Drone Buatan Ongen Akan Digunakan Jaga Perbatasan dan Natuna
Senin, 28 Maret 2016 - 14:38 WIB
Drone Buatan Ongen Akan Digunakan Jaga Perbatasan dan Natuna
A
A
A
JAKARTA - Drone ciptaan Yulian Paonganan alias Ongen pesanan Kementerian Pertahanan (Kemhan) kini dalam proses akhir. Drone ini akan digunakan untuk menjaga wilayah perbatasan dan Natuna.
Staf Ongen, Adhitya Anantaka mengatakan, sebentar lagi akan diserahkan ke Kemenhan. "Sudah 95% pengerjaan, sebentar lagi kami akan serahkan ke Kemenhan," ujarnya, kepada wartawan, Senin (28/3/2016).
Sebelum diserahkan, Adhit biasa disapa menuturkan, pihaknya akan melakukan uji sistem internal terlebih dahulu untuk memastikan drone yang akan diserahkan sempurna. "Uji sistem internal kami lakukan, sehingga pada saat uji sistem yang dilakukan oleh pihak Kemenhan bisa berjalan maksimal," jelasnya.
Ditanya mengenai koordinasi dengan Ongen yang kini berada ditahanan terkait tuduhan melanggar UU Pornografi dan UU ITE, Adhit menyatakan, koordinasi tetap dilakukan. Berbagai arahan diberikan Pak Ongen kepada tim di saat jam besuk.
"Pada saat hari besuk kita hadir untuk mendapat arahan. Ini dilakukan terus agar proses produksi bisa sempurna. Dia tetap bertangung jawab, karena hasilnya ini agar bisa menjadi kebanggaan untuk bangsa Indonesia," tegasnya.
Dari tiga unit drone yang menjadi pesanan Kemenhan, Adhit menyebutkan hampir semuanya sudah dalam proses finishing. "Untuk perbatasan dan Natuna hampir bisa dipastikan sudah proses akhir. Doakan semunya berjalan maksimal," kata Adhit.
Diketahui, Drone yang diciptakan Ongen setelah melakukan riset selama hampir 2,5 tahun ini memiliki spesifikasi yang terbilang canggih. Selain bisa terbang dan mendarat di air, Drone ini memiliki daya jelajah yang cukup luas.
Adhit menuturkan, drone buatan Ongen yang bakal digunakan untuk pengawasan perbatasan darat memiliki dimensi wing spans (bentang sayap) 4,2 meter, sedangkan drone yang bakal dipakai untuk kawasan ZEE Natuna ukurannya lebih besar, yakni memiliki wing spans 6,4 meter.
“Setiap unit terdiri atas satu mobile GCS (Ground Control Station) dan dua set pesawat. Mobile GCS untuk drone perbatasan berupa truck box yang dilengkapi perangkat system control monitor, sedangkan mobile GCS untuk drone pengawasan ZEE Natuna berupa kapal karena akan lebih banyak dioperasikan di laut,” papar Adhit.
Staf Ongen, Adhitya Anantaka mengatakan, sebentar lagi akan diserahkan ke Kemenhan. "Sudah 95% pengerjaan, sebentar lagi kami akan serahkan ke Kemenhan," ujarnya, kepada wartawan, Senin (28/3/2016).
Sebelum diserahkan, Adhit biasa disapa menuturkan, pihaknya akan melakukan uji sistem internal terlebih dahulu untuk memastikan drone yang akan diserahkan sempurna. "Uji sistem internal kami lakukan, sehingga pada saat uji sistem yang dilakukan oleh pihak Kemenhan bisa berjalan maksimal," jelasnya.
Ditanya mengenai koordinasi dengan Ongen yang kini berada ditahanan terkait tuduhan melanggar UU Pornografi dan UU ITE, Adhit menyatakan, koordinasi tetap dilakukan. Berbagai arahan diberikan Pak Ongen kepada tim di saat jam besuk.
"Pada saat hari besuk kita hadir untuk mendapat arahan. Ini dilakukan terus agar proses produksi bisa sempurna. Dia tetap bertangung jawab, karena hasilnya ini agar bisa menjadi kebanggaan untuk bangsa Indonesia," tegasnya.
Dari tiga unit drone yang menjadi pesanan Kemenhan, Adhit menyebutkan hampir semuanya sudah dalam proses finishing. "Untuk perbatasan dan Natuna hampir bisa dipastikan sudah proses akhir. Doakan semunya berjalan maksimal," kata Adhit.
Diketahui, Drone yang diciptakan Ongen setelah melakukan riset selama hampir 2,5 tahun ini memiliki spesifikasi yang terbilang canggih. Selain bisa terbang dan mendarat di air, Drone ini memiliki daya jelajah yang cukup luas.
Adhit menuturkan, drone buatan Ongen yang bakal digunakan untuk pengawasan perbatasan darat memiliki dimensi wing spans (bentang sayap) 4,2 meter, sedangkan drone yang bakal dipakai untuk kawasan ZEE Natuna ukurannya lebih besar, yakni memiliki wing spans 6,4 meter.
“Setiap unit terdiri atas satu mobile GCS (Ground Control Station) dan dua set pesawat. Mobile GCS untuk drone perbatasan berupa truck box yang dilengkapi perangkat system control monitor, sedangkan mobile GCS untuk drone pengawasan ZEE Natuna berupa kapal karena akan lebih banyak dioperasikan di laut,” papar Adhit.
(dmd)