Sidik Jari Kini Bisa Deteksi Kanker dan Diabetes

Kamis, 15 Februari 2018 - 06:04 WIB
Sidik Jari Kini Bisa...
Sidik Jari Kini Bisa Deteksi Kanker dan Diabetes
A A A
JAKARTA - Fingerprint atau Sidik jari, yang telah lama digunakan untuk mengungkap kejahatan, kini sidik jari juga bisa menditeksi penyakit kanker, diabetes dan asma.

Menurut tim Henry Kahn dari pusat pengendalian dan pencegahan penyakit di Atlanta, bahwa ditilik dari perbedaan kisut jari kelingking dan ibu jari, semestinya bisa diketahui sejumlah organ embrio bayi dalam induknya saat itu.

Hal yang bisa diketahui misalnya kondisi pertumbuhan pancreas, bahkan bisa diketahui kemungkinan apakah sang anak mengidap penyakit diabetes atau tidak setelah dilahirkan.

Di pusat penelitian sidik jari, melihat jumlah ridges adalah sebuah cara untuk memperoleh informasi kuantitatif, Whorls yang besar (garis tangan berbentuk kisaran) umumnya memiliki jumlah ridges yang lebih tinggi.

Hasil penelitian Kahn terhadap 569 sidik jari orang Belanda menunjukkan, bahwa perbedaan angka ridges antara jari kelingking dan ibu jari atau jempol orang normal adalah 6.4, sedangkan perbedaan angka penderita diabetes adalah lebih tinggi yaitu 8.3.

Kahn melaporkan hasil penelitiannya dalam forum tentang perkembangan penyakit dan kesehatan jiwa yang diadakan di Toronto pada awal Oktober beberapa tahun silam.

Hasil penelitian itu dianggap dapat membantu memahami kondisi pertumbuhan awal embrio dalam induknya, ia yakin bahwa disaat sejumlah faktor informasi mempengaruhi pertumbuhan organ, hal itu semestinya juga mempengaruhi pembentukan sidik jari.

Tetapi, mereka mendapati, bahwa musim hamil sang ibu juga berpengaruh terhadap sidik jari.

Anak normal dan penderita diabetes yang dikandung ibu pada musim dingin kala itu, selisih sidik jarinya lebih kecil dibanding orang yang mengandungi bayi pada musim panas.

Selain itu, ketika sejumlah orang belum lahir saat itu, sang ibu tengah berada dalam bencana kelaparan di Belanda antara tahun 1944-1945, perbedaan musiman pada sidik jari orang-orang ini ternyata sudah lenyap.

Karena itu Kahn percaya, bahwa faktor makanan, lingkungan dan beban ibu serta sejumlah faktor lainnya, semua itu mungkin mempengaruhi pembentukan sidik jari.

Menurut psikolog dari Inggris yakni John Manning, informasi sidik jari terlampau padat, masih sulit diketahui sebenarnya benda apa yang menentukan mereka.

Namun, ia juga menganggap bahwa sejumlah faktor informasi, mungkin menimbulkan efek di dalamnya, disamping itu semestinya juga mempertimbangkan pengaruh hormon.
(wbs)
Berita Terkait
Staf Ahli Mendikdasmen:...
Staf Ahli Mendikdasmen: KOSSMI 2026 Jadi Bukti Pentingnya STEM dan AI untuk Masa Depan Pendidikan Indonesia
Berebut Superpower Sains
Berebut Superpower Sains
Jokowi Akui Infrastruktur...
Jokowi Akui Infrastruktur Kesehatan dan Pendidikan Buat Daya Saing Indonesia Lemah
Sains yang Nirmakna
Sains yang Nirmakna
Jaring Talenta Bidang...
Jaring Talenta Bidang Sains, Kemendikbud Gelar Kompetisi Sains Nasional 2020
Sains, Wabah dan Agama
Sains, Wabah dan Agama
Berita Terkini
Iran Berniat Kembangan...
Iran Berniat Kembangan Rudal Balistik Antarbenua biar Tambah Menakutkan
2 jam yang lalu
Bangun Kedaulatan Digital,...
Bangun Kedaulatan Digital, Telkom Pertemukan Regulator dan Pemain Industri
3 jam yang lalu
Kehilangan Kendali,...
Kehilangan Kendali, Anthropic Usulkan Hentikan Sementara Pengembangan AI
3 jam yang lalu
Respons Permintaan Tinggi,...
Respons Permintaan Tinggi, Telkom Akselerasi Ekspansi Kapasitas NeutraDC Batam
3 jam yang lalu
Luncurkan AIcosystem,...
Luncurkan AIcosystem, Telkom Siap Garap Peluang AI di Berbagai Sektor Industri
4 jam yang lalu
Jalan Pintas Nostalgia:...
Jalan Pintas Nostalgia: Ragnarok Buka Server EDDGA, Naik Level Kini Sekejap Mata
5 jam yang lalu
Infografis
Trade Misinvoicing dan...
Trade Misinvoicing dan Upaya Penguatan Integritas Perdagangan Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved