun sebanyak 2.000 access point (AP) untuk mempermudah akses layanan data bagi pelanggannya yang memanfaatkan akses internet di beberapa titik space publik, baik sekolah, kampus maupun area umum lainnya.
GM Telkom Witel Sulsel, Firmansyah mengatakan, akses poin ini dibangun diseluruh wilayah Sulsel yang belum tersentuh layanan internet menggunakan kabel atau telepon. Untuk membangun 2.000 titik poin hingga akhir tahun dialokasikan anggaran Rp10 miliar dengan asumsi satu titik sebesar Rp5 juta.
"Saat ini sudah ada sekitar 200 area yang disasar dengan titik akses poin mencapai 500 AP hingga 600 AP, dari jumlah itu sekitar 10 persen menyasar perguruan tinggi dengan menyediakan layanan hotspot gratis jika berlangganan atau ada komitmen kesepakatan bersama," ujarnya Sulawesi, Rabu (23/4/2014).
Dia menjelaskan, layanan ini tentunya memberi keuntungan bagi kampus. Karena, tidak saja mahasiswa yang dapat mengaksesnya tapi juga para vendor, mitra kerja maupun tamu yang berkunjung ke kampus tersebut tanpa harus menggangu layanan internet yang ada.
Firmasyah mengatakan, saat ini baru ada empat kampus yang memanfaatkan layanan tersebut, seperti STIMIK dan UIN. Sisanya masih terkendala terkait perizinan. Hal itu dikarenakan, internal kampus merasa khawatir kehadiran layanan ini bisa menganggu akses yang ada.
Padahal, kata dia, justru semakin memperkuat jaringan bandwidth yang hotspot bisa tercover untuk mahasiswa dan bisa juga vendor dan lainnya. Apalagi, saat ini era digital yang memungkinkan seluruh masyarakat mengakses internet.
Hal tersebut sejalan dengan program edukasi yang digencarkan Telkom melalui program Tesca untuk membuat kampus tersebut semakin melek internet.
Sementara, EGM Division Solution Convergence PT Telkom Achmad Sugiarto memaparkan, tahun lalu dari kegiatan Tesca menunjukkan masih ada beberapa kampus di Indonesia belum memaksimalkan penerapan ICT.
"Pemanfaatan teknologi ICT masih rendah di perguruan tinggi, untuk itu kami terus menggenjotnya dengan menghadirkan beberapa program. Salah satunya Q-Journal untuk mengakomodir para mahasiswa menerbitkan tulisan mereka sehingga bisa dibaca semua kalangan," paparnya.
Pada tahun lalu, beber dia, dari hasil Tesca telah dilakukan pemeringkatan terhadap PT yang menerapkan ICT. Hasilnya posisi beberapa kampus di Sulawesi khususnya di Makassar masih kalah dengan kampus lainnya di pulau Jawa. Di Makassar, posisi UNHAS hanya berada diperingkat 34, UNM posisi 65 dan Universitas Negeri Gorontalo posisi 60.
GM Telkom Witel Sulsel, Firmansyah mengatakan, akses poin ini dibangun diseluruh wilayah Sulsel yang belum tersentuh layanan internet menggunakan kabel atau telepon. Untuk membangun 2.000 titik poin hingga akhir tahun dialokasikan anggaran Rp10 miliar dengan asumsi satu titik sebesar Rp5 juta.
"Saat ini sudah ada sekitar 200 area yang disasar dengan titik akses poin mencapai 500 AP hingga 600 AP, dari jumlah itu sekitar 10 persen menyasar perguruan tinggi dengan menyediakan layanan hotspot gratis jika berlangganan atau ada komitmen kesepakatan bersama," ujarnya Sulawesi, Rabu (23/4/2014).
Dia menjelaskan, layanan ini tentunya memberi keuntungan bagi kampus. Karena, tidak saja mahasiswa yang dapat mengaksesnya tapi juga para vendor, mitra kerja maupun tamu yang berkunjung ke kampus tersebut tanpa harus menggangu layanan internet yang ada.
Firmasyah mengatakan, saat ini baru ada empat kampus yang memanfaatkan layanan tersebut, seperti STIMIK dan UIN. Sisanya masih terkendala terkait perizinan. Hal itu dikarenakan, internal kampus merasa khawatir kehadiran layanan ini bisa menganggu akses yang ada.
Padahal, kata dia, justru semakin memperkuat jaringan bandwidth yang hotspot bisa tercover untuk mahasiswa dan bisa juga vendor dan lainnya. Apalagi, saat ini era digital yang memungkinkan seluruh masyarakat mengakses internet.
Hal tersebut sejalan dengan program edukasi yang digencarkan Telkom melalui program Tesca untuk membuat kampus tersebut semakin melek internet.
Sementara, EGM Division Solution Convergence PT Telkom Achmad Sugiarto memaparkan, tahun lalu dari kegiatan Tesca menunjukkan masih ada beberapa kampus di Indonesia belum memaksimalkan penerapan ICT.
"Pemanfaatan teknologi ICT masih rendah di perguruan tinggi, untuk itu kami terus menggenjotnya dengan menghadirkan beberapa program. Salah satunya Q-Journal untuk mengakomodir para mahasiswa menerbitkan tulisan mereka sehingga bisa dibaca semua kalangan," paparnya.
Pada tahun lalu, beber dia, dari hasil Tesca telah dilakukan pemeringkatan terhadap PT yang menerapkan ICT. Hasilnya posisi beberapa kampus di Sulawesi khususnya di Makassar masih kalah dengan kampus lainnya di pulau Jawa. Di Makassar, posisi UNHAS hanya berada diperingkat 34, UNM posisi 65 dan Universitas Negeri Gorontalo posisi 60.
(izz)