Industri Roket Meroket

Selasa, 26 Juni 2018 - 13:33 WIB
Industri Roket Meroket
Industri Roket Meroket
A A A
RENCANA mengirim manusia menempuh perjalanan tujuh bulan sejauh 54 juta km menuju Mars di angkasa bersuhu 100 derajat di bawah nol bukan saja tidak mungkin.

Sekarang para miliuner sedang berlomba menjadi yang pertama melakukannya. Kolonisasi Mars adalah alasan utama CEO Elon Musk mendirikan perusahaan roket SpaceX 15 tahun lalu. Musk adalah satu dari empat miliuner yang menginvestasikan sebagian besar kekayaannya untuk mewujudkan langkah eksplorasi angkasa.

Selain Musk, ada Jeff Bezos, Paul Allen, dan Richard Branson. Keempatnya telah menginspirasi miliuner lain untuk berinvestasi di industri luar angkasa. Mereka membayangkan menciptakan kesempatan bisnis di ruang angkasa, mengontrol satelit, bahkan mengirim manusia ke bulan hanya untuk kebutuhan wisata.

Sejak 2000, startup angkasa sudah menarik investasi lebih dari USD16,6 miliar. Ada lebih dari 140 perusahaan yang rata-rata bergerak di bidang satelit. Tahun lalu saja, ada USD2,8 miliar dana diberikan kepada 43 startup luar angkasa.

CEO Amazon Jeff Bezos sudah mendirikan Blue Origini 16 tahun lalu untuk merancang roket yang dapat dipakai berwisata angkasa atau menjalankan misi luar angkasa lainnya. Dia rela menjual sahamnya di Amazon senilai USD1 miliar untuk mewujudkan rencana itu.

Pendiri Microsoft, Paul Allen, lewat Stratolaunch Systems, membuat pesawat dengan bentang sayap terbesar di dunia. Tujuannya untuk mengangkut roket hingga tepian angkasa atau mengirim satelit kecil ke orbitnya.

Richard Branson sudah membuka wisata angkasa lewat Virgin Galactic yang setiap kursinya berharga USD250.000. Satu buah pesawat berisi enam orang dan dua pilot siap meroket ke luar angkasa. Musk, Bezos, Branson, dan Allen seolah menghidupkan kembali industri luar angkasa.

Dulu miliuner ogah menginvestasikan uang mereka ke industri ini, tetapi sekarang mereka berebut melakukannya. Musk mendirikan SpaceX bermodal USD100 juta dari uangnya sendiri setelah menjual PayPal.

SpaceX kini memiliki valuasi USD12 miliar dan menjalin kontrak miliaran dolar dengan NASA untuk mengirim astronot dan berbagai perlengkapan lain ke Stasiun Luar Angkasa Internasional. SpaceX juga menjalin kontrak dengan berbagai perusahaan swasta untuk meluncurkan satelit komersial.

Perusahaan Blue Origin milik Bezos sudah melakukan tes terhadap roket terbaru mereka, New Shepard, yang dapat digunakan kembali. Walau sudah sukses mengangkasa, roket tersebut belum melakukan kegiatan komersial.

Bahkan, roket terbaru yang sedang dirancang New Glenn dikabarkan lebih besar dan lebih kuat dibandingkan Falcon Heavy milik SpaceX. Falcon Heavy masih menjadi roket terbesar pada abad ini. Nama roket Bezos diinspirasi dua dari tujuh astronot NASA, yakni Alan Shepard dan John Glenn.

Pada 2015, Google dan Fidelity berinvestasi USD1 miliar di SpaceX. Walau investasi besar terus berdatangan di perusahaan-perusahaan luar angkasa itu, belum ada satu pun yang berencana melantai di bursa saham. SpaceX yang paling mungkin IPO, tapi Elon Musk tidak ingin perusahaannya itu go public.

Yang jelas, dengan teknologi saat ini, ada banyak startup yang menawarkan berbagai solusi terkait bisnis luar angkasa. Misalnya, OneWeb, yang berencana meluncurkan satelit pertama dari total 700 satelit untuk menyediakan internet kecepatan tinggi dan moda komunikasi lainnya.

Perusahaan itu didukung Richard Branson, Qualcomm, SoftBank, Airbus, dan Coca Cola. Investor mengucurkan dana USD1,2 miliar ke OneWeb pada 2016. Perusahaan lainnya, Rocket Lab, mengembangkan roket dari nol yang di desain untuk meluncur ke luar angkasa dengan biaya terjangkau.

Targetnya, dalam setahun bisa meluncurkan 50 roket. Sebagai perbandingan, selama 2016 ada 22 peluncuran roket di Amerika dan 82 secara global. Startup lainnya adalah Planet yang membuat satelit kecil. Saat ini ada 100 satelit buatan mereka yang mengorbit.

Beberapa ada yang begitu kecil hingga seukuran kotak sepatu. Planet Labs dapat memotret seluruh bumi dalam waktu 24 jam, menyediakan data yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah komersial, lingkungan, dan kemanusiaan. (Danang Arradian)
(nfl)
Berita Terkait
Uji Coba Taksi tanpa...
Uji Coba Taksi tanpa Sopir di Tiongkok
VIDA Luncurkan Teknologi...
VIDA Luncurkan Teknologi Autentifikasi untuk Cegah Penipuan Ambil Alih Akun
MariaDB Perkuat Kehadiran...
MariaDB Perkuat Kehadiran di Indonesia, Gandeng Wahana Piranti Teknologi
Kolaborasi DTI dan Singapura,...
Kolaborasi DTI dan Singapura, Yudhistira Siap Jadi Hub AI Regional
Inovasi Digital Generasi...
Inovasi Digital Generasi Muda di Hacking Day
PT Yonyou Network Indonesia...
PT Yonyou Network Indonesia Dorong Implementasi AI di Dunia Usaha Lewat Customer Connect 2026
Berita Terkini
Nvidia RTX Spark: Superkomputer...
Nvidia RTX Spark: Superkomputer Kemasan Sachet, Bikin Intel dan AMD Keringat Dingin
1 jam yang lalu
Korea Selatan Kembangkan...
Korea Selatan Kembangkan Teknologi Mesin Metana untuk Roket Luar Angkasa
2 jam yang lalu
Meta Luncurkan Agen...
Meta Luncurkan Agen Bisnis di WhatsApp, Instagram, dan Messenger
6 jam yang lalu
Heboh Grab Dikabarkan...
Heboh Grab Dikabarkan Kabur Gara-Gara Aturan Baru, CEO Neneng Buka Suara
6 jam yang lalu
Ambisi Gila IPO SpaceX:...
Ambisi Gila IPO SpaceX: Kejar Rp1.350 Triliun dalam Semalam
8 jam yang lalu
Mengapa Indonesia Mendadak...
Mengapa Indonesia Mendadak Jadi Kiblat Baru ChatGPT Images 2.0?
8 jam yang lalu
Infografis
Spesifikasi Roket Katyusha...
Spesifikasi Roket Katyusha Hizbullah yang Serang Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved