BSSN Dorong Organisasi Tingkatkan Sistem Keamanan

Sabtu, 27 April 2019 - 12:01 WIB
BSSN Dorong Organisasi...
BSSN Dorong Organisasi Tingkatkan Sistem Keamanan
A A A
JAKARTA - Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) terus mendorong organisasi dan masyarakat meningkatkan sistem keamanan digital mereka. Apalagi, pengamanan data digital saat ini sudah menjadi tanggungjawab bersama pemerintah, organisasi pengelola data, dan masyarakat.

Direktur Proteksi Ekonomi Digital BSSN, Anton Setiawan, menjelaskan peningkatan keamanan sangat penting karena data dan informasi memegang peran vital dalam era digital saat ini. Semua proses bisnis dapat berjalan dengan efektif dan efisien dengan penggunaan teknologi informasi dan pengolahan data yang tepat.

"Jika terjadi gangguan atau peretasan maka akan mengganggu proses bisnis dan berdampak pada kerugian (organisasi dan perusahaan)," kata Anton di Jakarta, Jumat (26/4/2019).

Ponemon Institute dalam laporan Cybersecurity in Public Sector: 5 Insights You Need to Know mencatat 88% dari 244 organisasi publik yang disurvei di Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Jepang, dan Australia tahun 2018, telah melakukan tata kelola keamanan siber yang baik dengan mengikuti standar baku yang ditetapkan. Untuk Indonesia keamanan data siber dapat mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI) 27001.

Anton menjelaskan peningkatan keamanan dalam sistem dilakukan dengan membangun kesadaran di setiap level organisasi, baik yang bersifat teknis maupun manajemen. BSSN melalui Sistem Manajemen Pengamanan Informasi berusaha mendorong dan membantu organisasi untuk mencapai standar tata kelola keamanan Informasi yang baik, termasuk di dalamnya bagaimana entitas bisnis mengelola data pribadi nasabahnya, dari mulai cara mendapatkan, mengelola, menyimpan, dan pemusnahannya.

Saat ini, Kementerian Komunikasi dan Informatika sedang mendorong Rancangan Undang Undang Perlindungan Data Pribadi agar masuk dalam pembahasan di Dewan Perwakilan Rakyat dan segera dapat disahkan. BSSN melalui kegiatan Kampanye Literasi Keamanan Siber (KLiKS) juga melakukan edukasi kepada masyarakat umum.

Tahun ini, kegiatan KLiKS hadir di 12 kota di Indonesia dengan sasaran masyarakat umum seperti pelajar dan mahasiswa. KLiKS BSSN juga mengembangkan media sosial untuk berkomunikasi dan membuat seri buku digital keamanan siber yang berisi berbagai tips keamanan di dunia internet.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Information and Communication Technology (ICT) Institute, Heru Sutadi, menegaskan tidak ada sebuah sistem yang sepenuhnya aman dari gangguan keamanan siber. "Pihak yang tidak bertanggungjawab akan memanfaatkan celah keamanan sekecil apapun. Perkembangan kejahatan siber meningkat baik secara kuantitas dan kualitas," kata Heru.

Contohnya, organisasi besar seperti Facebook dan Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) pernah diretas. Tokopedia, Bukalapak, dan sejumlah bank besar di Indonesia, bahkan ritel seperti Indomaret juga mengalami hal yang sama. Di tahun politik seperti saat ini, serangan siber bahkan menyasar Komisi Pemilihan Umum (KPU). Hal ini membuat gangguan keamanan siber terhadap berbagai sektor strategis menjadi kepentingan nasional yang patut dibela.

Sejumlah perusahaan e-commerce menegaskan bahwa mereka terus melakukan peningkatan keamanan dalam sistemnya. Head of Corporate Communications Bukalapak, Intan Wibisono, menyatakan selain memperkuat keamanan sistem internal, pemberitahuan dan edukasi kepada pelanggan untuk menjalankan langkah pengamanan pribadi secara berkala terus dilakukan melalui berbagai saluran seperti email, blog Bukalapak, hingga langsung oleh layanan pelanggan.

VP of Corporate Communications Tokopedia Nuraini Razak sebelumnya memastikan akan menjaga kerahasiaan data pelanggan mereka dari berbagai upaya peretasan. Termasuk menonaktifkan akun penjual yang mencoba mempublikasikan data para pembeli.

Dalam sejumlah kesempatan, Ketua KPU, Arief Budiman, juga mengakui upaya peretasan dari berbagai negara telah mengganggu kinerja institusinya, terutama saat proses perhitungan suara. Tindakan ilegal ini harus dicegah karena dapat mengganggu legitimasi pemilu yang transparan, jujur, dan adil.
(mim)
Berita Terkait
Sejumlah Pertimbangan...
Sejumlah Pertimbangan Perluasan Monitoring Kemanan Siber di BSSN
Perkuat Ketahanan Siber,...
Perkuat Ketahanan Siber, BSSN Dorong Daerah Bentuk CSIRT
Pertama di Indonesia,...
Pertama di Indonesia, Dua Doktor Siber Ini Lulus Ujian Secara Online
Bangun Keamanan Ruang...
Bangun Keamanan Ruang Siber, Ini Upaya yang Dilakukan BSSN
Hadapi Serangan Siber...
Hadapi Serangan Siber dan Ancaman Dark Web, BSSN Gelar Pelatihan
BSSN dan TUV Rheinland...
BSSN dan TUV Rheinland Kolaborasi Tingkatkan Kesadaran Keamanan Siber
Berita Terkini
Adu Otak Bukan Otot:...
Adu Otak Bukan Otot: Lus Figo dan Ambisi Baru Game Mobile di Indonesia
9 jam yang lalu
Revolusi AI di Layar...
Revolusi AI di Layar Kaca: TV Premium LG 2026 Mengerti Logat Indonesia
10 jam yang lalu
Dari Bangkrut Saat Krisis...
Dari Bangkrut Saat Krisis 2008, MrBeast Kini Pimpin 1.000 Karyawan dan 500 Juta Pengikut
10 jam yang lalu
Saham SpaceX Ludes,...
Saham SpaceX Ludes, Rebutan Harta Karun Luar Angkasa Dimulai
10 jam yang lalu
Resmi Melantai, IPO...
Resmi Melantai, IPO SpaceX Cetak Sejarah dan Jadikan Elon Musk Triliuner Dunia Pertama
10 jam yang lalu
Kecerdasan Buatan Sedang...
Kecerdasan Buatan Sedang Mengubah Lanskap Keamanan Siber
23 jam yang lalu
Infografis
Bina Siswa Nakal di...
Bina Siswa Nakal di Barak Militer, Maarif Institut: Berpotensi Merusak Sistem Pendidikan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved