Tujuh Belas Teknologi Pencegah Kematian Bayi Tercipta di Afrika

Minggu, 02 September 2018 - 08:02 WIB
Tujuh Belas Teknologi...
Tujuh Belas Teknologi Pencegah Kematian Bayi Tercipta di Afrika
A A A
MALI - Angka kematian bayi di seluruh dunia terus meningkat, tercatat 2,6 juta bayi meninggal sebulan usai dilahirkan, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Sebagian besar kematian bayi terjadi di negara-negara berkembang dimana layanan kesehatan kurang memadai seperti di Afrika.

Proyek NEST360deg di Rice 360730 Institute for Global Health di Houston berupaya mengurangi jumlah kematian bayi yang baru lahir di sub-Sahara Afrika. Kuncinya ialah menyediakan perangkat medis yang layak bagi rumah sakit di kawasan itu.

“Sulit sekali bekerja disana. Tapi itu juga menantang aku untuk bekerja keras menyediakan layanan kesehatan yang mudah diakses bagi mereka,” kata Sonia Sosa, seorang fellow di Rice 360730 Institute for Global Health yang bekerja magang di sebuah rumah sakit di Malawi, sepeti dikutip dari situs resmi WHO

Sosa adalah satu dari beberapa fellow kesehatan global yang sedang mengembangkan beberapa perangkat teknologi, salah satunya Incubaby.

Incubaby pada dasarnya adalah boks bayi yang hangat untuk membantu bayi-bayi paling rentan di rumah-rumah sakit di sub-Sahara Afrika, seperti Malawi.

“Bayi-bayi sangat kecil yang baru lahir kurang mendapat akses ke teknologi yang minimal sekalipun,” kata Yvette Mirabal, dari Institut Rice 360° untuk Kesehatan Global.

Tujuh belas teknologi telah diidentifikasi dan semua itu bisa membantu mengurangi penyebab utama kematian pada bayi baru lahir seperti pneumonia dan kelahiran prematur di Afrika.

“Para siswa kami mengembangkan sebuah solusi yang hanya membutuhkan biaya ratusan dolar saja, dan tidak hanya kuat dan hemat, tapi juga mudah dirawat dan diperbaiki apabila perlu,” kata Yvette

Negara-negara seperti Malawi telah menerima sumbangan perangkat medis di masa lampau, tapi tidak selalu bermanfaat, kata Jack Wang, seorang fellow Institut 360° untuk Kesehatan Global.

“Kebanyakan perangkatnya adalah sumbangan dari negara-negara maju, dan tidak cocok disana. Orang-orang menggunakannya dengan berbeda, meletakkannya di tempat yang tidak semestinya, dan kalau rusak, tidak ada suku cadang,” kata Jack.

Perangkat-perangkat itu akhirnya hanya tertimbun debu dan menjadi tidak berguna karena tidak cocok dengan lingkungannya.

Karena itu, para periset juga berupaya mengembangkan teknologi yang bisa mengawasi suhu tubuh dan tingkat pernapasan bayi sekaligus terjangkau harganya dan awet.

“Di lingkungan yang keras, aliran listrik tidak konsisten, banyak debu, dan minim perawatan serta suku cadang,” kata Jack Wang.

Dari ke-17 teknologi itu, sebagian tersedia secara komersial. Yang lainnya masih dalam tahap uji coba klinis atau prototip awal. Tujuannya adalah mengembangkan semua teknologi itu, dan meluncurkannya pertama di Malawi, dan ke negara-negara lain yang membutuhkannya.
(wbs)
Berita Terkait
Staf Ahli Mendikdasmen:...
Staf Ahli Mendikdasmen: KOSSMI 2026 Jadi Bukti Pentingnya STEM dan AI untuk Masa Depan Pendidikan Indonesia
Berebut Superpower Sains
Berebut Superpower Sains
Jokowi Akui Infrastruktur...
Jokowi Akui Infrastruktur Kesehatan dan Pendidikan Buat Daya Saing Indonesia Lemah
Sains yang Nirmakna
Sains yang Nirmakna
Jaring Talenta Bidang...
Jaring Talenta Bidang Sains, Kemendikbud Gelar Kompetisi Sains Nasional 2020
Sains, Corona, dan Agama
Sains, Corona, dan Agama
Berita Terkini
4 Teknologi Mutakhir...
4 Teknologi Mutakhir di Piala Dunia 2026, Pesepak Bola Akan Jadi Avatar
3 jam yang lalu
OpenAI Luncurkan Fitur...
OpenAI Luncurkan Fitur Penguncian Perlindungan Data untuk ChatGPT
7 jam yang lalu
Rayakan Hari Jadi ke-30,...
Rayakan Hari Jadi ke-30, Lexar Padukan Visi Teknologi AI dan Sinergi Global
11 jam yang lalu
Gerhana Matahari Total...
Gerhana Matahari Total Terlama Abad Ini Akan Segera Terjadi
14 jam yang lalu
Ilmuwan Pastikan AI...
Ilmuwan Pastikan AI Belum Bisa Kalahkan Teori Soal Iklim
17 jam yang lalu
Mantap! Telkom Bagikan...
Mantap! Telkom Bagikan Dividen Saham Rp21,9 Triliun dari Hasil Buku 2025
1 hari yang lalu
Infografis
Ranking FIFA Terbaru:...
Ranking FIFA Terbaru: Argentina Gusur Spanyol di Puncak, Indonesia Meroket 4 Tingkat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved