Penolakan Penggunaan Robot Pembunuh di Medan Perang Terus Disuarakan

Minggu, 17 Februari 2019 - 13:36 WIB
Penolakan Penggunaan...
Penolakan Penggunaan Robot Pembunuh di Medan Perang Terus Disuarakan
A A A
LONDON - Para ahli mendesak Robot pembunuh harus dilarang untuk mencegah mesin menyebabkan kepunahan manusia di dunia setelah kemajuan kemajuan dalam kecerdasan buatan yang memberinya lebih banyak kekuatan.

Seperti dilansir dari Daily Mail peringatan itu dibuat oleh para ilmuwan yang percaya kemajuan dalam kecerdasan buatan berarti, mesin dengan kekuatan untuk memilih dan menargetkan target tanpa input manusia akan segera dikembangkan.

Menurut mereka, robot-robot tersebut mewakili revolusi ketiga perang setelah penggunaan senjata api dan senjata nuklir. Aktivis kampanye robot pembunuh, Mary Wareham mengatakan, keamanan dan masa depan manusia di dunia bergantung pada larangan perampokan itu.

"Senjata otomatis adalah contoh negatif dari penyalahgunaan kecerdasan buatan. Ketika dibiarkan, mereka akan bertambah dan akhirnya gagal mengendalikan," katanya.

Banyak yang tampaknya mendukung larangan yang diusulkan, termasuk Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, yang menggambarkan senjata otomatis sebagai sesuatu yang kejam dan tidak dapat diterima.

Sementara itu, para aktivis mendesak Inggris untuk menandatangani perjanjian untuk melarang mesin atau robot pembunuh.

Tekanan itu dibuat setelah Menteri Pertahanan Inggris, Gavin Williams memperkenalkan rencana untuk menggunakan drone bersenjata untuk tujuan pertahanan.Menyikapi hal itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) siap menjadi tuan rumah perundingan mengenai aturan penggunaan senjata otonom alias robot.

Bahkan Elon Musk dari Tesla pada Agustus mendesak PBB untuk memberlakukan larangan global terhadap senjata otomatis sepenuhnya, menggaungkan seruan sama dari para aktivis yang telah memperingatkan bahwa mesin tersebut akan menimbulkan risiko yang sangat besar bagi penduduk sipil

(wbs)
Berita Terkait
KSTI 2025 Resmi Ditutup,...
KSTI 2025 Resmi Ditutup, 48 Peta Jalan Prioritas Riset Nasional Siap Digarap
Cetak Ahli Farmasi Baru,...
Cetak Ahli Farmasi Baru, Berbagi Inovasi Sains Diperkuat
Peneliti Virginia Temukan...
Peneliti Virginia Temukan Sumber Energi Terbarukan
Konsep Student Mobility...
Konsep Student Mobility Langkah Ilmiah Gabungkan Sains dan Budaya
Sajikan Sains dari Sudut...
Sajikan Sains dari Sudut Berbeda, SINDO Media Kunjungi Menristek
Menghapus Jejak Digital...
Menghapus Jejak Digital Ternyata Bisa Selamatkan Bumi Kita
Berita Terkini
China Ciptakan Baterai...
China Ciptakan Baterai Nuklir yang Bisa Bertahan Ribuan Tahun
4 jam yang lalu
Kontroversi Meletus...
Kontroversi Meletus antara Apple dan OpenAI, Apakah Itu?
8 jam yang lalu
Membawa Udara Bersih...
Membawa Udara Bersih ke Dalam Rumah, Bentuk Kepedulian Terbaik Saat Polusi Melanda
1 hari yang lalu
Berbasis Open Source,...
Berbasis Open Source, Equnix Dorong Ekosistem PostgreSQL
2 hari yang lalu
Membongkar Otak Rudal...
Membongkar Otak Rudal Barracuda-500M yang Supercerdas
2 hari yang lalu
Anak Muda Bingung Pilih...
Anak Muda Bingung Pilih Kripto atau Saham? Begini Kata Para Praktisi
3 hari yang lalu
Infografis
7 Perang Besar di Selat...
7 Perang Besar di Selat Malaka, dari Jalur Rempah hingga Medan Tempur Kekuatan Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved