Ekstrak Gen-CM A dan B mampu jernihkan air waduk DKI
Sabtu, 15 Maret 2014 - 16:40 WIB
Ekstrak Gen-CM A dan B mampu jernihkan air waduk DKI
A
A
A
Sindonews.com - Kondisi air di beberapa kota besar Indonesia saat ini dalam kondisi kritis. Termasuk DKI Jakarta, yang air waduknya masuk dalam kategori kritis. Untuk membuat air di beberapa kota menjadi jernih dan bisa dikonsumsi, peneliti asal Korea Selatan (Korsel) melakukan riset terhadap air di beberapa waduk, termasuk waduk Riario, Jakarta.
Dalam kesempatan itu, mereka mencoba temuan produk penjernih air. Di mana air dalam kondisi kritis dapat dijenihkan menggunakan ekstrak Gen-CM A dan Gen-CM B.
Ekstrak ini terbuat dari bahan organik yang diambil dari lingkungan sekitar. Bahan organik tersebut kemudian difermentasikan dalam suhu ruang tertentu dan waktu yang ditentukan hingga akhirnya mendapatkan ekstrak Gen-CM A dan B yang bisa digunakan untuk menjernihkan air.
"Ekstrak ini merupakan fermentasi dari bahan limbah non chemical. Dari ekstak ini kemudian dicampurkan ke air yang keruh untuk menghasilkan air jernih," kata Vice President MT C&C Company, Byongkwan Kwon saat simulasi penjernihan air di Arthayasa Stable, Cinere, Depok, Sabtu (15/3/2014).
Untuk dapat menjernihkan satu liter air, diperlukan 0,006 Gen-CM A dalam waktu 15 menit. Air hasil penjernihan ini dapat digunakan untuk sektor pertanian dan pertambakan. Namun, untuk konsumsi air bersih diperlukan campuran ekstrak Gen-CM A dan B dalam satu liter air. Pencampuran kedua ekstrak ini bergantung pada kualitas air dan tujuan pemanfaatan.
"Sebelum dijernihkan, air yang kotor harus dinetralkan dahulu kandungan PH-nya. Kemudian diberi ekstrak dan tekanan yang tinggi. Setelah 15 menit bisa dilihat hasilnya air yang kotor menjadi jernih," jelas Kwon.
Direktut PT Pitalla Arthamaya Rafiq Radinal Mochtar selaku promotor menuturkan, secara teknis untuk mendapatkan air jenih siap konsumsi dilakukan dengan sistem yang sama dengan penjernihan biasa. Namun, untuk mengurangi bakteri dalam kandungan air, maka air yang dikonsumsi harus diberi ekstrak tiga kali lipat dari proses penjerninah biasa.
"Pemanfaatan dari proses penjernihan ini bergantung pada keperluan. Apakah akan digunakan untuk agricultur atau konsumsi air bersih," kata Rafiq.
Menariknya, proses ini mulai dari penjernihan hingga hasilnya memanfaatkan bahan alami. Bahkan, sedimen dari sisa penjernihan bisa dimanfaatkan untuk makanan ikan. "Semacam plankton. Dari proses awal hingga akhir semua bisa dimanfaatkan. Bisa dikatakan proses dan ekstrak ini ramah lingkungan," jelasnya.
Dalam kesempatan itu, mereka mencoba temuan produk penjernih air. Di mana air dalam kondisi kritis dapat dijenihkan menggunakan ekstrak Gen-CM A dan Gen-CM B.
Ekstrak ini terbuat dari bahan organik yang diambil dari lingkungan sekitar. Bahan organik tersebut kemudian difermentasikan dalam suhu ruang tertentu dan waktu yang ditentukan hingga akhirnya mendapatkan ekstrak Gen-CM A dan B yang bisa digunakan untuk menjernihkan air.
"Ekstrak ini merupakan fermentasi dari bahan limbah non chemical. Dari ekstak ini kemudian dicampurkan ke air yang keruh untuk menghasilkan air jernih," kata Vice President MT C&C Company, Byongkwan Kwon saat simulasi penjernihan air di Arthayasa Stable, Cinere, Depok, Sabtu (15/3/2014).
Untuk dapat menjernihkan satu liter air, diperlukan 0,006 Gen-CM A dalam waktu 15 menit. Air hasil penjernihan ini dapat digunakan untuk sektor pertanian dan pertambakan. Namun, untuk konsumsi air bersih diperlukan campuran ekstrak Gen-CM A dan B dalam satu liter air. Pencampuran kedua ekstrak ini bergantung pada kualitas air dan tujuan pemanfaatan.
"Sebelum dijernihkan, air yang kotor harus dinetralkan dahulu kandungan PH-nya. Kemudian diberi ekstrak dan tekanan yang tinggi. Setelah 15 menit bisa dilihat hasilnya air yang kotor menjadi jernih," jelas Kwon.
Direktut PT Pitalla Arthamaya Rafiq Radinal Mochtar selaku promotor menuturkan, secara teknis untuk mendapatkan air jenih siap konsumsi dilakukan dengan sistem yang sama dengan penjernihan biasa. Namun, untuk mengurangi bakteri dalam kandungan air, maka air yang dikonsumsi harus diberi ekstrak tiga kali lipat dari proses penjerninah biasa.
"Pemanfaatan dari proses penjernihan ini bergantung pada keperluan. Apakah akan digunakan untuk agricultur atau konsumsi air bersih," kata Rafiq.
Menariknya, proses ini mulai dari penjernihan hingga hasilnya memanfaatkan bahan alami. Bahkan, sedimen dari sisa penjernihan bisa dimanfaatkan untuk makanan ikan. "Semacam plankton. Dari proses awal hingga akhir semua bisa dimanfaatkan. Bisa dikatakan proses dan ekstrak ini ramah lingkungan," jelasnya.
(dmd)